Viaa Olin retweeted
This potato not expected the ending
Waktu kecil, kita sering dengar kalimat, "uang itu bukan segalanya." Dulu kedengarannya bijak banget. Tapi makin dewasa, kita mulai ngerti bahwa orang yang bilang begitu biasanya sudah cukup, atau lagi berusaha menenangkan diri.
Karena kenyataannya, hampir semua hal di hidup ini nyambung ke uang. Mau sehat, butuh biaya berobat. Mau makan enak, butuh uang. Mau bantu orang tua, mau sekolah, mau punya tempat tinggal yang layak, semuanya butuh uang. Bahkan ketenangan pun sering kali lebih gampang didapat kalau dompet nggak lagi menjerit di akhir bulan.
Coba ingat lagi momen ketika tanggal tua datang. Mau beli sesuatu mikir tiga kali, ada kabar mendadak langsung panik, ada tawaran bagus tapi terpaksa ditolak karena nggak ada dana. Di situ kita ngerasain sendiri, ternyata masalah sebesar itu bisa kelihatan kecil kalau uangnya ada, dan masalah kecil bisa terasa besar kalau uangnya nggak ada.
Tapi satu hal yang perlu diingat, uang memang penting, bukan berarti harus jadi satu-satunya tujuan hidup. Uang itu alat. Ia bisa memberi rasa aman, kebebasan memilih, dan kesempatan untuk membahagiakan orang-orang tersayang. Tapi kalau kita lupa menjaga kesehatan, hubungan, dan hati demi mengejarnya, kita justru kehilangan hal yang mau kita beli dengan uang itu.
Jadi nggak apa-apa kalau sekarang kamu serius mencari uang dan menata keuangan. Itu bukan tanda serakah, tapi tanda kamu mulai paham kenyataan. Cukup jaga keseimbangannya, supaya nanti saat uangnya ada, kamu juga masih punya waktu, tenaga, dan orang-orang untuk berbagi kebahagiaannya.
Viaa Olin retweeted
I'm cryinggg, they mad as hell😭😂
Kling 4.0 is now available on PixVerse! Get unlimited access for 10 days with Ultra—create without using credits using text, images, references, or Transition mode (first and last frames).
#PixVerse #pixversecpp @PixVerse
Viaa Olin retweeted
You’d never see this kind of comedy back home. No wonder the clerk reacted like that.
Viaa Olin retweeted
I was so satisfying
Belajar ikhlas, meski takdir berjalan berlawanan dengan keinginan.
Ternyata, tidak semua kenyataan bisa dinegosiasikan dengan keinginan. Ada doa yang harus tetap kita langitkan, ada harapan yang harus kita relakan, dan ada kenyataan yang harus kita terima meski hati belum sepenuhnya siap.
Sebab pada akhirnya, berdamai dengan takdir adalah tentang berhenti menyalahkan keadaan, tanpa kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Viaa Olin retweeted
Jadilah seperti peniti. Kecil, sederhana, dan sering kali tidak diperhatikan, tetapi memiliki kekuatan untuk menyatukan bagian-bagian yang terpisah.
Dalam kehidupan, kita tidak harus menjadi seseorang yang besar untuk memberikan pengaruh yang berarti. Tidak perlu selalu terlihat hebat, dipuji banyak orang, atau menjadi pusat perhatian.
Terkadang, justru hal-hal kecil yang memberikan manfaat paling besar. Sebuah perhatian sederhana, perkataan yang menenangkan, atau kehadiran yang tulus mampu menyatukan kembali sesuatu yang hampir terlepas.
Belajarlah menjadi pribadi yang sederhana, tetapi memiliki manfaat luar biasa. Hadirlah untuk memperbaiki, bukan merusak. Untuk menyatukan, bukan memisahkan. Untuk menguatkan, bukan menjatuhkan.
Sebab, nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar dirinya terlihat, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan.
Seperti peniti, tidak perlu menjadi besar untuk bisa menyatukan sesuatu yang berharga.









































