
Your friendly neighborhood Toys Photographer, instagram, Tiktok, Youtube: @agamdadam | Vocal, guitar @MUSIKECILband | #agamdadamUniverse
Jakarta - Stamford bridge
Joined August 2009
- Tweets38.2K
- Following644
- Followers4.9K
- Likes1K
Pinned Tweet
Warga dideket rumah gue pada bandel bikin lomba 17an.. mana pada ga pake PROKES! 😪 nih sempet gue videoin juga vt.tiktok.com/ZSJWh7b3K/ #agamdadamUniverse #17an #DirgahayuRI76
SELAMAT HARI ULTRAMAN. SWATCHH!
#UltraHeroDreamTeam Assembled!
🔵Ultraman
🔴Ultraseven
🟠Tiga
🟡Ginga
🟢Z
🟣Blazar
m-78.jp/dream-team/en/
#UltramanDay
Si paling so toys retweeted
Replying to @TeamYouTube
@TeamYouTube My Google account ([email protected]) was hacked via a phishing SMS link. Hacker changed password, recovery phone, added passkey/security key & 2FA (Authenticator). Standard recovery loops back to inaccessible email/code. Please assist with escalation/recovery!
Tempat tisu paling beda 😎 vt.tiktok.com/ZSmdtnjxX/
Pak, please collab sama ngelantur biar beliau ga ngelantur lagi 🙏🏻
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
boxd.it/bHOIJp

ALT Anies Baswedan berdiri di lorong bioskop, mengenakan kemeja biru gelap dan menatap poster film Pangku yang terpajang di dinding. Poster menampilkan para pemeran utama dalam suasana warung kecil bernuansa hangat khas Pantura. Di atas poster tertulis “Now Showing.” Suasana bioskop tampak hangat dengan pencahayaan redup.
Si paling so toys retweeted
This is a crazy goal by Michael Olise. It won't go viral cos it's not Lamine Amala

















