LOS ANGELES HANYA ANGKA KECIL BAGI TRUMP
Mengapa Donald Trump berani berbicara seolah kehancuran Los Angeles atau San Diego hanyalah “harga yang sangat kecil” demi menundukkan Iran? Mengapa minyak, harga bensin, ekonomi Amerika, bahkan ancaman nuklir terasa terlalu dangkal untuk menjelaskan keberanian itu? Karena persoalan sesungguhnya jauh lebih dalam dan lebih berbahaya bagi Washington.
Iran tidak sekadar menolak satu kebijakan Amerika. Iran menolak menjadi bagian dari sistem yang pusat keputusannya berada di Washington. Negara ini membangun politiknya sendiri, pertahanannya sendiri, jaringan kekuatannya sendiri, dan hubungan internasionalnya sendiri tanpa pernah meminta izin. Bagi sebuah kekuatan hegemonik, inilah dosa yang paling sulit diampuni: sebuah negara besar di kawasan strategis yang tetap berdiri tegak tanpa tunduk.
Nuklir bisa dinegosiasikan. Minyak bisa diperdagangkan. Ekonomi bisa dihitung. Bahkan keamanan bisa dirundingkan. Namun sebuah negara yang dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak berada di bawah kendali Amerika dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan keputusan itu adalah sesuatu yang jauh lebih sulit diterima. Maka ketika Trump menyebut kehancuran Los Angeles atau San Diego sebagai harga kecil, yang sedang dihitung sebenarnya bukan sekadar korban sipil, melainkan harga mempertahankan hegemoni. Kota dengan jutaan jiwa tiba-tiba menjadi angka di kalkulator perang, dan rakyat Amerika sendiri dimasukkan ke dalam kolom “biaya yang masih bisa ditanggung.”
Di balik perhitungan dingin itu tersimpan psikologi yang semakin sinistral, semakin kronis, dan semakin berbahaya. Psikologi hegemoni yang tidak lagi sekadar ambisi kekuasaan, melainkan obsesi patologis untuk tetap menjadi pusat mutlak. Sebuah mentalitas yang tidak mampu menerima eksistensi kekuatan lain yang berdiri di luar orbitnya. Semakin Iran berhasil bertahan, semakin dalam rasa terancam itu menggerogoti. Yang semula hanya strategi politik berubah menjadi luka psikologis yang kronis: ketidakmampuan mentolerir kenyataan bahwa dunia tidak lagi sepenuhnya dapat dikendalikan dari Washington. Dan ketika rasa terancam itu menjadi kronis, ia berubah menjadi destruktif. Tidak hanya terhadap lawan, tetapi terhadap diri sendiri. Kota-kota sendiri, warga sendiri, bahkan stabilitas internal sendiri mulai diperlakukan sebagai variabel yang bisa dikorbankan demi mempertahankan ilusi kendali.
Ironi terbesar terletak di sini. Amerika tidak sedang bertarung melawan Iran hanya karena minyak atau teknologi nuklir. Amerika sedang bertarung melawan kemungkinan bahwa sebuah negara bisa berkata “tidak” kepada Washington dan tetap bertahan. Selama Iran mampu berdiri di luar orbit itu, persoalan tidak akan pernah selesai. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar Iran, melainkan contoh berbahaya bahwa hegemoni bisa ditolak. Dan semakin contoh itu berhasil dipertahankan, semakin kronis pula psikologi yang menolaknya. Semakin destruktif pula cara-cara yang dipertimbangkan. Semakin berbahaya pula bagi bangsa yang justru seharusnya dilindungi oleh pemimpinnya sendiri.
Jadi, mungkin yang paling mahal bagi Trump bukan harga minyak, bukan harga bensin, bukan kerugian ekonomi, bahkan bukan biaya perang itu sendiri. Yang paling mahal adalah kehilangan hak untuk menentukan siapa yang boleh berdiri sendiri dan siapa yang harus tunduk. Karena itu Los Angeles bisa disebut kecil. San Diego bisa disebut kecil. Bahkan luka besar di tubuh Amerika sendiri bisa dianggap layak, selama Iran akhirnya dipaksa kembali ke dalam sistem yang sama.
Iran tidak sekadar menolak Amerika. Iran menolak sistem yang menempatkan Amerika sebagai pusat mutlak. Dan justru itulah harga yang tidak bersedia dibayar Washington: kehilangan hegemoni. Sebuah harga yang, dalam psikologi yang semakin sinistral dan kronis ini, justru dianggap lebih mahal daripada kehancuran kota-kotanya sendiri.
KURSI-KURSI KOSONG PBB DAN PDATO MONOLOG
Di panggung diplomasi tertinggi dunia—yang kadang lebih mirip teater mahal dengan anggaran katering tak terbatas—terjadi keajaiban langka: sebagian diplomat menemukan tulang belakang dan memutuskan menggunakannya.
Saat PM rezim biadab itu melangkah menuju podium, puluhan delegasi berdiri, membalikkan badan, lalu keluar karena mereka menolak menjadi dekorasi hidup bagi pidato yang menganggap hukum internasional sebagai gangguan musiman.
Rombongan terbesar datang dari OKI dan Liga Arab—termasuk Indonesia, yang kali ini membuktikan sikap kemanusiaannya bukan hanya lewat pernyataan pers dari Jakarta, tetapi lewat kaki yang melangkah keluar. Gerakan Non-Blok dan Global South dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin ikut bergabung.Rusia ikut mengosongkan ruangan.
Empat negara Eropa—Spanyol, Irlandia, Slovenia, dan Islandia—juga beranjak keluar. Di tengah tekanan politik, ekonomi, dan diplomatik dari sekutu-sekutu Barat mereka, mereka memilih tidak bergeming. Mukjizat kecil: ada negara Eropa yang masih ingat bahwa “nilai-nilai universal” bukan cuma slogan untuk poster kampanye.
Akibatnya, podium utama berubah menjadi panggung monolog yang canggung. Netanyahu berpidato di hadapan deretan kursi kosong dan barisan diplomatnya sendiri. Podium itu seolah menjadi ruang terapi: seorang pria berbicara pada egonya sendiri, ditemani mikrofon dan gema. Kursi-kursi kosong adalah audiens ideal—tidak memprotes, tidak bertanya, dan yang terpenting, tidak bisa meninggalkan ruangan.
Aksi walkout ini akan dicatat sejarah sebagai simpul solidaritas global. Momen ketika puluhan bangsa memilih berdiri, membalikkan badan, dan pergi. Bukan untuk kabur dari pidato, tapi untuk menolak dijadikan latar bagi sandiwara impunitas.
Dan kursi-kursi kosong itu—entah bagaimana—terdengar lebih jujur daripada banyak pidato yang pernah menggelegar di gedung itu.
INGIN HANCURKAN BANGSA IRAN, TRUMP MERACAU DI JALAN BUNTU
Pernyataan gila baru saja meluncur dari mulut Donald Trump dalam wawancara eksklusifnya bersama New York Post. Dengan lagak pongah, ia mengumumkan kepada dunia bahwa dirinya telah memasuki apa yang ia sebut sebagai mode penentuan terhadap nasib Iran. Di hadapan media, Trump tanpa ragu membeberkan opsi-opsi liar yang berkecamuk di kepalanya, mulai dari membiarkan Iran membusuk secara ekonomi, memaksakan kesepakatan sepihak, hingga melontarkan sebuah kalimat biadab yang secara terang-terangan menunjukkan niatnya untuk menghancurkan satu bangsa seutuhnya, yaitu kapan saya harus meledakkan seluruh negeri itu.
Sebuah pernyataan eksplisit tentang niat menghancurkan bangsa Iran, di mana ia secara sadar mempertimbangkan untuk melenyapkan satu negara berdaulat beserta puluhan juta rakyatnya dari muka bumi. Ucapan ini dilontarkan tepat ketika para pemimpin dunia, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, tengah bersiap berkumpul di New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, mencari jalan keluar atas kebuntuan Selat Hormuz melalui jalur diplomasi.
Namun, di balik kebrutalan kata-katanya, dunia tidak melihat wibawa seorang panglima adidaya. Yang tersingkap justru pemandangan menyedihkan tentang seorang pemimpin yang sedang kalang kabut dan berada di ujung tanduk. Mengancam untuk membumihanguskan satu bangsa secara total bukanlah tanda kekuatan militer yang terukur. Itu adalah jeritan frustrasi, cerminan keputusasaan seorang penjudi politik yang kehabisan akal setelah seluruh sanksi dan tekanannya membentur jalan buntu.
Bagi Teheran dan para pengamat internasional, racauan Trump di New York Post adalah bukti telanjang dari arogansi narsistik yang bodoh. Menjadikan kehancuran total bangsa Iran dan nyawa puluhan juta warga sipil sebagai gertakan murahan menelanjangi betapa dangkalnya etika dan kalkulasi politik sosok ini. Alih-alih membuat Amerika tampak perkasa, arogansi biadab ini justru mempermalukan martabat bangsanya sendiri di panggung dunia.
Amerika Serikat tidak lagi tampak hebat atau disegani seperti masa lalu, melainkan terhina, terisolasi, dan kehilangan sisa wibawa moralnya di hadapan bangsa-bangsa. Trump kini terjebak di dalam labirin kepanikannya sendiri, seorang penguasa yang kalap melihat lawan tak kunjung bertekuk lutut, bernafsu menghancurkan seluruh negeri, namun pada akhirnya hanya mampu meracau tanpa arah di hadapan dunia yang mencemoohnya.
TRUMP DITAMPAR PERTANYAAN JURNALIS
Dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, berlangsung pertukaran dialog sebagai berikut:
Jurnalis (The New York Times):
"Quick question about Iran. You're talking about blowing up civilian power plants and bridges. Much of the civilised world would consider that a war crime. Do you?"
(Pertanyaan singkat tentang Iran. Anda berbicara tentang meledakkan pembangkit listrik dan jembatan sipil. Sebagian besar dunia beradab akan menganggap itu sebagai kejahatan perang. Apakah Anda juga menganggapnya demikian?)
Donald Trump:
"I won't respond to that question. Who are you with?"
(Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu. Anda dari mana?)
Jurnalis (The New York Times):
"The New York Times."
Donald Trump:
"I figured so. The failing New York Times."
(Sudah saya duga. The New York Times yang gagal.)
Disodori pertanyaan fundamental mengenai pengeboman terhadap pembangkit listrik dan jembatan sipil—objek yang dilindungi secara ketat oleh Konvensi Jenewa—Donald Trump merespons dengan kibatan tangan acuh tak acuh: "I won't respond to that question". Kalimat ini adalah deklarasi kepandiran politik yang disengaja.
Seketika pertanyaan etis itu mentok pada tembok keangkuhan, sirkus komunikasi berlanjut melalui taktik pengalihan (deflection). Refleks untuk bertanya "Who are you with?" lalu menyambar dengan cemoohan "failing New York Times" membongkar kepicikan strategi populisme. Esensi kejahatan perang dihindari sepenuhnya, lalu digantikan oleh serangan ad hominem untuk meremukkan kredibilitas sang penanya.
Pertanyaan kritis mengenai pembantaian sipil dan perusakan fasilitas publik yang telah dilakukan Trump adalah tamparan keras ke wajah sohib akrab Jeffrey Epstein itu.
Dialog singkat itu melucuti topeng Amerika Serikat dan membuktikan bahwa AS dipimpin oleh monster yang dipilih lebih dari setengah rakyat dewasa Amerika.
TRUMP AJAK TUHAN IKUT BERKOALISI MENGHADAPI IRAN
Sebuah video beredar. Di halaman Gedung Putih, doa dipimpin oleh Franklin Graham, presiden dan CEO Billy Graham Evangelistic Association dan Samaritan's Purse, memohon Iran dan Persia dihancurkan. Alasannya: Iran disebut membenci orang Yahudi. Bom gagal. Sanksi gagal. Tekanan gagal. Propaganda gagal. Maka Tuhan direkrut ke barisan perang, lewat mikrofon seorang pengkhotbah.
Tuduhan itu fitnah yang malas. Iran punya komunitas Yahudi resmi, dengan kursi tetap di parlemen, dipilih untuk mewakili komunitas itu, bukan dipajang sebagai dekorasi. Iran menentang Israel dan Zionisme. Menyulap penentangan terhadap negara dan ideologi menjadi kebencian pada satu bangsa bukan kekeliruan. Itu kebohongan yang dipelihara karena berguna.
Maka yang beredar itu bukan doa. Itu propaganda berjubah doa, dan yang mengenakan jubah itu bukan sembarang orang. Franklin Graham bukan figur di pinggir panggung politik Amerika. Ia representasi paling kuat dari evangelikalisme yang selama puluhan tahun menjadi mesin dukungan politik untuk Israel, dibungkus teologi. Ketika ia berdoa untuk kehancuran Iran, itu bukan pengecualian. Itu pekerjaan yang memang ditugaskan kepadanya.
Tuhan dipanggil bukan karena kehabisan kata kepada-Nya, tapi karena kehabisan alasan di depan manusia. Fitnah yang gagal sebagai argumen, disuntik nama Tuhan, naik kelas jadi wahyu. Kebencian dibungkus jadi kesalehan.
Tuhan tidak butuh kamera. Yang butuh kamera, tepuk tangan, dan simpati adalah politik. Ini kampanye yang cosplay jadi ibadah. Sasarannya bukan langit, tapi publik. Bukan malaikat, tapi pemilih. Bukan Tuhan, tapi lobi pro-Israel dan basis evangelikal yang ingin melihat Washington masih sanggup membungkus kebencian pada Iran sebagai ritual suci.
Di sinilah satirnya. Armada gagal. Rudal gagal. Sanksi gagal. Intelijen gagal. Satu senjata belum dicoba: doa di Gedung Putih, dipimpin pengkhotbah yang paham betul bahwa mimbar bisa mengerjakan apa yang tak sanggup dikerjakan rudal.
Tapi ada yang lebih serius: doa yang dibangun di atas fitnah tidak jadi suci hanya karena diucapkan oleh seorang pendeta dengan tangan terangkat. Kebohongan tetap kebohongan walau dilafalkan di depan kamera. Memohon kehancuran sebuah bangsa dengan alasan palsu bukan ibadah. Itu kebencian yang minta restu, dan kali ini restu itu dipinjam dari jubah kependetaan.
Video itu dimaksudkan memperlihatkan kekuatan. Yang terlihat justru kekuasaan yang kehabisan akal. Dari mengirim pesawat pengebom, kini mengirim pengkhotbah. Bahkan Tuhan pun diminta menuntaskan perang yang tak sanggup mereka menangkan sendiri.
LOGIKA SUNGSANG DI BALIK ALIANSI BENTUKAN SAUDI
Tiga kepala negara berkumpul di kota tersuci Islam untuk menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu dari mereka adalah serangan terhadap ketiganya. Upacara ini disebut historis. Yang tidak disebut, dan memang sengaja tidak disebut, adalah nama musuh yang sesungguhnya membuat pakta ini perlu ada.
Pernyataan resminya menggunakan bahasa "deterrence terhadap segala bentuk agresi" — bahasa yang begitu netral hingga ia bisa merujuk pada siapa saja, atau, yang lebih tepat, sengaja dirancang agar tidak merujuk pada satu pihak tertentu. Iran disebut di setiap laporan berita sebagai pemicu, karena Iran yang menembaki kilang-kilang minyak Teluk. Tapi siapa yang sesungguhnya sudah menyerang Qatar, sekutu dekat Riyadh, hanya beberapa hari sebelum pakta ini diteken? Bukan Teheran. Israel menyerang wilayah Qatar, dan Riyadh menjawabnya bukan dengan kecaman melainkan dengan menandatangani pakta pertahanan yang justru berpotensi menghadapkan mereka pada Iran, bukan pada negara yang benar-benar baru saja melanggar kedaulatan sekutunya.
Ini adalah logika yang terbalik dengan sempurna. Sebuah negara yang telah menyatakan, lewat peta yang dipajang di podium Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahwa wilayahnya membentang hingga menelan sebagian Semenanjung Arab dalam konsepsi "Israel Raya" — negara itu tidak menjadi alasan pembentukan pakta pertahanan trilateral. Yang menjadi alasan adalah Iran, yang sejak Februari memang menembaki Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika-Israel terhadap wilayahnya sendiri. Sebab-akibat dibalik sedemikian rapi sehingga korban serangan awal — Iran — kini didudukkan sebagai ancaman utama bagi ketiga negara ini, sementara pihak yang memulai eskalasi, yang mempertahankan proyek ekspansi teritorial paling terang-terangan di kawasan, diperlakukan sebagai mitra keamanan yang tidak perlu disinggung.
Erdogan menandatangani pakta ini sambil pemerintahannya sendiri secara retoris mengecam genosida di Gaza. Pakistan menandatangani sebagai pemilik satu-satunya senjata nuklir di dunia Muslim, kekuatan pencegah yang justru paling relevan jika diarahkan pada negara yang sudah menduduki Tepi Barat, mencaplok Golan, meratakan Gaza, dan menyerang Lebanon, Suriah, Yaman, serta terbaru Qatar — bukan pada Iran yang tidak pernah menyatakan niat mencaplok tanah Arab manapun. Kombinasi kekuatan finansial Saudi, industri pertahanan Turki, dan daya gentar nuklir Pakistan adalah persis apa yang dibutuhkan untuk menekan Israel menghentikan proyek Israel Raya dan mengakhiri pendudukan Palestina. Kombinasi itu justru dirumuskan untuk skenario lain.
Yang lebih menyingkap adalah argumen "purely defensive in nature" yang dipakai pejabat Turki untuk meredakan kekhawatiran. Defensif terhadap apa? Terhadap negara yang selama tiga tahun terakhir menembaki delapan negara berbeda di kawasan, termasuk terbaru Qatar, ataukah terhadap negara yang membalas serangan yang lebih dulu dijatuhkan atasnya? Definisi "agresi" dalam pakta ini ternyata cair, tergantung siapa yang menembak lebih dulu di narasi resmi, bukan siapa yang menembak lebih dulu di kenyataan.
Anggota parlemen Iran menyebut pakta ini "perjanjian di atas kertas" yang tidak akan memberi keamanan sungguhan. Ironinya, ia mungkin benar — bukan karena Turki dan Pakistan lemah, melainkan karena pakta ini dirancang untuk menghadapi ancaman yang bukan ancaman utama, sambil membiarkan yang sesungguhnya berjalan tanpa hambatan tambahan apa pun.
BADUT PSIKOPAT DI PODIUM
Menurut laporan The Daily Star, penonton yang menyaksikan konferensi pers Gedung Putih menyaksikan Donald Trump tampil sebagai sosok yang semakin menyerupai badut psikopat di podium. Penampilan yang digambarkan sebagai “bizarre” (aneh) dan “rambling” (bertele-tele) itu membuat ribuan orang yakin bahwa ia sedang berada dalam “downward spiral” (spiral menurun) yang sulit disembunyikan. Rekaman langsung saat ia menandatangani perintah eksekutif terkait kewarganegaraan kelahiran justru memperlihatkan wajah dan gerakan yang disebut “unwell” (tidak sehat), seolah-olah kontrol atas dirinya sendiri semakin longgar di depan kamera.
The Daily Star mencatat bahwa reaksi publik di media sosial langsung mengarah pada penilaian yang lebih keras. Perilaku yang dinilai semakin tak menentu, lompatan topik yang tidak terkontrol, serta ekspresi yang tidak stabil membuat banyak pihak menyerukan pemeriksaan medis segera. Laporan itu juga mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan Mary Trump, keponakan yang berprofesi sebagai psikolog, yang kembali menyatakan bahwa kondisi pamannya sudah terlalu nyata untuk diabaikan.
Juru bicara Gedung Putih, Steven Cheung, menanggapi dengan menyebut Mary Trump sebagai “stone-cold loser who doesn’t have a clue” (pecundang dingin yang sama sekali tidak punya petunjuk). Bantahan itu terdengar kosong di tengah rekaman yang memperlihatkan Trump berpindah-pindah dari harga bahan bakar ke blokade Angkatan Laut, lalu ke kapal miliaran dolar dan ranjau laut tanpa benang merah yang jelas. The Daily Star menggambarkan rangkaian omongan itu sebagai aliran yang semakin sulit diikuti, memperkuat kesan bahwa sosok di podium berbicara lebih kepada dunianya sendiri.
Gambaran yang disajikan The Daily Star menempatkan Trump sebagai figur yang terus memamerkan kombinasi antara kelucuan yang dipaksakan dan ketidakstabilan yang tidak lagi bisa ditutupi. Setiap gerakan tangan yang berlebihan, setiap senyum yang tidak pada tempatnya, dan setiap janji spektakuler yang diucapkan dengan nada mengancam menjadi bagian dari tontonan yang sama. Jarak antara pernyataan bombastis dan kenyataan yang datar semakin lebar, sementara badut di podium tetap berdiri tegak, seolah tidak menyadari bahwa yang terlihat publik bukan lagi pemimpin, melainkan pertunjukan yang semakin retak.
MENYERANG DEMI MERAIH POIN, MALAH KEHILANGAN POIN
Agresi yang dilancarkan Amerika bersama Israel sejak awal mengusung ambisi yang nyaris megalomanik: menjatuhkan pemerintahan Iran, meremukkan kemampuan militernya, melumpuhkan ekonominya, mengguncang stabilitas politiknya, mematahkan daya tahannya, dan memaksanya bertekuk lutut. Seluruh instrumen kekuatan yang bisa dibayangkan dikerahkan—ancaman militer, tekanan diplomatik, embargo ekonomi, operasi intelijen, hingga serangan langsung—semuanya dijalankan dengan keyakinan penuh bahwa Iran akan runtuh begitu disentuh. Ini bukan lagi perang, ini pertaruhan skor.
Kenyataan kemudian menampar dengan cara yang paling telanjang. Tidak satu pun dari tujuan-tujuan besar itu terwujud. Pemerintahan Iran tetap berdiri, struktur negaranya tetap utuh, dan kapasitasnya mengambil keputusan strategis sama sekali tidak tergores. Yang disiapkan sebagai eksekusi berubah menjadi pertunjukan kegagalan yang dibiayai mahal—dan yang paling mahal bukan hanya rudal dan logistik, tapi harga diri yang dipertaruhkan di depan seluruh dunia yang menonton.
Yang paling menggelikan adalah proses penyusutan ambisi itu sendiri. Dari cita-cita menjatuhkan sebuah negara, target akhirnya mengerdil menjadi satu urusan teknis yang sangat sepele: membuka kembali Selat Hormuz. Sebuah selat yang, sebelum agresi ini dimulai, sudah terbuka dengan sendirinya, tanpa perlu dibantu siapa pun. Amerika berhasil menciptakan masalah yang sebelumnya tidak ada, lalu menghabiskan sisa energinya untuk menyelesaikan masalah ciptaannya sendiri. Ini bukan strategi, ini swa-sabotase yang dibungkus retorika kemenangan—seperti pemain yang datang untuk mencuri bola, malah kehilangan bola sendiri di kaki lawan.
Ketidakmampuan membuka kembali satu jalur sempit di Hormuz adalah monumen kecil bagi kebenaran yang tidak nyaman: superioritas militer, sebesar apa pun, tidak otomatis menerjemahkan diri menjadi keberhasilan politik. Dengan seluruh armada, teknologi mutakhir, dan kekuatan tempur yang dipamerkan ke seluruh dunia, Amerika tetap tergagap menghadapi satu celah air yang lebarnya bahkan tidak sampai puluhan kilometer. Papan skor tidak berbohong: nol untuk ambisi besar, minus untuk stabilitas yang justru diciptakan sendiri.
Maka duduk perkaranya menjadi sangat sederhana: sebuah negara adidaya, dibantu Israel, datang dengan ambisi menghancurkan lawannya demi mengumpulkan poin kemenangan, dan pulang dengan poin yang justru berkurang. Itu adalah kekalahan telak yang benderang di mata dunia.
Malam Kelima Majelis 'Azza Imam Husain as 5 Muharram 1448 H | Ust. Muhsin Labib - MT.H2C Jakarta teapaw.org/i/broadcasts/1DGleenjY…
IRAN MENAMBAH SKOR KEMENANGAN
Salah satu capaian penting Iran dalam perkembangan terakhir konflik kawasan adalah keberhasilannya memastikan bahwa Hizbullah tidak dapat disingkirkan dari proses penyelesaian politik. Melalui persyaratan gencatan senjata yang terbentuk, Iran berhasil memaksakan pengakuan terhadap fakta bahwa Hizbullah tetap merupakan aktor yang harus diperhitungkan. Amerika Serikat dan Israel pada akhirnya tidak dapat mengabaikan keberadaan kekuatan yang selama ini berusaha dilemahkan dan dikeluarkan dari persamaan regional.
Keberhasilan ini memiliki makna yang melampaui sekadar pengaturan teknis gencatan senjata. Ia menunjukkan kegagalan upaya untuk meminggirkan Hizbullah dari panggung politik dan keamanan kawasan. Setelah berbagai tekanan, serangan, dan kampanye yang ditujukan untuk mengurangi pengaruhnya, Hizbullah tetap hadir sebagai faktor yang tidak dapat dilewati begitu saja.
Bagi Iran, ini merupakan tambahan skor kemenangan yang signifikan. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya nasib satu kelompok atau satu front perlawanan, melainkan pengakuan terhadap seluruh poros yang selama ini menjadi sasaran tekanan. Ketika sebuah pihak yang hendak disingkirkan justru tetap menjadi bagian dari kesepakatan, maka hal itu menunjukkan bahwa tujuan untuk menghapusnya belum tercapai.
Capaian tersebut melengkapi perkembangan lain yang tidak kalah penting, yaitu semakin tampaknya perbedaan posisi antara Amerika Serikat dan Israel. Selama bertahun-tahun, banyak pihak menganggap kedua negara bergerak sebagai satu kesatuan yang nyaris tanpa celah. Namun perkembangan terakhir memperlihatkan bahwa kepentingan keduanya tidak selalu identik dan tidak selalu berjalan dalam ritme yang sama.
Dalam perspektif ini, Iran tidak hanya berhasil mempertahankan sekutunya, tetapi juga berhasil memaksa lawannya berhadapan dengan kenyataan-kenyataan baru yang sebelumnya berusaha dihindari. Hizbullah tetap diperhitungkan. Perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan Israel semakin terlihat. Kedua hal tersebut menjadi indikator bahwa tekanan militer dan politik yang dilakukan selama ini tidak menghasilkan seluruh tujuan yang diharapkan.
Karena itu, jika kemenangan diukur dari kemampuan mempertahankan posisi, menggagalkan tujuan lawan, dan memaksakan pengakuan terhadap realitas yang ada di lapangan, maka perkembangan ini dapat dibaca sebagai tambahan skor kemenangan bagi Iran.
ISRAEL MENYERANG LEBANON DEMI MENGHALANGI NEGOSIASI AMERIKA-IRAN
Peristiwa beberapa hari terakhir memperlihatkan satu kenyataan yang telanjang: Israel sedang merusak jalur negosiasi yang ingin dibangun Amerika dengan Iran. Washington ingin menahan eskalasi. Israel justru mendorong kawasan menuju ledakan yang lebih besar.
Ketika Israel mengancam akan menyerang Dahiyah di Beirut selatan, Iran langsung memberi peringatan bahwa setiap serangan akan dibalas. Iran tidak sedang menggertak. Teheran sedang menetapkan garis merah — dan memastikan garis itu terdengar.
Donald Trump kemudian mengumumkan bahwa Israel menunda serangan atas desakannya. Pernyataan itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Amerika masih memiliki kendali atas sekutunya sendiri. Namun beberapa jam kemudian, Israel tetap menyerang Dahiyah. Dengan satu tindakan itu, Israel memperlihatkan kepada dunia bahwa perintah Washington tidak lagi sepenuhnya dihormati — dan bahwa jarak antara sekutu dengan klien sudah mulai menutup dengan cara yang tidak nyaman bagi Washington.
Iran kemudian menjalankan ancamannya. Rudal-rudal balistik ditembakkan ke wilayah utara Israel, lokasi pangkalan yang digunakan untuk menyerang Beirut. Pesan Tehran bukan sekadar militer. Iran ingin memastikan satu doktrin baru tersampaikan: era serangan sepihak tanpa konsekuensi telah berakhir. Beirut bukan lagi sekadar wilayah Lebanon yang bisa dibombardir tanpa hitungan. Serangan terhadap Beirut adalah serangan terhadap seluruh poros resistansi — dan poros itu akan membalas.
Trump segera panik. Tidak lama setelah balasan Iran berlangsung, ia menyatakan bahwa respons Iran “sudah cukup” dan semua pihak harus kembali ke meja perundingan. Kalimat itu tidak terdengar seperti pemimpin yang memegang kendali. Itu terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba menghentikan sesuatu yang sudah meluncur jauh melampaui kemampuannya untuk dikendalikan.
Kecemasan Washington yang sebenarnya tersingkap. Amerika tidak siap menghadapi perang regional berskala besar. Amerika ingin negosiasi tetap hidup karena biaya perang jauh lebih mahal daripada biaya diplomasi — dan karena Washington tahu persis bahwa konflik penuh dengan Iran tidak akan selesai dalam beberapa minggu.
Masalah terbesar Amerika saat ini justru Israel sendiri.
Israel memahami bahwa negosiasi Amerika-Iran dapat mengubah seluruh peta kawasan. Jika hubungan Washington-Teheran bergerak menuju stabilitas tertentu — bahkan stabilitas yang tidak sempurna — posisi Israel sebagai pusat ketegangan regional akan melemah. Selama puluhan tahun Israel mempertahankan relevansinya melalui ancaman permanen, perang permanen, dan ketakutan permanen. Kawasan yang stabil tidak menguntungkan Israel. Kawasan yang tenang tidak memberi Israel pembenaran untuk terus meminta dukungan militer, perlindungan diplomatik, dan impunitas hukum dari Washington.
Karena itu Israel membutuhkan eskalasi. Israel membutuhkan ledakan. Israel membutuhkan situasi yang memaksa Amerika tetap terseret ke dalam konflik Timur Tengah — karena hanya dalam kondisi itulah Amerika tidak punya ruang untuk memilih kepentingannya sendiri di atas kepentingan Tel Aviv.
Dalam konteks itu, serangan ke Dahiyah bukan sekadar operasi militer. Itu sabotase politik terhadap jalur negosiasi — dan sabotase itu dilakukan secara sadar, dengan presisi waktu yang tidak bisa disebut kebetulan.
Amerika sekarang berada dalam posisi memalukan. Jika Washington mengikuti Israel menuju perang besar, biaya ekonomi akan membengkak, tekanan politik domestik meningkat, dan citra Amerika semakin hancur di mata dunia. Namun jika Amerika menahan Israel — atau bahkan sekadar terlihat mencoba menahan — dunia akan melihat bahwa Washington tidak lagi mampu mendisiplinkan sekutunya sendiri. Kedua pilihan itu sama-sama menyakitkan. Dan Israel tahu itu. Baca selengkapnya di muhsinlabib.com
JATUHNYA RUPIAH DAN HIPOTESIS PERLAWANAN EKONOMI
Di tengah melemahnya rupiah, muncul sebuah penjelasan yang menarik. Pelemahan rupiah, menurut pandangan ini, bukan tanda lemahnya ekonomi Indonesia, melainkan akibat perlawanan kelompok-kelompok yang selama ini meraup keuntungan dari jalur perdagangan lama. Ketika pemerintah memangkas jalur perantara dalam transaksi internasional, kelompok yang dirugikan diduga menarik modal dan dolar mereka keluar dari Indonesia. Akibatnya, dolar langka, rupiah tertekan, dan nilai tukar melemah. Pelemahan ini dianggap sementara — setelah penyesuaian selesai, rupiah diyakini akan pulih.
Penjelasan semacam itu tidak bisa begitu saja diabaikan. Sejarah memang mencatat banyak kelompok yang berusaha mempertahankan keuntungan ketika kebijakan berubah dan posisi mereka terancam. Perlawanan ekonomi bukan hal asing dalam sejarah.
Sebelum melangkah lebih jauh, satu hal perlu ditegaskan: kebijakan memangkas jalur perantara ekspor — terutama yang selama ini mengalihkan devisa ke sistem keuangan Singapura sebelum kembali ke Indonesia — adalah langkah struktural yang tepat dan sudah lama seharusnya dilakukan. Devisa hasil ekspor yang tidak segera masuk ke sistem perbankan domestik bukan sekadar inefisiensi. Ia adalah kebocoran nyata yang melemahkan cadangan devisa, mengurangi likuiditas rupiah, dan memperbesar ketergantungan terhadap sistem keuangan negara lain. Jika kebijakan ini benar-benar ditegakkan, manfaatnya bersifat jangka panjang: perputaran modal lebih terkendali, dan posisi struktural rupiah menguat.
Namun ada dua pertanyaan yang perlu dibedakan dengan cermat. Pertama, apakah kebijakan itu tepat secara arah. Kedua, apakah kebijakan itu cukup untuk menjelaskan pergerakan rupiah saat ini. Apresiasi terhadap langkah yang benar tidak harus disertai penerimaan terhadap analisis nilai tukar yang belum terbukti. Keduanya bisa dipegang sekaligus tanpa kontradiksi.
Hipotesis perlawanan ekonomi perlu menjawab hal-hal yang konkret: berapa besar dana yang ditarik keluar, melalui jalur apa, dan seberapa besar dampaknya terhadap pasar valuta asing. Tanpa data yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hubungan sebab-akibat yang diajukan masih bersifat dugaan.
Nilai tukar tidak ditentukan oleh satu sebab tunggal. Ia terbentuk dari interaksi banyak faktor sekaligus — arus investasi, perdagangan luar negeri, kebijakan suku bunga, cadangan devisa, harga komoditas, kondisi ekonomi global, hingga persepsi investor terhadap masa depan suatu negara. Fakta bahwa ada kelompok yang dirugikan oleh suatu kebijakan tidak otomatis membuktikan bahwa kelompok itu penyebab jatuhnya rupiah.
Ada pula asumsi yang perlu diperiksa: bahwa negara-negara perantara hanya mengambil keuntungan tanpa memberi nilai tambah. Dalam praktiknya, pusat perdagangan dan keuangan bertahan karena menyediakan layanan yang nyata — pembiayaan, asuransi, logistik, perlindungan hukum, dan akses ke pasar global. Jika Indonesia ingin melepas ketergantungan dari perantara, fungsi-fungsi itu harus bisa dijalankan sendiri dengan efisiensi yang setara. Tanpa itu, memotong jalur perantara belum tentu menghasilkan keuntungan sebagaimana yang dibayangkan.
Dari dugaan awal tentang keluarnya modal, hipotesis ini kemudian melompat ke kesimpulan bahwa rupiah akan kembali ke angka tertentu. Lompatan itu terlalu jauh. Kenaikan suku bunga Amerika, perlambatan ekonomi global, gejolak geopolitik, atau perubahan harga komoditas bisa menggerakkan rupiah ke arah mana pun, terlepas dari berhasil atau tidaknya kebijakan dalam negeri.
Baca selengkapnya di muhsinlabib.com




