"Semakin jauh seseorang berjalan menuju pengenalan diri, semakin sedikit alasan baginya untuk merendahkan orang lain. Ia mulai melihat kekurangannya sendiri dengan jujur, hingga pujian tidak lagi meninggikannya dan celaan tidak mudah menghancurkan ketenangannya."
AlGhazali
"Penyakit hati tidak selalu tumbuh dari kebencian kepada orang lain. Terkadang, ia bersembunyi dalam kebaikan yang ingin dipuji, ibadah yang ingin diakui, dan kerendahan hati yang diam-diam merasa lebih mulia daripada manusia lainnya.
AlGhazali
“Kegembiraan dan kesedihan adalah tamu, dan hati adalah rumahnya. Jangan sampai salah satu dari keduanya menjadi pemilik rumah.”
Al-Ghazali
“ketika kamu ikhlas menerima kekecewaan hidup, maka allah akan membayar tuntas kekecewaan mu dengan beribu-ribu kebaikan.”
Ali bin abi Thalib
"Jangan berpikir karena kekuranganmu membuatmu tidak pantas untuk dicintai. Sungguh, orang yang benar-benar mencintaimu tidak melihat itu."
Gus Baha
Southgate Poltangan retweeted
BPS GILA njirrrr
ibu ini dia tercatat punya aset 1 miliar
dan masuk kategori desil 5
padahal dia tinggal di kontrakan 3x3 meter seharga rp20.000 per hari di rw 04 kampung bali
karena masuk desil 5, keluarganya tidak pernah dapat bansos sama sekali, meski ktp dki
eva bilang: “bingung banget saya, kalau punya duit segitu mah saya enggak di sini”
kondisi eva
ibu tunggal dengan satu anak kelas 4 sd
suaminya meninggal satu tahun lalu, lalu dia pindah ke kontrakan itu
kontrakannya berdinding triplek dan di bantaran anak kali krukut
anaknya tidak dapat pkh, bpnt, atau kjp
dia jualan makanan dan minuman pakai gerobak dorong di sekitar pasar tanah abang
penghasilannya dari selisih harga jual barang dari pemasok
dulu untung sampai rp100.000, sekarang rp30.000 sampai rp40.000, paling banyak rp50.000
uang habis untuk makan dan sekolah anak
anak bungsunya sering ikut jualan sepulang sekolah
Alhamdulillah mbah Riyan sekarang udah mulai dikenal orang. Sosok yang sangat menginspirasi kita semua. Dapat award dari MUI. Tapi memilih tidak hadir. Baca² di media. Ternyata selama ini beliau kerja jadi tukang, dan lebih suka Mancing. Hehe..
Ingatlah nak, apabila kamu bulan april mempunyai uang, itu tandanya satu tahun kamu akan mempunyai uang. Hal ini memang tidak terdapat dalam kitab, akan tetapi bisa untuk pengingat."
— KH. Maimoen Zubair
"Adab tertinggi seorang penuntut ilmu adalah dia tetap mendengar nasihat atau ilmu dari seseorang, dan bersikap seolah-olah baru mendengar, walaupun sebenarnya dia sudah tahu dan pernah berkali-kali mendengarnya."
Imam al-Ghazali
"Tidak ada yang menyakitimu kecuali itu pikiranmu, tidak ada yang membatasimu kecuali itu ketakutanmu, tidak ada yang mengendalikanmu kecuali itu keyakinanmu."
Jalaluddin Rumi
"Tidak ada pria miskin di mata wanita yang tulus dan tidak ada wanita jelek di mata pria serius.”
Emha Ainun Nadjib
"Semakin engkau memikirkan apa yang tidak engkau miliki, semakin besar rasa lelah yang tumbuh di hatimu.”
23 Maret 1963: Saat Sukarno Menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional
Pada 23 Maret 1963, Presiden Sukarno mengambil sebuah keputusan yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga sarat makna politik. Ia menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
Penetapan ini tidak muncul dari ruang hampa. Dorongan kuat datang dari Partai Murba, partai yang didirikan Tan Malaka sendiri. Tuntutan itu disuarakan dalam dua momentum penting: peringatan 14 tahun hilangnya Tan Malaka di Jakarta pada Februari 1963, serta dalam konferensi Partai Murba di Balikpapan pada Maret tahun yang sama.
Namun menurut sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang menulis biografi komprehensif tentang Tan Malaka keputusan tersebut pada dasarnya merupakan inisiatif pribadi Sukarno. Ia menetapkannya tanpa melalui prosedur resmi yang lazim, bahkan tanpa meminta pertimbangan dari komisi penilai yang sebenarnya telah dibentuk.
Langkah itu dipandang sebagai bentuk penghargaan politik. Partai Murba pada masa itu dikenal sebagai salah satu pendukung garis politik Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Sukarno.
Agar keseimbangan politik tetap terjaga, Sukarno juga menetapkan tokoh lain sebagai Pahlawan Nasional: Alimin Prawirodirdjo. Meski pernah tersisih dalam konflik internal Partai Komunis Indonesia, Alimin tidak pernah dikeluarkan dari partai tersebut dan tetap dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah gerakan komunis Indonesia. Selain itu, ia juga merupakan kawan lama Sukarno sejak masa pergerakan.
Riwayat politik Tan Malaka sendiri memang penuh dinamika. Ia pernah menjadi tokoh penting dalam PKI, tetapi kemudian dipecat setelah menentang rencana pemberontakan partai itu pada 1926–1927. Setelah keluar, Tan Malaka mendirikan organisasi bawah tanah Partai Republik Indonesia (PARI).
Sekembalinya ke Indonesia setelah masa panjang pengasingan, ia kemudian mendirikan Partai Murba pada 1948.
Secara ideologis, Murba justru kerap berada di posisi berseberangan dengan PKI. Karena itu, pengangkatan Tan Malaka bersamaan dengan Alimin dipandang banyak kalangan sebagai bagian dari upaya Sukarno merawat keseimbangan politik dalam konsep Nasakom: nasionalisme, agama, dan komunisme.
“Jelas, ada oposisi terhadap keputusan pengangkatan dua tokoh kontroversial itu. Mungkin karena itu Sukarno memilih melanggar prosedur,” tulis Poeze.
Pada masa itu, pengaruh Sukarno dalam penetapan Pahlawan Nasional memang sangat besar. Ia bahkan menetapkan Pahlawan Nasional pertama, yaitu Abdoel Moeis, pada 1959.
Dalam kurun 1959 hingga 1965, Sukarno menetapkan sedikitnya 36 tokoh sebagai Pahlawan Nasional. Menurut catatan sejarah, hampir separuh dari keputusan itu diambil tanpa melalui pertimbangan komisi yang telah dibentuk pemerintah.
Catatan menarik lainnya, Tan Malaka merupakan tokoh ke-16 yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Sebuah pengakuan negara terhadap salah satu tokoh revolusioner paling kompleks dan unik dalam sejarah Indonesia.
Buku ini memang belum tuntas terbaca. Tapi ada banyak sudut pandang baru yang saya dapat perihal sosok Tan Malaka






