
@gojiajan | i hope life treats you well
Joined October 2016
- Tweets19.8K
- Following3K
- Followers9.4K
- Likes23.6K
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : bit.ly/MKBraceletby82
🔗 FORM CICILAN : bit.ly/CicilBrcltMK82
📢 details about order on the gform!
Jia 지아 retweeted
ditempatku dipanggil pecil aka 'perawat kecil'. terus parahnya para perawat senior dan karu lebih suka memperbudak koas drpd pecil 😭 smpe" pecil tuh kurang ajar gitu ke kami" yg koas
"eh koas udah tensinya? mana coba lihat" ANZENG 😭🤣😭🤣
Jia 지아 retweeted
gue sakit hatinya jadi koas tuh
mau nolongin partus tapi gaboleh ngambil handscoen di vk, katanya jgn ambil banyak-banyak nanti cepat habis
kayak anjeng, gue koas juga bayar ya, masa handscoen aja pelit bgt
Replying to @sherinuull
Lebih keset koas
Entah ya pas dulu juga perawat sama bidan tuh gw ngerasanya “mumpung belum jadi dokter mending gw kerjain sekarang” literally ngajak ribut banget bidan sama perawat ini, koas masa disuruh ganti sprei, beberes kamer. Akhirnya dilaporin, mampus noh 🤣
Jia 지아 retweeted
max about the car: “i would always say ‘design whatever is quickest and i’ll adapt to whatever is quickest’ normally. that’s how i see it with the car aerodynamically and stuff like that, like whenever you put upgrades on the car.
you need to design whatever’s quickest and i’ll adapt to it.”
Jia 지아 retweeted
Ada yang mau join? Ini redi ina yak, alasan dijual karena ini barang buat jualan....
Album Mark the firstfruit, album haechan taste, album nct, slogan, pc,... ada ...
Konon katanya mau jual pc markhyuck juga👀
Please rameinn🥹🙏
Ada go line dom bekasi
Jia 지아 retweeted
As if he's going through his 3rd divorce, just lost custody of all his kids, and the rent is overdue.
‼️LAST DAY TO JOIN THE PREORDER
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : bit.ly/MKBraceletby82
🔗 FORM CICILAN : bit.ly/CicilBrcltMK82
📢 details about order on the gform!
#wts
yuuuuk ikut po bracelet mark!! bentar lagi tutup looh >__<
teapaw.org/8299MHz/status/2045762…
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : bit.ly/MKBraceletby82
🔗 FORM CICILAN : bit.ly/CicilBrcltMK82
📢 details about order on the gform!
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : bit.ly/MKBraceletby82
🔗 FORM CICILAN : bit.ly/CicilBrcltMK82
📢 details about order on the gform!
SEMINGGU LAGI CLOSEEEEEEEE!!!!!!!
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : bit.ly/MKBraceletby82
🔗 FORM CICILAN : bit.ly/CicilBrcltMK82
📢 details about order on the gform!
hi tmeen2!! ☺️ aq bkin aplikasi grammar corrector yang 1000% gratis, unlimited & suprot 180+ bahasa di dunia 😭
cocok bnget bwt tmen2 #zonauang yg punya cust luar atau siapapun yg suka raguu klau mau nulis ssuatu dalam bahasa asingg,, 🤗🫰🏻
project lama yg hidup kembali ,,😭🫰🏻🫰🏻
Jia 지아 retweeted
Kartinian should never be celebrated with lomba memasak atau lomba apapun yang berhubungan dengan pekerjaan domestik… Kartinian itu diselebrasi dengan elu-elu pada (perempuan) hak-haknya didenger, marahnya divalidasi, upahnya dinaikkin, dan bebannya dikurangin. THAT IS KARTINIAN
Jia 지아 retweeted
Kartini was so hated during her era thats why perjuangan beliau direduksi dengan mendomestifikasi figurnya pada hari ulang tahunnya. Bener-bener cara paling brengsek rezim ini menindas perempuan
Jia 지아 retweeted
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Merayakan Kartini Secara Radikal
Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran.
Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan.
Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi.
Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT).
Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.
"Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu."
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30).
Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan.
"Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya."
(12 Januari 1900, HGTT, 2009:34).
Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan.
"Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas."
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29).
Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran.
"...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.."
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31).
"Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?"
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31).
Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya.
Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.
Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung? Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri?
Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”.
Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan.
---
Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
(Link artikel lengkap di utas berikutnya)





























