Soal Polishit dinasti kita bisa sanggah kalo yg justru melakukannya adalah @PDI_Perjuangan .. soal royal family yg dikasih kursi oleh artaria dahlan pdhl pilihan rakyat justru bukan yg digantikan … sulit bgt mikir sepele gitu tok ?
MasEkeph retweeted
Untuk diketahui di momen Jumat Berkah ini, jalan tol yang dibangun Prabowo selama dua tahun pemerintahannya disebut nggak sampai 15 km. Gue ulangi, seluruh Indonesia nggak sampai 15 km!
Lalu, katanya baru akan bertambah jadi 28 km pada akhir 2026. Itu pun kalau benar-benar terwujud. Dari target 2.300 km, baru terealisasi 0,6%. Bahkan 1% aja belum sampai, Cah!
Terus, apa yang sering dilakukan Prab? Membentuk badan, melantik pejabat, pidato, dan kunjungan kerja ke luar negeri. Kalau itu sih banyak banget.
Wallahi, kita benar-benar sudah tamat!
MasEkeph retweeted
Spanduk cuma 2 jam tapi langsung mendunia, dan ada pula yang kepanasan, ide cemerlang semoga kaosnya juga dicetak 👍
Ga usah bela kek orang gila .. katakan salah ya salah bener ya bener .. konsep MBG itu eksekusinya salah ! Harusnya bottom up, mirip di luar negri, kantin” skolahnya yg jalanin, bukan up to bottom .. kopdes konsep ? Mikir gini aja sulit
MasEkeph retweeted
PRABOWO SEMAKIN TIDAK DIINGINKAN: KALAH BUKAN HANYA OLEH KDM, TAPI JUGA BISA OLEH ANIES, GIBRAN, DAN AHY
Jika pemilihan presiden dilakukan sekarang, besar kemungkinan Prabowo Subianto tidak akan terpilih kembali. Itulah yang ditunjukkan berbagai simulasi dalam survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) awal Oktober 2026. Survei ini mewawancarai 1.213 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 1.013 di antaranya diwawancara lewat telepon, dan 200 lainnya secara tatap muka untuk menjangkau warga yang tidak memiliki telepon seluler. Margin of error survei ini sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Dalam simulasi semi terbuka, responden diberi daftar 24 nama tokoh dan boleh menuliskan nama lain di luar daftar itu. Hasilnya, Prabowo hanya didukung 9,8 persen. Angka itu bersaing ketat dengan Anies Baswedan (10,3 persen) dan Gibran Rakabuming Raka (8,4 persen). Sementara itu, Dedi Mulyadi (KDM) jauh meninggalkan semuanya dengan 35,5 persen. Seorang presiden petahana kini berada di kelompok yang sama dengan tokoh-tokoh berdukungan sekitar 10 persen.
Dalam simulasi head to head dengan Dedi Mulyadi, Prabowo hanya didukung 18,8 persen, sementara Dedi 69,3 persen. Padahal pada survei Februari–Maret 2026, Prabowo masih unggul 50,5 persen berbanding 42,6 persen. Pada Juli 2026 keadaan berbalik: Dedi naik menjadi 59 persen dan Prabowo turun ke 28,3 persen. Pada Oktober, jaraknya makin lebar. Dalam delapan bulan, posisi Prabowo merosot dari unggul menjadi tertinggal lebih dari 50 poin.
Mungkin ada yang berpikir bahwa suara Prabowo hanya diambil Dedi Mulyadi, yang juga kader Gerindra. Kalau Dedi tidak maju, bukankah suaranya akan kembali ke Prabowo? SMRC menguji kemungkinan ini dengan simulasi tiga nama tanpa Dedi: Prabowo, Gibran, dan AHY. Hasilnya, Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Sisanya, 19,4 persen, tidak menjawab.
Dugaan itu ternyata keliru. Gibran dan AHY bersaing ketat satu sama lain, tetapi keduanya sama-sama unggul atas Prabowo. Tanpa Dedi pun, sang petahana tertinggal dari dua politisi yang jauh lebih muda. Hilangnya Dedi dari arena tidak dengan sendirinya mengembalikan pemilih ke pangkuan Prabowo.
Yang juga menarik, mayoritas pemilih partai tidak mendukung Prabowo, termasuk pemilih partai-partai yang elitnya sudah mendeklarasikan dukungan dua periode, seperti Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB. Dalam simulasi semi terbuka, hanya 20 persen pemilih Gerindra yang memilih Prabowo, sementara 74 persen memilih calon lain. Di kalangan pemilih Golkar angkanya 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB 4 persen. Di luar koalisi pendukung, angkanya Nasdem 11 persen, Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, dan PKS 2 persen. Jumlah sampel per partai memang terbatas, tetapi polanya konsisten: di partai mana pun, Prabowo tidak menjadi pilihan mayoritas. Bahkan jika banyak pemilih Gerindra beralih ke Dedi, sesama kader partai, itu tetap berarti satu hal. Deklarasi elite tidak otomatis diikuti oleh pemilihnya sendiri.
Dari sini terlihat bahwa publik umumnya memang sudah tidak menginginkan Prabowo menjabat dua periode. Persoalannya bukan semata karena muncul figur yang sangat cemerlang. Ketika figur itu disingkirkan dari simulasi pun, Prabowo tetap tertinggal.
Elite partai bisa berkoalisi dan mendeklarasikan dukungan jauh-jauh hari, tetapi suara pada akhirnya ada di tangan pemilih. Pemilih menimbang dari apa yang mereka alami sehari-hari dan dari cara pemerintahan dijalankan. Angka-angka ini adalah pesan mereka, dan pesan itu semakin jelas dari bulan ke bulan.
Bintaro, 17 Oktober 2026
SAIDIMAN AHMAD
Link presentasi lengkap hasil survei di kolom reply.
MasEkeph retweeted
Polemik Ijazah Copras Capres itu bukan kali ini saja, jauh sblm itu, cuma saat itu blm ada Media Sosial.
* Menjelang Pilpres 2004: PDIP menolak usulan agar capres harus sarjana. Partai menilai usulan itu bisa menghalangi Megawati maju. UU Pilpres 2003 akhirnya menetapkan syarat minimal SLTA atau sederajat.
Link; tirto.id/kisah-pdip-yang-men…
* Menjelang Pilpres 2009: usulan syarat S-1 kembali diperdebatkan. Megawati & pimpinan PDIP menolaknya; UU No. 42 Tahun 2008 tetap menetapkan syarat minimal tamat SMA atau sederajat.
Link: news.detik.com/berita/d-8737…
Seandainya saja waktu itu menang lawan SBY, pasti narasinya “Indonesia dipimpin lulusan SMA saja”.😄😀
MasEkeph retweeted
Kejengkelan politik pada sosok Gibran Rakabuming Raka itu disebabkan oleh satu hal saja.
Mereka "kalah" lalu tidak terima karena mereka merasa ada banyak anak-anak bangsa yang lebih pantas dari Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi wakil presiden RI.
Problemnya mereka lupa bagaimana cara politik bekerja di Republik ini.
Bahwa yang punya kewenangan konstitusional itu adalah partai politik, karena dalam UUD maupun UU yang menjadi peserta pemilu adalah partai politik.
Pintu masuk buat Gibran Rakabuming Raka ada di sana.
Kalau mau gugat, maka gugat partai politiknya, bukan Gibrannya. Karena merekalah yang "bermain" untuk meloloskan pasangan yang hendak mereka usung.
Masalahnya, hitung-hitungan politik yang dilakukan partai politik atau gabungan partai politik saat pilpres kemarin, nama Gibran Rakabuming Raka menjadi elemen penting bahkan fundamental agar kesempatan menang bisa mereka raih.
Calon lain di luar nama Gibran Rakabuming Raka tidak sanggup menjawab keraguan orang-orang partai.
Jadi, langkah-langkah hukum yang hendak diperjuangkan oleh orang-orang seperti Denny dkk kelihatannya memang hanya untuk membuat semacam "tekanan politik" kepada Gibran Rakabuming Raka sebagai tokoh politik yang mereka anggap tidak pantas memimpin Indonesia.
Dan itu dah saja dalam negara demokrasi.
Tapi jangan lupa bahwa ketika orang-orang seperti Denny dkk ini gagal membuktikan tuduhan-tuduhan politisnya, maka ada satu hukum kekuasaan yang akhirnya berpihak pada Gibran Rakabuming Raka, apa itu?
Banyak...
Sepertinya 48 Hukum kekuasaan akan mendukung langkah-langkah politik yang dilakukan oleh Gibran Rakabuming Raka.
Mari kita dukung terus orang-orang seperti Denny dkk untuk bersuara, walaupun kita sama-sama tau bunyi-bunyian yang mereka mainkan hanyalahkkosong.
Replying to @LambeSahamjja
Baca ss no.4. Anda akan terkejut dgn fakta ini (wkwkw it's 2 am in the morning and i am writing with that celeb news tone). Wtf with Indonesian officers that we get to do this kinda info digging at 2 am ~ sangking gregetnya dgn jawaban ma kelakuannya🥴
Percaya ngga … smua lapas di seluruh indon skrg sedang banyak kerja lembur bongkar”in 🤣🤣🤣🤣
Keponakan, anaknya mbak gw mau merried … barusan lamaran .. ngumpul … ( minus adik paling kecil yang lagi kerja di luar ) kapan lagi bisa remake foto 40 taun lalu … sehat smua ya sampai tuwa .. eh kita udah pra lansia ketang … 🤦🏻🤦🏻
Udah hampir 24 jam @di_cbn di rumah gw mati total … entah sampai kapan beres































