Kalau kaya gini caranya, sama aja kemaren-kemaren itu bohong ke aku, bilang aku segalanya buat kamu tapi nyatanya aku cuma outsider di hidup kamu."
Tanpa berpamitan, aku berbalik dan berjalan keluar cafe. Masa bodoh jika Miyu menyusul langkahku, aku tidak ingin menggubrisnya.
untuk saat ini rasanya aku nggak mau dengar dan nggak mau tahu, apapun itu dari kamu."
Semakin aku menatapnya, sejujurnya semakin ingin aku mengetahui saat itu juga tentang alasannya sampai ia mendapatkan luka sebesar itu di tubuhnya. Sialnya lagi, aku membeku.
"Iya? Siapa ya?" tanyaku karena aku baru pernah melihat orang ini walau aku berasumsi bahwa dia adalah temannya Miyu. Karena kulihat nampan yang dibawa gadis itu berisikan dua gelas minuman.
Meski aku menyadari keberadaan Miyu, aku tidak mau terfokus padanya.
Tanganku beberapa kali bergerak hanya meratapi setiap sisi cincin itu tidak setara dengan apa yang kudapatkan kala itu.
โHaah, ga bisa kalau gini terus, jual lagi aja deh,โ gerutuku kesal sambil menutup kotak cincin itu dan kumasukkan kembali ke dalam tas.