Masayoshi Son of SoftBank Group Corp. chose locations in Malaysia for $50 billion in technology investments, the country’s prime minister said, an outlay that would accelerate the billionaire’s global bet on AI infrastructure. bloomberg.com/news/articles/…
purbaya cerita prabowo kalo terima laporan jelek itu langsung tidak suka
tiap dia laporan ke prabowo ada yang jelek atau hal yang tidak bagus katanya prabowo langsung marah
dia menduga kawan kawan kabinet daripada takut di marahin mening kasih laporan bagus semua
Do you really think SG gives a flying fuck about some price increase threats?
Unlike us, they embrace the free market, is adaptive/agile, and always prepared for any shocks.
Thats why they are thriving, and we are heading to standalone.
Sok keras banget ini negara standalone. The idiotic thought we are self-sustaining is the stupidest take ever. We don’t have any leverage over them, they are much more capable and competent than we could ever be
I have been seeing lots of these fucking dumbass ‘nationalistic’ narratives.
Trust me, mau yang punya orang SG or Indo ga bakal bikin rakyat sejahtera.
If you really want society to prosper, embrace free market capitalism. Want to grow anything? Competition is the only way
BIG BREAKING NEWS
EKS MENDAG BILANG HAJI ISAM MELAKUKAN AKUSISI BYAN ADALAH MEREBUT KEMBALI KEKAYAAN YANG SELAMA INI DI BAWA KE SINGAPURA
anaknya pengusaha byan baru menyumbang 101 juta dolar singapura untuk beasiswa dan pendidikan di singapura
dia bertanya, kekayaan alam indonesia untuk menyejahterakan indonesia atau bangsa asing
dia menyebut low tuck kwong, warga singapura yang pada 1992 melepas paspor singapura untuk jadi pemegang paspor indonesia
pertanyaannya, orang singapura macam apa yang mau turun dari paspor peringkat satu ke paspor kita
jawabannya satu: serakah, supaya bisa menguasai izin konsesi tambang batu bara raksasa di kalimantan yang hanya boleh dimiliki warga negara indonesia secara mutlak
Indonesian President Prabowo Subianto has a message for global index provider MSCI: Indonesia "is not afraid of anyone."
His comments came days after MSCI said it was considering moving the country down from emerging-market to standalone status, sending its stocks tumbling. Full story: bloom.bg/4itxJAl
📷: Dimas Ardian/Bloomberg
Ngerti ga sih the downgrade is due to FEAR?
Whats the profit motive for MSCI or George Soros or literally anyone to attack Indonesia?
This country is IRRELEVANT in the international stage
A prime example to understand how inferior SOEs are is observing the competition between XL and TSEL.
XL have exemplified innovation and ways of doing business that shapes the ID telco industry, meanwhile TSEL cant even follow. The product and experience of XL is far superior.
Sekilas cuplikan, 2 tahun pertama kerja nyata untuk negeri !! 🇮🇩
Dalam 2 tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, berbagai program prioritas dan pembangunan terus berjalan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di seluruh penjuru negeri.
2 tahun pertama telah dilalui, kerja nyata dan pengabdian terus berlanjut untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
--TIW--
#CatatanSeskab
Singapore’s government issued notices to three more Indonesian firms suspected to be linked to haze-creating fires, as it steps up action to combat its worst air pollution in more than a decade bloomberg.com/news/articles/…
This mf really thought he made a great point 😂
The plantations are located in Indo, they adhere to ID laws. Why is ID Govt not scrutinizing the companies? Thats right because the local govt, central govt, lawmakers, law enforcers all enjoy bribes
Are we really blaming and asking Singapore govt to fix problems that are happening on ID soil?
I know you know that our govt, legal system, and law enforcement is dysfunctional, but gaslighting neighboring countries to fixing our problems is dumb as fuck.
Malu bro
Menerima penghargaan The Freedom of the City of London.
Di Guildhall, London, balai kota yang berdiri sejak abad ke-15, ada sebuah ruangan tempat satu tradisi dijalankan selama ratusan tahun. Di ruangan itu, siang kemarin, penghargaan Freedom of the City of London kami terima. Alhamdulillah.
Prosesinya khidmat. Tidak ada kamera yg boleh menyala sampai seluruh rangkaian selesai. Hanya ada deklarasi yg dibacakan dengan kata2 yg sama seperti ratusan tahun lalu, sebuah buku besar untuk ditandatangani, jabat tangan, diakhiri satu kalimat sambutan: “a Citizen of London.”
Penganugerahaan Freedom of the City of London adalah salah satu tradisi sipil tertua di dunia. Tercatat sejak 1237, awalnya ia menandai status warga merdeka yg berhak berdagang di kota London. Kini ia diberikan kepada mereka yg dinilai berkontribusi bagi kehidupan publik. Dalam daftar panjang penerimanya ada Winston Churchill, Nelson Mandela, Desmond Tutu, Lee Kuan Yew, Stephen Hawking, J.K. Rowling, Tim Berners-Lee, Harry Kane, Andrew Lloyd Webber, dan banyak lainnya.
Nominasi bagi kami datang dari Lord Mayor of London Alastair King dan Alderman Gregory Jones. Upacara dimpimpin The City Remembrancer selaku kepala protokol. Alderman Vincent Keaveny, Lord Mayor 2021-2022, berdiri di samping mendampingi sepanjang upacara. Fery ikut hadir menyaksikan prosesi yg amat khidmat itu.
Kami sadar, yg dibawa masuk ke ruangan itu bukan nama satu orang, melainkan kerja2 kami sebelumnya, terutama saat diberi amanah di Jakarta. London memberi pengakuan terhadap kerja bersama itu, maka penghargaan ini pun kami dedikasikan menjadi milik bersama.
Dalam sambutan singkat, satu pesan disampaikan, kami ini ingin penghargaan ini diperlakukan sebagai pintu, bukan piala. Semoga lewat pintu ini makin banyak walikota, insinyur, guru, dan anak muda Indonesia yg belajar ke London, dan London juga datang belajar ke kota2 kita.
Kami menutup sambutan singkat di Guildhall kemarin dgn satu kata bahasa Indonesia. Kata yg diteriakkan bangsa ini pada 1945, dan masih diteriakkan setiap kali kita berbahagia. Kata yg dalam bahasa Inggris berarti freedom.
Merdeka!
Terima kasih, London. Sampai jumpa di Jakarta.
ALT Anies Baswedan berdiri di aula Guildhall, London, tersenyum sambil memegang bingkai panjang berisi sertifikat Freedom of the City of London. Sertifikat itu bertulisan kaligrafi dengan segel merah. Di belakangnya tampak langit-langit lengkung batu, jendela-jendela tinggi, dan lampu gantung bercahaya jingga.
ALT Anies Baswedan dan Fery Farhati berdiri berdampingan di depan dinding batu bangunan Guildhall, London. Keduanya tersenyum ke arah kamera. Di sebelah kanan mereka terpasang papan hitam bertuliskan "Guildhall, City of London, 71 Basinghall Street" dengan lambang City of London berupa perisai salib merah. Anies mengenakan setelan jas biru tua, sedangkan Fery Farhati mengenakan busana dan kerudung putih dengan selendang batik cokelat.
ALT Anies Baswedan berdiri di antara dua pejabat City of London. Satu mengenakan jubah merah bertepi bulu, satu lagi bergaun hitam dengan wig putih. Ketiganya memegang sertifikat Freedom berbingkai di depan dinding yang dipenuhi bingkai dokumen bersejarah.
ALT Anies Baswedan dan Fery Farhati berdiri berdampingan sambil memegang sertifikat Freedom of the City of London di aula Guildhall yang beralas karpet merah. Fery Farhati mengenakan busana dan kerudung putih dengan selendang batik cokelat. Di belakang mereka tampak jendela tinggi dan lampu gantung.