Pinned Tweet
Buat yg invest di saham, reksa dana, & SBN, gue bikin template Google Sheet buat manage & analisis portofolio serta tracking net worth.
Jadinya infonya kekumpul di satu file, bisa lihat & analisis lebih menyeluruh. Gak mencar2 di beberapa app/sekuritas.
Kira2 jadi kayak begini:
Halo! Saya mencari tenaga kontrak untuk membantu saya membuat sistem-sistem akuntansi, pembukuan, pajak di excel dan google sheet.
Job descnya mostly:
- QC sistem yang sudah saya buat
- Membuat tutorial penggunaan
- Membantu menjawab pertanyaan user
Prefer yang sudah ada pengalaman yaa. Kontrak sekitar 3 bulan atau nanti bisa lebih. Full WFH.
Apabila tertarik, tolong email linkedin/CV atau porto ke aricandra89(at)gmaildotcom atau ke DM yaa. Terima kasih. 🙏
Buat nambah konteks: saya lulusan akuntansi juga yg fokus di pemerintahan (stan 2011).
Tapi setelah lulus & bekerja di bidang lain, saya sudah gak pernah ngulik dan update lagi.
Jadi sekarang saya mencari tandem yang masih aktif menekuni + ada real experience di akuntansi atau pajak perusahaan, khususnya UMKM.
Buat yg lagi cari kerja, gue bikinin sheet buat job tracker, list portal, manage dokumen, dst. kayak gini.
Silakan dicopy filenya, gratis. Semoga membantu. 🙂
Kalau mau copy, tinggal ke menu File, download sebagai excel atau make a copy.
docs.google.com/spreadsheets…
Dua bulanan ini mulai beli2 buku lagi.
Di kampung ada >100, tapi sebagian dimakan rayap karena gak keurus. Kayaknya mesti dipaketin ke Jakarta lagi.
Gambar 1: buku yg baru beli
Gambar 2-4: buku2 yg di kampung
Buku2 di rak kayu di gambar 4 mostly udah dimakan rayap. 💔
How does your home library stack up? In 2023 YouGov surveyed 29,000 Americans to see how many books they have in their homes. The results were disappointing to say the least.
- 0 books: 9% (no books AT ALL)
- 1–10 books: 20%
- 11–25 books: 14%
- 26–50 books: 13%
- 51–100 books: 12%
- 101–200 books: 10%
- 201–500 books: 7%
- 501–1,000 books: 4%
- More than 1,000 books: 3%
Menurut gue isu pembajakan buku ini gak item-putih. Di satu sisi ada hak cipta & kekayaan intelektual yg mesti dihargai, tapi di sisi lain ada realitas ekonomi & akses thd pengetahuan, khususnya di negara berkembang & pernah terjajah selama bertahun2 kayak Indonesia. Jd konteksnya mesti dibedain.
Kalau buku karya penulis & penerbit Indo, sebisa mungkin beli yg asli. Industri buku lokal itu kecil & rapuh. Royalti penulis sangat kecil mungkin sekitar 7-12% dari harga buku. Jd setiap buku yg kejual sangat2 berpengaruh buat keberlanjutan ekosistem, gak cuma penulis tp jg penerbit, editor, ilustrator, toko buku, dll.
Kalau textbook akademik internasional buat kuliah, konteksnya beda. Karena emang ditujukan buat negara maju & perpustakaan univ, harganya bisa sangat mahal. Harga 1 buku ori aja bisa setengah atau 1 kali UMR jogja. Jd sangat gak realistis buat semua mahasiswa beli. Di konteks ini, penggunaan buku bajakan lebih ke masalah akses ke ilmu pengetahuan.
Kalau buku2 fiksi/nonfiksi populer internasional, idealnya beli yg asli kalau mampu. Tp harga buku2 impor sekitar 300-500an ribu sebenernya jg masih terlalu mahal buat daya beli masyarakat kita.
Jadi gak item-putih banget, tergantung konteks. Memaklumi baca bajakan karena keterbatasan akses bukan berarti menyarakan buat baca bajakan buat semua situasi.
Kalau ada kemampuan buat beli yg asli, sebaiknya selalu beli yg asli. Tapi kalau emang gak punya akses atau daya beli khususnya textbook kuliah atau buku impor, menurut gue masih bisa dipahami kenapa akhirnya sebagian orang baca versi bajakan.
MinLit tau akses buku memang masih sangat sulit. Perpustakaan fisik belum menjangkau semua wilayah, perpustakaan digital BANYAK kurangnya, harga buku bersaing dengan harga kebutuhan hidup yg lain, tapi tolong jangan membagi2kan file buku secara bebas.
Masih ada cara2 lain yg bisa ditempuh untuk baca buku. Saling pinjem, barter. Patungan, lalu bukunya dibaca bergiliran mungkin? Silakan kalau teman2 mau barter buku atau saling pinjam melalui LitFess.
P.S. twit di skrinsyut ini sudah dihapus, dan kalo saling pinjam, dijaga bukunya yaaa.
Kantor: kita mau bikin perpus buat kantor, silakan kalau mau request buku
Me: *request komik one piece*
Beneran dibeliin satu box set 😁🙏
Tanpa perlu nyalahin orang miskin, tingkat kelahiran biasanya turun dgn sendirinya kalau orang punya akses & kapasitas buat ngerencanain hidup.
Polanya konsisten di banyak negara:
- kalau makin banyak perempuan yg berpendidikan tinggi & punya kesempatan kerja
- kalau angka kematian anak menurun
- kalau akses ke kontrasepsi naik
maka tingkat kelahiran akan cenderung turun.
This Post is from an account that no longer exists. Learn more
Kalau kita lihat sekeliling kita (saudara atau tetangga), orang2 yg akses pendidikan dan ekonominya lebih baik dari generasi sebelumnya biasanya anaknya lebih sedikit.
Dan itu mereka sadar dengan sendirinya, tanpa paksaan karena mereka punya opsi hidup lebih banyak & kontrol yg lebih jelas.
Jadi ketimbang nyalah2in orang miskinnya, yg lebih efektif itu memperjuangkan supaya kapasitas hidup mereka naik, misalnya:
- dorong dan awasi program pemerintah
- dukung layanan kesehatan & pendidikan
- ikut organisasi atau komunitas yg kerja di lapangan, dst.
Itu semua lebih menyentuh akar masalahnya.
Dan juga lebih manusiawi & lebih demokratis, kalau kita beneran percaya sama nilai2nya..
Risetnya tahun 2018, jadi belum termasuk:
- learning loss karena sekolah tutup ketika covid, yg mana risetnya anak2 jadi kehilangan keterampilan setara sekitar 11 bulan pembelajaran
- tiktok/short video yg bikin anak2 jadi susah fokus ketika belajar & kepapar konten2 brainrot
Sementara intervensi atau kebijakan pemerintah kayaknya kurang signifikan buat ngesolve problem itu.
Jadi siap2 pisa 2025 mungkin angkanya akan makin turun.
Di grup marketing kantor. Akulah orang bold itu. 😔☝️



































