Fumiya, R. 🌾 retweeted
Walaupun di antaranya tidak ada ikatan darah, namun pertanyaan yang barusan ia utarakan menggerakkan sesuatu di lubuk hatinya yang terdalam, sesuatu yang begitu lama tidak ia sadari. Tatapan matanya kembali melembut. Benar, ini adalah 𝑅𝑢𝑓𝑢𝑠. Hanya dia dan bukan d̲i̲a̲.
Fumiya, R. 🌾 retweeted
Sebelah lengannya perlahan menyelip lepas dari gendongannya untuk meraih sesuatu dari dalam sakunya. Dengan cekatan, ia membuka penutup botol kecil yang diambilnya lalu mengambil sebuah permen dan menyuapi putranya dengan itu.
“Ini, makanlah Rufus. Agar kamu merasa lebih baik.”
Fumiya, R. 🌾 retweeted
mengenali tanda-tanda cedera dan atau luka yang mungkin sebelumnya luput dari pengawasannya. Mungkin akan diperlukan pemeriksaan lanjutan setelah ini, setelah semua kecamuk dalam dirinya mereda.
“Rufus? Kamu malah rebahan di tanah. Ingatanmu sudah kembali sepenuhnya, nak?”
Fumiya, R. 🌾 retweeted
mari kita kembali pada tempat peristirahatan masing-masing untuk mengistirahatkan tenaga dan pikiran.
Selamat malam warga Hymeria, sampai esok!
Fumiya, R. 🌾 retweeted
Kini sepi kembali menemukan tempatnya dalam relung pikiran para pengurus: Misha, Sluad, dan Gevrain ketika Sluad yang tengah membopong kedua anak itu ke balai desa. Semua kelak akan ada waktunya. Untuk sekarang,
Fumiya, R. 🌾 retweeted
tiada lagi hal-hal yang membingungkan/menyakiti hati mereka. Namun begitu, dengan ditemukannya Rufus dan Sabby tidak lantas membuat misteri malam ini berakhir begitu saja. Selintas pertanyaan pun menggema: Akankah Rufus dan Sabby terus menjadi anak kecil?
Fumiya, R. 🌾 retweeted
Di bawah semburat debu bintang yang mewarnai langit malam, kedua insan cilik itu akhirnya ditemukan. Tertidur lelap dalam pengaruh sedasi, jauh dari alam sadar dan segala hal buruk yang terjadi di dalamnya. Dalam senyap dan kegelapan inilah mereka merengkuh damai,
Fumiya, R. 🌾 retweeted
⠀ ⠀ “Nggak laper kok! Kami juga nggak capek! Memangnya Pak Dokter kira kami anak kecil yang mudah dibujuk?!”
Lihat, aku bisa berdiri dengan kedua kakiku sendiri! Teman baruku juga dengan sigap dan bagai tak gentar menghadapi Pak Dokter.
Fumiya, R. 🌾 retweeted
Apa dia pikir aku akan percaya begitu saja? Tidak, tidak, 𝑻𝑰𝑫𝑨𝑲.ᐟ Aku menggeleng dengan keras kepala. Diajak bicara seperti itu, rasa takut dan panik melebur menjadi amarah sesaat. Dari balik Rufus, aku berseru,
Fumiya, R. 🌾 retweeted
Replying to @hymn_gevrain
Apa ini . . . ? Mengapa lagaknya seperti orang berhati mulia? Ia benar orang yang kukenal, ‘kan? Benar-benar Pak Dokter yang 𝑖𝑡𝑢, ‘kan? Seenaknya saja membujuk seolah kami—aku anak kecil yang tak tahu apa-apa. Apa dia pikir aku tak tahu siapa dia?
Fumiya, R. 🌾 retweeted
balik punggung Rufus yang sesungguhnya tidak begitu jauh tinggi dariku, tidak mau bertemu pandang dengan dokter itu.
⠀ ⠀ “R—Rufus . . . Takut . . .” Semakin mengkeret saja aku di balik tubuh Rufus. @hymn_gevrain
Fumiya, R. 🌾 retweeted
hanya sedikit memar di pergelangan kaki usai terjatuh tadi. Itu pun kukira sudah membaik, tetapi tiba-tiba mulai terasa sakit lagi. Nyut, nyut, nyut, begitu! Jemariku menggenggam erat ujung pakaian Rufus hingga buku jariku memutih. Aku bergeser perlahan, berusaha sembunyi di
Fumiya, R. 🌾 retweeted
Replying to @hymn_rufus
. . . Aku tidak mau melihat wajahnya.
Gemetar . . . seluruh tubuhku gemetar tanpa bisa kukendalikan. Melihat Pak Dokter di sana membuat rasa sakit tanpa diundang menjalar bebas dari ujung kaki hingga ubun-ubun. Padahal aku tidak terluka parah. Satu-satunya cedera yang kudapat










