Pinned Tweet
Undiagnosed : The Diabetes Epidemic
youtube.com/watch?v=chvezvgN…
Fathoni retweeted
Dokter mata pasti bisa menjelaskan soal kacamata pak Jokowi, tapi ini bukan sidang ijazah tp pencemaran nama baik.
😊
Saat muda berkaca mata minus tapi saat lanjut usia malah lepas kacamata. Di dunia medis ini lazim disebut 'second sight', Apakah Tifa pura2 ga tau?
Entahlah 😁
Fathoni retweeted
Sesungguhnya ijazah S1 kita semua itu palsu
Sekalipun Eektor kampus mu memverifikasi, tetap aja palsu
Perbedaan nya adalah tidak ada yg peduli ijazah kita asli atau palsu dan tidak ada yg mempertanyakan nya
Fathoni retweeted
Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan soal ijazah Pak Jokowi, ada satu fenomena yang menurut saya menarik untuk diperhatikan.
Hampir empat tahun sejak isu ini muncul pada 2022, kita masih melihat polemik yang seolah belum juga menemukan titik akhir.
Saya tidak bermaksud membela siapa pun. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi saat berkunjung ke Solo.
Beberapa waktu lalu, salah satu anggota tim saya mengajak berkunjung ke rumah Pak Jokowi.
Rumah yang oleh sebagian orang dijuluki “Tembok Ratapan Solo” itu berada di Jalan Kutai Utara No. 1.
Saya datang pada Sabtu siang. Pemandangan yang saya lihat cukup menarik. Rumahnya asri, banyak orang berdatangan, kendaraan memenuhi area parkir, bahkan ada pedagang yang menjual aksesori bergambar Pak Jokowi.
Sayangnya, saya sendiri belum berkesempatan bertemu beliau. Berbeda dengan rekan saya yang sebelumnya sudah pernah berfoto bersama, berjalan bersama, bahkan sempat berbincang sebentar.
Saat ikut menunggu, saya sempat ngobrol dengan salah satu pengunjung dari Purbalingga. Ternyata beliau sudah datang sejak sehari sebelumnya dan berencana menginap demi mendapat kesempatan bertemu Pak Jokowi.
Yang menarik, pengunjung yang saya temui bukan cuma berasal dari wilayah Solo Raya. Ada juga yang datang dari berbagai daerah, dengan latar belakang dan usia yang beragam.
Lalu saya berpikir, apakah mereka semua datang karena dipaksa? Rasanya tidak.
Mereka datang atas kemauan sendiri. Ada yang sekadar ingin melihat, bersalaman, berfoto, atau mungkin menyampaikan rasa terima kasih.
Sekarang, ketika isu ini kembali ramai dibicarakan, saya justru teringat suasana di rumah tersebut. Bahkan penanda lokasi di Google Maps pun sempat ikut menjadi bagian dari cerita yang ramai diperbincangkan.
Saya tidak tahu bagaimana akhir dari polemik ini. Biarlah proses hukum dan fakta yang menjawab semuanya.
Namun, ada satu hal yang saya lihat sendiri: masih banyak orang yang ingin bertemu Pak Jokowi.
Mungkin bagi sebagian orang, beliau bukan sekadar mantan presiden, tetapi juga sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Entah mengapa, melihat situasi sekarang, terkadang muncul rasa rindu dengan suasana Indonesia beberapa tahun lalu.
Sekali lagi, ini hanya pengalaman dan opini pribadi. Tidak harus semua orang sepakat dengan saya. Bagaimana menurut kalian?
Fathoni retweeted
Tifa: ....Anda ga punya hati
Jaksa: Keberatan Yang Mulia
Tifa: DIET KALO KEBERATAN
Candaan tongkrongan gini bisa2nya muncul di persidangan 😂
Fathoni retweeted
dapet info dari kak ros. gejala awal katanya cuma panas. sempet dilarikan ke klinik kesehatan. tapi sampai sana ternyata udah ga tertolong.
rencananya jenazah akan dikebumikan. pihak keluarga minta maaf atas segala kesalahan ipin.
rest in peace ipin🥀
Jujur dari semua orang desa kkn ku, ak cuma inget nama bapak pondokan, Pak Mursidi.. padahal sampe 2014, hampir tiap tahun ak main ke tempat kkn haha...
Fathoni retweeted
Muliakan istri, jangan sampai istri turun sendiri dari kendaraan buat mampir beli roti SAJA di mart, tpi suamilah yg turun membelikan; percayalah, ini lebih memuliakan wanita & infonya hemat sekian cuan :)
Lagian orang tuh anggap remeh riset teknologi pangan. Ngana pikir negara kek Korea dan Jepang itu gimana smp bisa masif banget produk makanannya. Tiap sudut dan jenis makanan ada produk yg bisa jadi oleh oleh tahan lama.
Industri pangan is crucial. Orang akan selalu butuh makan.
Fathoni retweeted
Harusnya ga kaget sih.
Pertama, walaupun matematika adalah queen of science, tapi matematika itu jauh lebih abstrak dibandingkan 3 ilmu lainnya (Fisika, Kimia, Biologi). Dari sini aja kita bisa tau bahwa seperti apa prospek kerja dari S3 matematika yang ga jauh-jauh dosen lagi-dosen lagi 😂
Selain itu riset matematika, selain ilmunya susah banget, juga saya yakin susah sekali dapet pendanaan karena nyaris 50-75% risetnya ga bisa di-aplikasikan secara langsung sedangkan negara ini sangat pragmatis, apa-apa harus jelas implementasinya, harus praktis. Misal monster group, apa terapannya? Paling ke teori-teori lagi macam teori string. Gimana yang risetnya di teori himpunan?
Betul, matematika juga ada terapannya (matematika keuangan, aktuaria, matematika industri, dll), tapi mereka yang biasanya ngambil matematika terapan dari S1 udah terlena sama uang di industri, ga ada motivasi lagi buat belajar sampai S3, paling S2 aja cukup bagi mereka (terutama yang ngambil terapan ke AI atau financial engineering).
Salut sih mereka yang mau belajar matematika sampai S3, terutama yang ngambil dua ilmu paling "gaib" macam aljabar dan analisis, karena cuman kecintaan atau obsesi akan matematika yang bisa membuat mereka bertahan bertarung dengan definisi, teorema, lemma, sampai corollary untuk membuktikan konjektur atau mendefinisikan matematika baru atau membuat teorema.
Fathoni retweeted
Stage 4 lung cancer used to mean a countdown to death.
Now there are 40+ clinical trials for ALK alone, a mutation in ~5% of lung cancers.
Fuck you, cancer. We're not done. Not me, not the thousands of us still fighting!
Masih bingung apa yg bikin postingan ini rame ya? Wkwk
akhirnya ketemu jg alasan kenapa ekonomi berbasis konsumsi kayak kopi kenangan dll tumbuh sangat cepat 5 tahun terakhir. thank you @joshuawalkersoc






























