Feminist mana suaranya.
Agama jadi prasmanan doang ah. Gk konsisten
diduga bahwa pengurus ma'had atau santriwati terlibat dalam pembakaran warung babi di Sukoharjo, sebuah pondok pesantren hamalatul quran di sukoharjo di grebek polisi pada jam 03.20 dinihari.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan bukti keterlibatan mereka sehingga seluruh ustadzah dan santriwati dipulangkan. Meski demikian, barang-barang inventaris ma'had dan milik pribadi, seperti uang, kendaraan, emas, tabungan, komputer, dan HP, dengan total nilai sekitar Rp50 juta, belum dikembalikan. Hingga berita ini ditulis, pengurus maupun pemilik barang juga belum menerima surat penyitaan.
baca kronologinya ga tega banget😭😭
Dulu dukung FPI dibubarkan tapi kalau butuh malah bisanya menyuruh aja
Dasar munafik
Buat warga yang dulu ikut demo 212, sekarang pada ke mana, ya? Dulu bisa berbondong-bondong naik bus sampai pesawat ke Jakarta buat menggulingkan Ahok. Sekarang, giliran masyarakat demo buat menggulingkan rezim, kok pada ke mana? Serius nanya, soalnya massa 212 dulu rame banget. Kenapa demo sekarang nggak seramai 212? Rasanya kayak nggak adil aja. Ayo bangkit!!!! ✊
Saya tidak mengerti mengapa kebanyakan orang pakai kacamata kuda untuk melihat pasar modal? Padahal tanpa manufaktur yang bagus, pasar modal tidak akan berjalan.
Manufaktur Indonesia sudah lama jelek, kelamaan sadar kalau lihat pasar modal doang.
"Russia are good as Allies btw" isn't it?
I'm against any occupation and coercion but you are all stupid and hypocryte so you are loosen against Russia. That's why people hate you because your hypocrisy.
So, don't cry of you lose homes, families, loves because of that.
Siapapun yang degradasi gerakan perlawanan bersenjata terhadap penjajahan maka bukan bagian dari Muslim dan sayapun berlepas diri darinya
Apakah lupa perang kemerdekaan kita sendiri?
Gw gk mau gatekeeping disini tapi...
Masalahnya, golongan kaum loe dulu understimate yg kau bilang religius konservatif dalam isu Palestina dan mendegradasi jadi isu agama doang.
Skrg loe pada fomo doang karena ingin menunggangi dan dapet massa baru.
Unpopular opinion:
Menurut prediksi saya, RUU Perampasan Aset bakal banyak pasal karet yang akan menyasar lara aktifis yang bersuara dalam mengoreksi kebijakan pemerintah, bukan khusus koruptor saja.
Biasanya demo yang isunya lebih mendasar susah masuk audiensi DPR.
Jangan terlalu menekan Prabowo karena jika Gibran naik, kalian akan lebih menyesal selamanya
Berpikirlah strategis dan sistematis dalam bersikap
Saya tahu bahwa Prabowo masih banyak buruk dan kurangnya tapi janganlah kalian terlalu dalam membenci hingga tidak sadar menjadi...
PARADOKS AI
Ketika kita bicara tentang AI, kebanyakan dari kita kemungkinan besar berpikir tentang kemudahan yang kita dapatkan selama ini. Namun seperti hal lainnya, AI juga memiliki sisi gelap yang perlu diperhatikan agar kita bisa menyikapi perkembangannya dengan bijak.
Menpar rezim sekarang yang tiap hari mandi pakai air galon AQUA aja jadi tidak cantik karena pucat pada rapat bersama DPR RI
Wowonomics:
Sawit at it's finest
They're right for Japan, Korea, and Singapore. Those guys source 75% of refined products from the Persian Gulf. Hormuz closes, they bleed.
But Indonesia is a different story entirely.
Yes, Indonesia imports refined products. Pertamina's refining capacity doesn't fully cover domestic demand, so Pertalite and Solar get bridged through imports. The Hormuz shock hits that. Real exposure.
What makes Indonesia different is this.
Indonesia's actual risk from this isn't supply. It's fiscal. If oil prices spike because Hormuz stays closed, the government's subsidy bill for Pertalite and Solar expands. Wider deficit, rupiah pressure. That's the bear case for Indonesia, and even that's manageable.
The bull case is what nobody is talking about.
Indonesia runs B40 right now. 40% of every liter of diesel consumed domestically is palm oil biodiesel, not petroleum. When oil spikes, the incentive to push toward B50 or B55 gets stronger overnight. Import volume drops. Indonesia self-hedges using its own CPO supply. No other country in Asia has this. Not Korea, not Japan, not Singapore.
Then there's coal.
When Hormuz disrupts LNG and oil flows into Asia, the fastest lever available to power generators in Japan, Korea, and India is gas to coal switching. Indonesia is the world's largest seaborne thermal coal exporter. ADARO, ITMG, PTBA, BUMI don't suffer from this scenario. Export volumes go up. Realized prices go up. Royalty revenue to the government goes up.
Same logic on LNG. Indonesia exports from Bontang and Tangguh. When Middle Eastern supply gets disrupted, the spot premium on non Gulf LNG widens. Indonesian cargoes price up.
Same logic on CPO. High oil equals strong biodiesel demand globally equals strong CPO prices. Indonesia and Malaysia control 85% of global supply.
You see, Indonesia pays more for refined product imports. Fiscal subsidy pressure rises. Rupiah is a watch item. Those are real negatives.
But Indonesia earns more on coal exports, earns more on LNG spot, earns more on CPO, and reduces net petroleum import volume through accelerated biodiesel blending. The terms of trade move in Indonesia's favor, not against it.
The conventional take is "Indonesia is a net oil importer so oil shock is bad." The correct take is Indonesia is a net energy exporter in the commodities that directly substitute for disrupted Persian Gulf supply. A sustained Hormuz closure improves Indonesia's aggregate energy trade position, not deteriorates it.
Happy Sunday and Happy Easter.














