Lahir di Jakarta Selatan, tinggal di Margasatwa Pondok Labu, TK di Pertiwi Pondok Labu, SD di SDN 11 Pagi Pondok Labu, SD kelas 4 pindah ke Tanjungpinang ngikut kerjaan bokap sbg dokter, SMP 1 Tanjungpinang, SMA pindah ke Jaktim ngikut bokap di SMA 58 Jakarta ???? Udah cukup belum sensus penduduknya? Ngapain gua boong juga pung
This quoted post is unavailable.
Almost 30, not yet married, no complains, exploring new hobbies, arriving at new places, meeting new people, just having fun, and MOST IMPORTANTLY, living my best life 🥰❤️
Tentunya satu tweet ini belum bisa menjawab pertanyaan gue, akhirnya gue research lagi. Dari yang gue baca, efek samping konsumsi pencahar yang gue rasain ini, dalam jangka panjang bisa bikin usus lumpuh. Ini bener-bener ditulis di penelitian.
Gue ga abis pikir, kenapa gue bisa merasakan efek samping jati cina, disaat BPOM udah melarang perggunaannya ke produk makanan & minuman.
Ini hukumnya udah jelas-jelas tertulis loh. Tapi, kenapa kalian tetep tega bohongin masyarakat Indonesia hanya demi keuntungan semata?
Buat yang udah baca tweet ini, please, please be careful dengan apa yang kalian beli dan konsumsi, reserach bener-bener tentang apapun yang kalian masukkin ke badan kalian...
Semoga dari sharing ini, kita semua bisa lebih hati-hati ya...
Karena masih kepo, gue akhirnya memutuskan tanya ke dokter gue dan research.
Dari keluhan gue, dokter tanya “Karin, kamu ada konsumsi obat/bahan pencahar? Karena keluhan kamu mengarah ke efek samping dari konsumsi pencahar”
Karena gue merasa ga pernah minum pencahar, pikiran gue langsung tertuju sama fiber yang emang gue lg rutin konsumsi selama +- 2 mingguan.
Gue bingung, gue kan cuma minum fiber, tapi kenapa efeknya malah kaya obat pencahar?
Gue coba research dan akhirnya nemuin tweet ini dari salah satu ahli gizi. Tweet ini menyatakan kalau kita harus hati-hati konsumsi fiber, karena ditemukan beberapa fiber mengandung Cassia Senna (Jati Cina) alias PENCAHAR
Singapura dapet banyak pujian dari Swifties yang selesai nonton konser Taylor Swift di sana. Walaupun didatengin sama ratusan ribu orang yang nonton konser, selesainya mereka bisa bergerak rapi, stasiun MRT-nya gak kepenuhan, gak ada yang kacau, semua aman terkendali. Crowd management kelas dunia banget.
Ada satu orang turis dari luar negeri yang bilang dari selesai nonton konser dia bisa sampe di hotel tempat dia nginep kurang dari satu jam aja.
***
Ngebuat suatu acara konser di negara maju emang gak bisa dilakukan secara asal-asalan. Bahkan, mereka biasanya ngikutin aturan promotor dunia yang nentuin tempat dan ngejalin kerja sama bareng seluruh transportasi dan infrastruktur di berbagai kota besar.
Salah satu contohnya adalah AEG, sebuah organisasi yang langganan menggelar event di berbagai belahan dunia. Mereka punya akses ke banyak gedung besar, alat transportasi, kebersihan, keamanan, dan banyak lagi kebutuhan konser.
Kalo ada suatu acara di sebuah negara yang dihelat sama sebuah sponsor yang kelasnya seperti AEG, dia biasanya punya standar bahwa crowd management dan keamanannya bisa dijamin.
Mungkin gak ada salahnya kalo Indonesia mulai kerja sama bareng promotor besar dunia sekelas itu.
Mungkin banget ini berpotensi munculin masalah, karena promotor besar biasanya butuh akses detil ke sebuah kota. Mulai dari gimana keamanannya, kebersihannya, sampai akses dan infrastruktur transportasinya.
Ngomongin soal infrastruktur, tau gak kamu gimana cara menilai sebuah kota yang punya infrastruktur yang bener dan bagus?
Kamu bisa ngeliat gimana kota itu mendatangkan massa besar, misalnya sebanyak seratus ribu orang dalam sebuah acara, tapi gak jadi bikin macet dan acaranya berjalan aman.
Kapan kira-kira menurut kamu Indonesia, atau minimal Jakarta dulu deh, bisa begitu?
Sebagian dari kita mungkin pernah ngerasain kegiatan yang namanya sahur on the road, atau makan sahur bareng di jalanan, yang biasanya dibarengin sama bagi-bagi makanan sahur ke orang-orang di jalanan. Kegiatan ini sekarang dilarang polisi, seenggaknya di beberapa kota, karena sahur on the road dinilai meresahkan warga akibat sering diisi sama kebut-kebutan kendaraan, tawuran, dan sampah yang gak diberesin.
Ngejalanin suatu ibadah tentunya gak bisa terlepas dari manfaatnya. Begitu juga sama sahur, suatu kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah puasa.
Di beberapa lingkungan pergaulan atau budaya, ada kegiatan sahur on the road. Sahur yang begini sering ngelibatin banyak orang untuk sahur bareng rame-rame di jalanan.
Awalnya niat sahur ini bagus, diadain supaya silaturahmi terjaga dan sosialisasi ibadah terjadi. Tapi, akhir-akhir ini banyak orang yang merasa terganggu sama sahur on the road.
Pertama, sahur ini sering dikaitin sama kegiatan yang gak positif, seperti kebut-kebutan di jalan bahkan sampai terjadi tawuran.
Kedua, sahur on the road ini ngebuat warga yang aslinya bener-bener mau sahur dengan bener malah jadi keganggu. Mulai dari jadi padatnya antrian makan di suatu tempat, sampai sampah yang gak diberesin setelah sahur on the road selesai. Kegiatan sahur on the road di beberapa kota akhirnya dilarang sama polisi.
Setuju gak kamu kalo kegiatan ini dilarang? Lalu, baguskah niat jalanin ibadah agama kalo jadinya malah mengganggu orang lain?
Ilmu kedokteran dan keahlian para dokter di seluruh dunia udah maju banget. Kemarin, ada berita yang cukup buat heboh karena seorang pelukis India yang udah gak punya tangan, nerima donor tangan dari orang lain dan tangan donasi itu sukses disambung ke badannya.
Banyak yang heran gimana caranya dokternya bisa melakukan itu, karena badan manusia jadi udah kayak mainan aja bisa dilepas-pasang.
Kejadian itu mungkin adalah suatu bentuk kehebatan dunia kedokteran modern. Yang masih dipertanyakan adalah gimana tangan ini kesambung sama otak, di mana otak kita yang jadi pusat perintah dari semuanya.
Otak manusia kan terdiri dari banyak saraf yang dialirin sama sinyal seperti listrik untuk ngasih perintah dari satu saraf ke saraf lainnya.
Bisa gak sih manusia ngubah saluran saraf dan elektriknya ke dalam organ baru dari orang lain? Mungkin itu bisa aja, tapi bisa jadi gak akan sesempurna organ asli yang penerimanya punya sejak lahir.
Walaupun begitu, keberhasilan operasi ini perlu diapresiasi.
Pertanyaan berikutnya adalah masalah etika dan norma, seandainya di masa depan kita mau gak cuma mengandalkan donor organ. Boleh gak sih organ manusia diganti sama teknologi?
Misalnya tangan kita gak ada, dan kita mau sambung sama tangan buatan yang terbuat dari logam dan mesin. Kalo memang organ buatan nanti lebih membantu daripada organ asli, bolehkah manusia ngeganti itu?
Ilmu kedokteran dan keahlian para dokter di seluruh dunia udah maju banget. Kemarin, ada berita yang cukup buat heboh karena seorang pelukis India yang udah gak punya tangan, nerima donor tangan dari orang lain dan tangan donasi itu sukses disambung ke badannya.
Banyak yang heran gimana caranya dokternya bisa melakukan itu, karena badan manusia jadi udah kayak mainan aja bisa dilepas-pasang.
Kejadian itu mungkin adalah suatu bentuk kehebatan dunia kedokteran modern. Yang masih dipertanyakan adalah gimana tangan ini kesambung sama otak, di mana otak kita yang jadi pusat perintah dari semuanya.
Otak manusia kan terdiri dari banyak saraf yang dialirin sama sinyal seperti listrik untuk ngasih perintah dari satu saraf ke saraf lainnya.
Bisa gak sih manusia ngubah saluran saraf dan elektriknya ke dalam organ baru dari orang lain? Mungkin itu bisa aja, tapi bisa jadi gak akan sesempurna organ asli yang penerimanya punya sejak lahir.
Walaupun begitu, keberhasilan operasi ini perlu diapresiasi.
Pertanyaan berikutnya adalah masalah etika dan norma, seandainya di masa depan kita mau gak cuma mengandalkan donor organ. Boleh gak sih organ manusia diganti sama teknologi?
Misalnya tangan kita gak ada, dan kita mau sambung sama tangan buatan yang terbuat dari logam dan mesin. Kalo memang organ buatan nanti lebih membantu daripada organ asli, bolehkah manusia ngeganti itu?








