Pinned Tweet
Bedah Politik Saiful Mujani
Majalah Gatra (2007) menyebutnya sebagai arsitek survei opini publik di Indonesia.
Asosiasi Dunia untuk Penelitian Opini Publik atau World Association of Public Opinion Research (WAPOR) (2021) memasukkan namanya sebagai salah satu pioner survei opini publik di Asia.
Setahun terakhir, dia rajin hadir menyumbang data dan analisa sosial politik Tanah Air. Dari soal perkembangan demokrasi, toleransi, dan kontestasi menuju Pemilu raya 2024...
Lewat Program Bedah Politik yang tayang mingguan di kanal Youtube SMRC TV.
"Dalam masyarakat terbuka sangat penting untuk mengangkat dan memahami aspirasi atau keinginan publik atas dasar data riset yang solid, bukan tafsir spekulatif," katanya.
youtube.com/@SMRCTV
muchlis a rofik retweeted
Indonesia is a good reminder that natural resources and a large population don't automatically make a country a great investment destination.
Look at what's happening there.
The MSCI Indonesia index has fallen roughly 50% in dollar terms in 2026, according to the chart.
Foreign direct investment inflows, which surged to $16 billion in Q4 2024, have since stagnated.
LG Energy Solution dropped plans for an $8 billion battery project. A $12 billion solar-panel-led industrial city backed by Xinyi has lost momentum.
And the problems go well beyond the stock market.
Under President Prabowo, Indonesia has tightened control over commodity exports, changed mining rules and increased state intervention. Businesses complain about regulatory uncertainty, while import restrictions have disrupted supply chains for companies such as Coca-Cola and PepsiCo.
The consumer story is weakening, too.
- Indonesia's middle-class share of workers fell from 16% a decade ago to 7% last year.
- Only 9% of consumers in a recent NielsenIQ survey felt financially better off than a year earlier, versus 54% in 2024.
- Unilever Indonesia's sales have fallen by a fifth since 2019, while operating profit has more than halved.
Here's the investing lesson.
A country can have nickel, coal, palm oil, a huge domestic market and headline GDP growth of around 5% yet still destroy shareholder value if policy uncertainty rises and consumers lose purchasing power.
For investors, there are three separate questions:
Is the economy growing?
Are businesses earning attractive returns on capital?
Can investors trust the rules governing those returns?
These are very different questions.
Indonesia's experience shows why country level growth forecasts alone are inadequate. Capital allocation, institutional quality, currency risk and the treatment of foreign investors matter just as much.
The second-order effect is when companies lose confidence in a market, they can delay capex, redirect investment elsewhere and reduce future job creation. That can weaken the very consumption growth the government wants to promote.
A resource rich country can attract capital once. Keeping that capital requires predictable rules.
Would you invest in a fast-growing economy if you couldn't confidently predict the rules under which your business would operate?
#Investing #EmergingMarkets #Indonesia #MSCI #TheEconomist
Source: The Economist
muchlis a rofik retweeted
Pamor Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) semakin buruk di mata publik. Itu terlihat dalam temuan Survei SMRC terbaru, Oktober 2026.
Seberapa banyak warga yang makin pesimis dengan perkembangan KDMP? Dan berapa banyak yang masih optimis?
Simak temuannya di Kilas Data.
#SMRC #KilasData #KoperasiMerahPutih #KDMP
muchlis a rofik retweeted
Indonesia’s business environment has suffered deep decay during the presidency of Prabowo Subianto. Under him cronyism has grown rampant and the government has become increasingly meddlesome economist.com/business/2026/…
MSCI’s threat to strip Indonesian equities of emerging-market status is now also weighing on dealmaking in the corporate bond market. bloomberg.com/news/articles/…
muchlis a rofik retweeted
Di tengah sentimen negatif publik yang semakin besar pada kinerja pemerintahan Prabowo, dukungan pada Dedi Mulyadi justru meninggi. Dalam simulasi semi terbuka, suara KDM mencapai 35,5 persen, jauh meninggalkan tokoh-tokoh potensial lain yang bersaing di kisaran 8 sampai 10 persen saja, termasuk Prabowo. Dalam simulasi dua nama melawan Prabowo, suara KDM sudah mencapai 69,3 persen dan Prabowo hanya 18,8 persen.
Pertanyaannya mengapa dukungan pada KDM meninggi di tengah sentimen negatif pada kinerja pemerintah? Saya coba ajukan kemungkinan penjelasannya melalui kolom terbaru di Indonesia at Melbourne berjudul "This Gerindra politicians is now more popular than Prabowo: explaining the curious rise of Dedi Mulyadi" ini. Silakan sruput dan sebar. Link di bawah.
muchlis a rofik retweeted
Tau ga kenapa bisa jadi pengangguran terendah semenjak 1994?
itu karena dipengaruhi oleh definisi "pengangguran" nya.
Pengangguran menurut definisi ILO dan pemerintah adalah orang yg bekerja dibawah 1 jam👀
jadi orang yg tadinya kerja formal gaji UMK jakarta tbtb kena phk akhirnya jualan pop ice atau jadi driver online yg penghasilannya jauh dari kata layak dan cukup
kondisi itu diklaim pemerintah sebagai kinerja mereka menurun kan angka pengangguran.
pemerintah bagaikan menari diatas penderitaan orang lain.
muchlis a rofik retweeted
Keterkaitan anak mantu Presiden dg pebisnis Singapura dalam "Jendela" Gate ini belum banyak muncul di media mainstream. Aneh ya.
Baru Kumparan yg sudah menkonfirmasi pergerakan pesawat jet Singapur itu..
kumparan.com/kumparannews/me…
Saiful Mujani Bantah Bertemu Dubes Singapura: Yang Viral di Medsos Murni Ngarang
Klik untuk baca: nasional.kompas.com/read/202…
Rejim gagal menutupi kelemahan dengan menunjuk kambing hitam.
Kalau perlu dengan menfitnah warga sendiri.
Busuk.
Survei LPEM FEB UI: Mayoritas Ekonom Sebut Penciptaan Lapangan Kerja RI Memburuk nasional.kontan.co.id/news/s… @KontanNews
muchlis a rofik retweeted
Bantu UP, guys.. 🚨
Salah satu media internasional, ABC News Australia, mewawancarai seorang kepala sekolah di Palangka Raya bernama Nathaniel.
Nathaniel menjelaskan bahwa karhutla udah berlangsung selama empat bulan, dan dua bulan terakhir jadi periode yang sangat berat. Bayangin, selama itu yang mereka lihat cuma langit berwarna kuning keabu-abuan.
Dia juga mengatakan bahwa saat ini warga cuma bisa berusaha bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak warga dari kalangan ekonomi rendah yang bahkan nggak punya perlindungan memadai untuk menghadapi kebakaran ini.
EMPAT BULAN, GUYS. Bukan empat hari. Sementara warga Kalimantan terus berjuang buat bertahan hidup di tengah kondisi yang makin berat.
Tolong bantu UP supaya kondisi mereka nggak terus diabaikan. Prabowo lu bener bener jahat banget 😭
@prabowo @kemenhut_ri @Gerindra @bahlillahadalia @KemenkesRI @ConservationOrg @UNEP @IPCC_CH @Greenpeace @UN @antonioguterres @Reuters @AJEnglish @The_Hindu @SCMPNews @ChannelNewsAsia @hrw @guardian @save_children @GreenpeaceID
muchlis a rofik retweeted
Baca selengkapnya: nasional.kompas.com/read/202…
Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal menilai ada "tim siluman" yang terorganisasi di balik hoaks pertemuannya dengan Dubes Singapura.
~MS #DinoPattiDjalal #newsplay [2026102523314721]
muchlis a rofik retweeted
Kritik Terhadap Lembaga Survei
SMRC penuhi undangan FISIP UIN Jakarta.
Dicecar banyak pertanyaan: Bagaimana bisa hasil survei antar lembaga bisa berbeda jauh, padahal waktu survei hampir bersamaan?
Bagaimana dengan pengaruh donor dan penyandang dana survei?
Bagaimana menegakkan etika dan mewajibkan audit hasil survei?
Apa yang bisa dilakukan pemerintah, asosiasi lembaga survei, dan kampus?
Diskusi menarik.
Sayang lembaga survei yang datang hanya SMRC.
Yang minat menyimak dialognya, silakan.
Ada hadir Ade Armando, ada Prof Saiful Mujani.
Dialog menarik.
Rekamannya sudah tayang di SMRC TV.
Linknya di sini..
youtu.be/YsFub3Q9Si8?si=cquo…
muchlis a rofik retweeted
Ada Apa dengan KOMPAS?
Ada dua data approval rating yang saling bertentangan.
Satu bilang approval rating jeblok, datanya dari survei lembaga yang bernaung di organisasi profesi, dan karena itu datanya bisa diaudit..
Satu lagi approval rating tetep moncer, datanya dari survei lembaga yang tercatat keluar dari organisasi profesi justru ketika mau diaudit..
Kompas lebih memberitakan yang kedua, dan mengabaikan yang pertama.
Bung @by_awaludin mengumpulkan berita Kompas terkait lembaga survei dari 16 s/d 23 Oktober.
Dan ini hasilnya..
Saya baca Kompas dari tahun 80-an, dan selama ini meyakini Kompas adalah wujud standar tertinggi jurnalisme di Tanah Air.
Kalau begini, ada apa dengan Kompas hari2 ini?
Jangan cuma putus pasokan gas.
Ini jaringan kolusi perusahaan2 Singapur di Tanah Air juga mesti dibongkar..
Bongkar.
Media Singapura sudah mulai mencium gelagat aneh keluarga Mulyono.
The Strait Times sudah bertanya pada Sea Group, namun belum ada respons.
"Sea has not responded to The Straits Times’ request for more information."
Ingat pesawat jet yang dipakai itu:
1) Pernah dimiliki Garena, perusahaan Singapura, di bawah Sea Group.
2) Sea Group ini isinya antara lain Shopee dan Garena.
3) Produk game Garena, Free Fire, adalah salah satu sponsor Persis Solo.
4) Persis Solo ini punya Kaesang.
Akankah isu ini menggelinding ke ranah internasional?
Nantikan di gelombang radio yang sama. Jangan lewatkan drama radio Saur Sepuh!
Mereka yang menikmati sogokan pengusaha2 Singapura.
Kita yang dicap buzer Singapur.
Replying to @muchlis_ar
Keterkaitan anak mantu Presiden dg pebisnis Singapura dalam "Jendela" Gate ini belum banyak muncul di media mainstream. Aneh ya.
Baru Kumparan yg sudah menkonfirmasi pergerakan pesawat jet Singapur itu..
kumparan.com/kumparannews/me…
Rejim inkompeten pakek cara2 jahat menutupi kegagalan, mengframing pengkritik.
Busuk.
Singapore embassy rejects claims of meeting with Indonesian figures, says it’s ‘disinformation’ bit.ly/3UfVcvu
muchlis a rofik retweeted
ada golongan kelima yang sengaja dilupakan: nasionalis yang cukup waras untuk membedakan kepentingan negara dari kepentingan penguasa.
mencintai indonesia tidak sama dengan mencintai prabowo. mengkritik prabowo tidak sama dengan membenci indonesia.
Saat Presiden @Prabowo konsisten dengan sikap nasionalismenya, maka rakyat terbagi 4 (empat) golongan :
1) nasionalisme tulen - mendukung.
2) londo ireng - menolak dan menakut-nakuti.
3) oportunis - mencari celah dapat keuntungan
4) masa bodoh.





















