Blessing flies to several places with some letters on his foot.
( justpaste.it/i6g8b )
Tidak terasa, materi pun selesai dijelaskan. Maire bergegas menyelesaikan catatannya, kemudian mengemas kembali barang-barang miliknya. “Terima kasih untuk hari ini, kak. Sampai jumpa lain waktu,” pamitnya, tak lupa mengambil hadiah yang diberikan.
Replying to @ProfsMagnolia
⠀
“Sepertinya waktu kita sudah habis! Terima kasih untuk hari ini, aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian.” ujarnya dengan senyum cerah.
“OOOH! Aku juga punya kenang-kenangan untuk kalian, see you next time!” Vivienne kemudian melambaikan tangan kepada seluruh siswa.
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀⠀⠀⠀⠀
Attendance List: s.id/POTION-AL
Deadline: 21.00 UTC+7
[ Sehubungan dengan adanya keterbatasan pada platform, untuk sementara waktu konfirmasi pengisian presensi akan dialihkan melalui aplikasi Padlet ]
Confirmation Box: s.id/POTIONCB
⠀⠀⠀⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
“Sepertinya waktu kita sudah habis! Terima kasih untuk hari ini, aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian.” ujarnya dengan senyum cerah.
“OOOH! Aku juga punya kenang-kenangan untuk kalian, see you next time!” Vivienne kemudian melambaikan tangan kepada seluruh siswa.
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
“Yippie!” Vivienne berseru sambil bertepuk tangan kecil. “Jawabannya adalah Pumpkin-Head Jinx atau Melofors Jinx! Mantra ini dapat membuat kepala korban tertutup atau terbungkus oleh sebuah labu.” jelasnya. “Meski terlihat sama. Namun, mereka ada dua hal yang berbeda ya!”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
“Eh, tapi kalian pernah dengar nggak? Ada satu mantra yang efeknya sekilas mirip dengan Pompion Potion!” Vivienne terkikik. “Ayo, siapa yang tahu? Aku kasih petunjuk sedikit, namanya juga ada kata pumpkin-nya!”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
Vivienne kembali menunjukkan senyum lebarnya. “Sementara itu setiap tingkat keberhasilan dalam proses brewing akan menghasilkan satu dosis Pompion Potion. Jadi, satu kali peracikan, satu dosis! Nah, yang membedakan adalah tingkat keberhasilannya.”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
Vivienne mengangkat telunjuk, lalu memasang wajah sedikit serius. “Kalau terjadi kesalahan yang cukup parah, Pompion Potion bisa hancur sepenuhnya. Bukan cuma ramuan yang gagal, lho! Seluruh bahan yang sudah kalian gunakan, bisa ikut rusak dan tidak dapat dipakai kembali.”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
Vivienne kembali bertepuk tangan kecil, lalu memandang para siswa dengan senyum penuh semangat. “Nah, bagian ini juga penting banget!” serunya. “Keberhasilan Pompion Potion sangat bergantung pada seberapa teliti kalian mengikuti setiap tahap brewing.”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
“Benaaaar.” Ia mengangkat tiga jari tinggi-tinggi. “Ada tiga bahan utama! Flitterby Moth, Bouncing Bulb, dan Foxglove! Mudah diingat, kan?” ujarnya. “Tapi ada beberapa resep yang seringkali menambahkan bahan berupa Pumpkin Juice, dan itu juga tidak salah ya!”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
Vivienne tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah para siswa dengan mata berbinar. “Ooooh, tapi tunggu dulu! Sedari tadi aku tersebut berceloteh tanpa memastikan suatu hal,” gumamnya. “Memang kalian tahu apa saja bahan yang dibutuhkan untuk membuat Pompion Potion?”
⠀
𝓜aire 𝓐nne. retweeted
⠀
“Selama proses brewing, warna ramuan akan berubah secara bertahap. Mulanya hijau, kemudian menjadi merah, dan terakhir menjadi oranye. Hampir mirip seperti jus jeruk dan sup labu, jadi hati-hati! Jangan sampai salah mengenali seperti aku.” Vivienne terkekeh kecil.
⠀











