kalau sedang berusaha menghemat uang, pilihan paling murah memang kelihatannya selalu paling menarik. apalagi kalau kita punya anggaran terbatas dan ingin memastikan uang yang dimiliki cukup untuk memenuhi banyak kebutuhan. melihat dua barang dengan fungsi yang sama, tentu wajar kalau perhatian kita langsung tertuju pada barang yang harganya lebih rendah.
tapi sebenarnya, harga murah belum tentu membuat kita mengeluarkan uang lebih sedikit dalam jangka panjang. misalnya, membeli barang yang kualitasnya kurang bagus sampai harus sering diganti. awalnya terasa lebih hemat, tetapi kalau berkali-kali membeli barang yang sama, total pengeluarannya bisa lebih besar daripada membeli barang yang lebih awet sejak awal.
di sisi lain, barang mahal juga nggak otomatis lebih bagus. ada produk yang harganya tinggi karena merek atau tampilannya, padahal fungsi yang kita butuhkan bisa dipenuhi oleh produk lain dengan harga lebih terjangkau. makanya, penting untuk melihat kebutuhan kita sendiri, bukan cuma membandingkan angka di label harga.
bukan berarti kita harus selalu memilih barang mahal, ya. tetap perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. cuma, selain melihat harga, perhatikan juga kualitas, fungsi, garansi kalau ada, dan seberapa lama barang itu bisa digunakan. untuk beberapa barang, membayar sedikit lebih mahal bisa masuk akal. untuk barang lainnya, pilihan sederhana mungkin sudah cukup.
being financially smart is not always about spending less, tapi tentang menggunakan uang dengan pertimbangan yang tepat. jadi, hemat bukan berarti selalu mencari pilihan termurah. hemat juga berarti tahu kapan harus mengeluarkan uang, kapan bisa mengurangi pengeluaran, dan kapan sebenarnya kita nggak perlu membeli apa-apa.
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.”
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
kadang ada barang yang sudah lama nggak dipakai, tapi tetap kita simpan karena merasa sayang. dulu belinya mahal, dulu sempat suka banget, atau ada pikiran kalau suatu hari nanti mungkin akan digunakan lagi. akhirnya barang itu terus memenuhi lemari, sementara kita sendiri sudah jarang mengingat keberadaannya. begitu mau merapikan kamar, barang-barang itu malah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar-benar diputuskan akan diapakan.
uang yang sudah dikeluarkan memang nggak bisa kembali hanya karena barangnya disimpan. jadi, mempertahankan sesuatu yang sebenarnya nggak lagi kita butuhkan belum tentu membuat pembelian dulu jadi lebih bermanfaat. terkadang kita mempertahankannya bukan karena masih berguna, melainkan karena merasa berat mengakui bahwa barang itu sudah nggak punya fungsi dalam kehidupan kita sekarang.
tentu saja, bukan berarti semua barang lama harus langsung dibuang. ada barang yang punya nilai kenangan, ada yang masih bisa diperbaiki, dan ada juga yang mungkin akan dibutuhkan pada waktu tertentu. kita hanya perlu membedakan mana yang memang masih ingin disimpan dan mana yang sebenarnya sudah lama nggak digunakan tanpa alasan yang jelas.
sesekali, coba lihat lagi barang-barang yang kita punya. mana yang masih digunakan, mana yang bisa diperbaiki, dan mana yang mungkin lebih bermanfaat kalau diberikan kepada orang lain. kalau masih ragu, kita bisa mulai dari satu bagian kecil dulu, seperti meja kerja atau satu rak lemari, supaya nggak terasa berat.
decluttering bukan berarti harus membuang semuanya, tapi belajar memberi ruang untuk hal-hal yang memang masih punya fungsi dalam hidup kita sekarang. terkadang, merapikan barang juga membantu kita menyadari bahwa kita sebenarnya sudah punya cukup banyak hal, jadi nggak selalu perlu membeli sesuatu yang baru.
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.”
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
ada orang yang kelihatannya pendiam, ternyata kalau sudah dekat justru seru banget. ada juga yang dari awal terlihat ramah dan gampang akrab, tapi ternyata butuh waktu lebih lama buat benar-benar mengenalnya. kadang kita juga bertemu seseorang yang awalnya terasa kurang cocok diajak bicara, tetapi setelah beberapa kali bertemu, ternyata cara berpikirnya menarik dan kita bisa belajar banyak darinya.
kesan pertama memang bisa memberi gambaran tentang seseorang, tapi belum tentu cukup buat menjelaskan keseluruhan karakternya. kita cuma melihat satu bagian dari dirinya, di satu situasi, pada satu waktu. bisa saja dia sedang lelah, sedang banyak pikiran, belum merasa nyaman, atau memang membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka diri.
makanya, nggak perlu buru-buru menyimpulkan seseorang cuma dari cara dia berbicara, penampilannya, atau bagaimana dia bersikap saat pertama kali bertemu. tentu saja, kita tetap boleh memperhatikan sikap seseorang untuk menjaga diri. hanya saja, ada perbedaan antara berhati-hati dan langsung memberi label kepada orang yang belum benar-benar kita kenal.
give people some time. mengenal seseorang itu proses, dan kadang penilaian awal kita bisa berubah setelah melihat bagaimana dia bersikap dalam berbagai keadaan. orang bisa terlihat baik saat semuanya berjalan sesuai keinginannya, tetapi karakter yang lebih dalam biasanya terlihat ketika dia menghadapi masalah, menerima penolakan, atau berhadapan dengan orang yang nggak bisa memberikan keuntungan apa pun untuknya.
jadi, nggak harus langsung menyukai semua orang yang kita temui, tetapi memberi kesempatan untuk mengenal mereka lebih jauh juga nggak ada salahnya. siapa tahu, orang yang awalnya kita anggap biasa saja ternyata punya banyak hal baik yang belum sempat kita lihat.
kadang ada orang yang gampang banget bilang maaf, tapi kesalahan yang sama terus diulang. awalnya mungkin kita masih bisa memaklumi, namanya juga manusia pasti pernah salah. kita juga nggak mungkin selalu benar dalam memperlakukan orang lain. tapi kalau kejadiannya terus-terusan, lama-lama kita juga capek, apalagi kalau setiap kali dibahas, jawabannya selalu sama.
soalnya, minta maaf itu memang penting, tapi bukan berarti semuanya langsung selesai setelah kata maaf diucapkan. ada bagian yang lebih penting, yaitu bagaimana seseorang memperlakukan kita setelah dia tahu kalau tindakannya pernah menyakiti kita. apakah dia berusaha memahami kenapa kita kecewa, atau justru menganggap kita terlalu sensitif karena masih mempermasalahkan hal yang sama?
kadang yang bikin seseorang kehilangan kepercayaan itu bukan cuma kesalahan yang dilakukan, tetapi juga perasaan bahwa orang tersebut nggak benar-benar belajar dari kesalahannya. kita jadi bertanya-tanya, sebenarnya dia menyesal karena sudah menyakiti kita atau cuma nggak nyaman melihat kita kecewa?
at the end of the day, perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada permintaan maaf yang terdengar manis berkali-kali. bukan berarti seseorang nggak boleh melakukan kesalahan lagi, tapi harus ada usaha untuk memperbaiki diri. karena kalau memang sadar sudah melakukan kesalahan, seharusnya ada kemauan untuk nggak terus mengulang hal yang sama.
kadang kita merasa seseorang sudah berbeda dari yang dulu kita kenal. cara berpikirnya berubah, lingkaran pertemanannya berbeda, atau sekarang dia lebih berani mengatakan tidak pada hal-hal yang dulu selalu dia iyakan. mungkin dulu dia selalu mengikuti keinginan orang lain supaya nggak mengecewakan siapa pun, tetapi sekarang dia mulai berani menentukan pilihannya sendiri.
perubahan seperti itu nggak selalu berarti dia menjadi orang yang palsu. bisa jadi dia sedang belajar mengenal dirinya sendiri, memahami apa yang dibutuhkan, atau menyadari kalau beberapa kebiasaan lamanya ternyata nggak baik untuk dirinya. orang juga bisa berubah karena pengalaman, lingkungan baru, atau hal-hal yang membuatnya melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda.
kadang kita terlalu terbiasa dengan versi lama seseorang sampai merasa aneh ketika dia mulai bersikap berbeda. kita mungkin bertanya, “kok sekarang dia jadi begitu, ya?” padahal, selama ini kita juga terus belajar dan berubah. cara berpikir yang dulu kita pegang erat pun bisa saja bergeser setelah mendapatkan pengalaman baru.
tentu saja, ada juga perubahan yang perlu diperhatikan, terutama kalau seseorang mulai memperlakukan orang lain dengan buruk. berubah menjadi lebih berani bukan berarti boleh merendahkan orang lain, dan menjadi lebih mandiri bukan berarti harus kehilangan empati. jadi, yang perlu dilihat bukan sekadar apakah seseorang berubah, tetapi juga bagaimana perubahan itu memengaruhi sikap dan caranya memperlakukan orang lain.
people grow, and growth can look unfamiliar. seseorang boleh berubah selama proses itu membantunya menjadi pribadi yang lebih baik, tanpa harus selalu menjadi versi dirinya yang dulu kita kenal. kita pun punya hak yang sama untuk bertumbuh, memperbaiki kebiasaan, dan mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan diri kita sekarang.
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.”
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
freyadebora retweeted
i'm actually so easy to make happy. good food, pretty places, and a little bit of peace.
semakin dewasa, semakin banyak keputusan yang harus kita ambil sendiri. ada keputusan yang mungkin mudah dipahami orang lain, tapi ada juga yang bikin mereka bertanya-tanya karena pilihan kita berbeda dari kebanyakan orang. misalnya, ketika kita memilih fokus menyelesaikan pendidikan dulu, belum ingin menikah, mengubah arah karier, atau mengambil jalan yang nggak sesuai ekspektasi keluarga dan lingkungan.
terkadang kita merasa harus menjelaskan semuanya panjang lebar supaya orang lain mengerti alasan kita. setiap ada yang bertanya, kita berusaha memberikan jawaban yang bisa diterima. bahkan, ada kalanya kita sampai meragukan keputusan sendiri hanya karena orang lain nggak setuju atau menganggap pilihan kita aneh.
padahal, orang lain melihat hidup kita dari sudut pandang mereka sendiri. mereka punya pengalaman, harapan, dan ukuran keberhasilan yang belum tentu sama dengan kita. sesuatu yang terlihat ideal bagi mereka belum tentu menjadi pilihan yang tepat untuk keadaan kita sekarang.
bukan berarti kita harus mengabaikan semua masukan, ya. nasihat dari orang yang peduli tetap bisa membantu kita melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. tetapi, mendengarkan masukan juga nggak berarti kita harus mengikuti semuanya. tetap perlu dipikirkan mana yang sesuai dengan kondisi, kemampuan, dan tujuan hidup kita.
not everyone will understand your choices, and that’s okay. selama kita sudah mempertimbangkan konsekuensinya dan bersedia bertanggung jawab atas pilihan tersebut, kita boleh kok punya jalan hidup sendiri. nggak semua keputusan harus mendapat persetujuan dari semua orang, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan menjalani kehidupan yang kita pilih.
kadang ada orang yang gampang banget bilang maaf, tapi kesalahan yang sama terus diulang. awalnya mungkin kita masih bisa memaklumi, namanya juga manusia pasti pernah salah. kita juga nggak mungkin selalu benar dalam memperlakukan orang lain. tapi kalau kejadiannya terus-terusan, lama-lama kita juga capek, apalagi kalau setiap kali dibahas, jawabannya selalu sama.
soalnya, minta maaf itu memang penting, tapi bukan berarti semuanya langsung selesai setelah kata maaf diucapkan. ada bagian yang lebih penting, yaitu bagaimana seseorang memperlakukan kita setelah dia tahu kalau tindakannya pernah menyakiti kita. apakah dia berusaha memahami kenapa kita kecewa, atau justru menganggap kita terlalu sensitif karena masih mempermasalahkan hal yang sama?
kadang yang bikin seseorang kehilangan kepercayaan itu bukan cuma kesalahan yang dilakukan, tetapi juga perasaan bahwa orang tersebut nggak benar-benar belajar dari kesalahannya. kita jadi bertanya-tanya, sebenarnya dia menyesal karena sudah menyakiti kita atau cuma nggak nyaman melihat kita kecewa?
at the end of the day, perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada permintaan maaf yang terdengar manis berkali-kali. bukan berarti seseorang nggak boleh melakukan kesalahan lagi, tapi harus ada usaha untuk memperbaiki diri. karena kalau memang sadar sudah melakukan kesalahan, seharusnya ada kemauan untuk nggak terus mengulang hal yang sama.
normalize spending money to make yourself feel good. makan enak, beli baju baru, beli makeup baru, beli perintilan lucu, and wear things that make you feel confident. self care isn’t always about expensive things, but you’re allowed to spend on yourself too💅🫶
ada yang merasa bersalah setiap kali mengambil uang dari tabungan, padahal uang itu memang dikumpulkan untuk tujuan tertentu. misalnya buat beli laptop, membayar pendidikan, memperbaiki sesuatu yang dibutuhkan, atau mewujudkan keinginan yang sudah direncanakan sejak lama. begitu uangnya dipakai, muncul perasaan seperti kembali ke titik awal karena jumlah tabungan jadi berkurang.
padahal, menabung bukan berarti uangnya harus terus tersimpan dan nggak boleh disentuh sama sekali. kalau dari awal kita memang menabung untuk suatu tujuan, menggunakan uang itu saat waktunya tiba justru bagian dari perencanaan keuangan. kita bekerja dan menyisihkan uang bukan cuma supaya angkanya terus bertambah, tetapi juga supaya uang tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan kita.
yang perlu diperhatikan adalah apakah pengeluaran itu memang sudah direncanakan atau hanya keputusan sesaat. kalau kita sudah mengumpulkan uang untuk membeli sesuatu yang memang dibutuhkan, tentu berbeda dengan menghabiskan tabungan karena tiba-tiba ingin membeli barang yang sebenarnya masih bisa ditunda.
yang penting, jangan sampai semua tabungan dipakai tanpa perhitungan sampai kita nggak punya pegangan untuk keadaan darurat. punya tujuan finansial itu bagus, tapi punya dana cadangan juga nggak kalah penting. idealnya, kita bisa membedakan uang untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan tujuan tertentu, dan dana darurat sesuai kemampuan masing-masing.
money should serve a purpose, bukan cuma bikin kita merasa aman karena melihat angkanya terus bertambah. jadi, kalau suatu hari tabunganmu berkurang karena digunakan untuk tujuan yang memang sudah kamu rencanakan, bukan berarti kamu gagal menabung. justru itulah salah satu alasan kenapa kamu menyisihkan uang sejak awal.
kadang ada orang yang gampang banget bilang maaf, tapi kesalahan yang sama terus diulang. awalnya mungkin kita masih bisa memaklumi, namanya juga manusia pasti pernah salah. kita juga nggak mungkin selalu benar dalam memperlakukan orang lain. tapi kalau kejadiannya terus-terusan, lama-lama kita juga capek, apalagi kalau setiap kali dibahas, jawabannya selalu sama.
soalnya, minta maaf itu memang penting, tapi bukan berarti semuanya langsung selesai setelah kata maaf diucapkan. ada bagian yang lebih penting, yaitu bagaimana seseorang memperlakukan kita setelah dia tahu kalau tindakannya pernah menyakiti kita. apakah dia berusaha memahami kenapa kita kecewa, atau justru menganggap kita terlalu sensitif karena masih mempermasalahkan hal yang sama?
kadang yang bikin seseorang kehilangan kepercayaan itu bukan cuma kesalahan yang dilakukan, tetapi juga perasaan bahwa orang tersebut nggak benar-benar belajar dari kesalahannya. kita jadi bertanya-tanya, sebenarnya dia menyesal karena sudah menyakiti kita atau cuma nggak nyaman melihat kita kecewa?
at the end of the day, perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada permintaan maaf yang terdengar manis berkali-kali. bukan berarti seseorang nggak boleh melakukan kesalahan lagi, tapi harus ada usaha untuk memperbaiki diri. karena kalau memang sadar sudah melakukan kesalahan, seharusnya ada kemauan untuk nggak terus mengulang hal yang sama.

























