
Associate Professor @MelbLawSchool and Adjunct Professor at @HasanuddinUniv Views are my own
Melbourne, Victoria
Joined October 2015
- Tweets73K
- Following3.1K
- Followers463K
- Likes42K
Panggilan Berkhidmat Kembali
Ada jarak waktu yang sangat panjang antara saya dan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Saya tidak pernah berkesempatan duduk bersimpuh di hadapan beliau, menyimak pengajian dari lisannya, atau menerima langsung nasihat dan doa beliau.
Namun ilmu memiliki jalannya sendiri untuk menyambungkan generasi.
Saya mengaji kepada Abah. Abah dahulu mengaji kepada Kiai Abbas Buntet, salah seorang santri langsung Hadratus Syekh di Tebuireng. Mata rantai itu mungkin sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti. Ia seperti seutas benang yang menghubungkan seorang santri di zaman ini dengan mata air keilmuan yang mengalir dari generasi para masyayikh.
Karena itu, sejak awal, berkhidmat di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama tidak pernah saya bayangkan semata-mata sebagai soal posisi dan jabatan. Nawaitu saya jauh lebih sederhana: ikut menyelami samudera keilmuan Hadratus Syekh, belajar meneladani akhlaknya, dan sebisa mungkin meneruskan khidmat serta perjuangan beliau bersama para muassis NU lainnya.
Pada akhirnya, mungkin yang paling saya harapkan bukanlah dikenal sebagai pengurus NU, melainkan suatu hari pantas disebut sebagai santri Hadratus Syekh.
Santri yang mungkin tidak pernah berjumpa langsung dengan gurunya, tetapi berusaha menjaga ilmu, nilai, dan jalan perjuangannya.
Kini, dengan amanah menjadi bagian kecil dari posisi Rais Syuriyah PBNU periode 2026–2031, saya hanya bisa berharap: siapa tahu Allah membuka satu pintu kecil keberkahan. Kesempatan untuk ikut menjaga marwah Syuriyah, menghidupkan kembali nilai-nilai Qanun Asasi, dan menerjemahkannya secara kontekstual dalam perjalanan abad kedua Nahdlatul Ulama.
Semoga langkah kecil ini kelak dapat menjadi bagian dari mata rantai khidmat yang panjang. Semoga ada satu dua kebaikan yang tertinggal, ketika nama dan jabatan sudah lama dilupakan, dan ruh ini kelak kembali ke hadirat ilahi rabbi.
Bismillah.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Kampusnya Muhammadiyah tapi Mahasiswanya NU
Melihat warga NU kuliah di kampus Muhammadiyah, kita semestinya ikut senang. Pendidikan yang baik itu manfaat bagi semua, melampaui batas organisasi. Tapi pertanyaanya: apa yang bisa kita pelajari untuk memajukan kampus NU?
Apakah NU kekurangan orang pintar? Rasanya bukan itu persoalannya. Ada akademisi dan profesor berlatar belakang NU yang mengajar di berbagai perguruan tinggi dunia. Mereka memiliki pengalaman, keahlian, dan jaringan yang berpotensi membantu pengembangan kampus-kampus NU.
Pertanyaannya, sudahkah kita sungguh-sungguh membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi?
Sebagai bagian dari warga NU yang mengajar di luar negeri, saya merasa hubungan ini masih bisa dibangun lebih erat. Bukan sekadar mengundang untuk mengisi seminar, tetapi melibatkan mereka dalam percakapan dan kerja berkelanjutan: memperkuat riset, mengembangkan kurikulum, mendampingi dosen muda, serta membuka kerja sama internasional.
Mereka bahkan tidak pernah diajak bicara atau diundang ke kampus-kampus NU. Ada apa ini sebenarnya yah?
Kita perlu memastikan bahwa kesempatan berkontribusi terbuka berdasarkan keahlian dan kesediaan bekerja, tanpa bergantung pada gelar sosial (“Gus dan Ning”), kedekatan dengan pengurus (“timses”, alumni atau kedaerahan), atau kesamaan pilihan saat Muktamar.
Harapan saya, Gus Kikin dan jajaran PBNU kini dapat memperluas ruang perjumpaan ini. Mulailah dengan mendata keahlian para kader, mendengarkan gagasan mereka, lalu mempertemukannya dengan kebutuhan nyata kampus-kampus NU.
PBNU harus menjadi rumah yang nyaman dan aman bagi semua kader terbaik NU. Bukan sekadar bagi-bagi jabatan atau bayar hutang budi kemenangan, atau menjegal kader tertentu, sambil malah menaturalisasi orang non-NU masuk jadi pengurus. Hal-hal yang tidak baik yang terjadi di kepengurusan PBNU sebelumnya semoga tidak terulang lagi.
Para akademisi NU di Jerman, Jepang, Australia, Amerika, dan negara lainnya itu sudah hebat tanpa keterlibatan institusi NU. Jika jejaring diaspora NU ini tidak dibangun dan diberdayakan, NU malah kehilangan kesempatan untuk menghimpun kekuatan yang sesungguhnya sudah dimiliki.
Nadirsyah Hosen retweeted
Lewat buku terbarunya, Gus Nadir akan mengajak kita melihat Asmaul Husna bukan sekadar kumpulan nama yang perlu dihafalkan, tapi untuk direnungkan dan dihidupkan dalam keseharian sebagai jalan untuk memahami diri kita sekaligus menjadi peta panduan untuk menghadapi berbagai fase kehidupan.
Nadirsyah Hosen retweeted
Masih ada 2 hari lg utk ikutan special offer buku baru Gus Nadir ini lho.
Ya kan? @bentangpustaka
🔗 diskonnya: s.shopee.co.id/60RILf1adO
Sudah siap2 mau co 2 buku Gus Nadir ini blm? Special offernya bakalan mulai tgl 3 September besok!
#99NamaTuhanUntukJiwaYangLelah
@bentangpustaka
Demi memenuhi target baca minimal 1 buku perbulannya, untuk bulan ini aku baca buku karangan Gus Nadir yang ini. Buku yang bahas tentang makna dari Juz Amma dengan penyampaiannya mudah dipahami🥹🤍
Nadirsyah Hosen retweeted
Replying to @miyawmew
99 Nama Tuhan utk Jiwa yang Lelah karya baru dr Gus Nadir.
Belajar agama, mengenal Tuhan dimulai dr tipis2 gini jg gapapa, gaes.
#zonauang #zonajajan
s.shopee.co.id/6q0YAXshaK
Islam ala Asmaul Husna
Ada satu nama yang tiba-tiba kita rindukan kembali. Dulu saat kita masih kecil nama itu terasa begitu akrab. Diajari oleh ibu. Disebut beramai-ramai di sekolah, atau saat kita beranjak besar pun, nama itu kita sebut dalam doa.
Tapi kini saat jiwa kita begitu lelah, dan capek dengan segala urusan: entah ngasuh anak, mencari nafkah, atau sekadar menempatkan diri di tengah circle yg rasanya malah mengisolir hidup kita, kita seolah kehilangan koneksi dengan diri kita. Kayak apa saja yg kita lakukan semuanya jadi serba salah.
Cicilan jatuh tempo. Jodoh belum datang juga. Rejeki makin susah dijemput. Udara makin panas poll. Kayak lelah banget untuk sekadar mengangkat tangan berdoa. Arah hidup kita semakin gak jelas. Capek gak sih memenuhi ekspektasi orang lain tentang hidup kita, sementara apa maunya kita juga semakin jauh dari kenyataan.
Kayak kita tuh rindu mau pulang balik ke satu nama yang dulu pernah terasa akrab. Rasanya ingin curhat habis-habisan sambil dada ini berdebar dan bergetar menyebut satu nama ini.
Di buku ini, bukan saja kita disodorkan 99 nama yang membuat kita memandang hidup dengan cara yg berbeda. 99 nama ini bagaikan 99 titik dalam perjalanan hidup kita. Sudah sampai dimanakah kita ini?
99 nama itu terangkum dalam satu nama yang mengingatkan kita kembali pada hangatnya dekapan ibu kita dulu, pada senandung syahdu dari mushalla kecil di kampung kita saat kita ngaji dulu, atau pada helaan nafas panjang kita saat menemukan jawaban, atau bahkan pada isak tangis kita dulu saat bersujud.
Kembalilah pada nama itu.
Allah
Allah
Allah
Buku ini membawa kita kembali pulang. Pesan yuk di
bit.ly/99namatuhan
Tabik,
Nadirsyah Hosen
bentangpustaka.com/99namatuh…
Monggo langsung klik ini untuk pembelian 🙏🏻
Sudah bisa dipesan di
bit.ly/99namatuhan
Yuk buruan dipesan 🙏🏻
Muktamar NU ke-35 di Jombang
Alhamdulillah bisa ikut hadir di Muktamar meski bukan peserta resmi. Bisa bertemu banyak Kiai, ziarah, ketemu banyak kawan, dan juga meluncurkan buku terbaru saya (ada postingan tersendiri nanti).
Lantas mau dibawa kemana PBNU setelah ini?
Harapan saya, Gus Kikin gak hanya bisa membawa NU kembali membaca Qanun Asasi. Tapi bagaimana mengkontekstualisasikannya.
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi menekankan al-ijtima’, al-ta’awun, al-ittihad, dan al-ta’alluf: berkumpul, saling membantu, bersatu, dan membangun keterikatan hati. Spirit dasarnya jelas: NU lahir karena orang-orang yang berbeda kekuatan dan perannya memilih bekerja bersama.
Menurut saya, tantangan Gus Kikin adalah menerjemahkan empat kata itu ke dalam bahasa organisasi modern.
Kalau dahulu al-ijtima’ berarti menghimpun para kiai dan jamaah dalam satu jam’iyyah, hari ini al-ijtima’ berarti kemampuan NU menghimpun seluruh talenta terbaiknya yang sudah tersebar ke mana-mana.
Ada kader NU di pesantren, kampus, birokrasi, dunia usaha, teknologi, kesehatan, hukum, diplomasi, masyarakat sipil, sampai berbagai lembaga internasional. Mereka tidak semuanya berada di struktur PBNU. Tetapi mereka tetap kekayaan NU.
Lalu al-ta’awun hari ini mestinya tidak berhenti pada semangat gotong royong. Ia harus diterjemahkan menjadi kolaborasi berbasis kompetensi. Orang tidak dilibatkan karena dekat dengan siapa, tetapi karena memang tahu apa yang harus dikerjakan.
Al-ittihad juga jangan disalahpahami sebagai semua orang harus satu suara. Persatuan bukan penyeragaman. Justru organisasi sebesar NU harus mampu tetap utuh di tengah perbedaan.
Dan menurut saya yang paling penting adalah al-ta’alluf: kemampuan menjaga hati dan hubungan antarwarga NU. Ini sangat relevan setelah kontestasi Muktamar.
Kalau setelah Muktamar struktur organisasi justru dipakai untuk membalas perbedaan pilihan, itu bertentangan dengan ruh ta’alluf yang diletakkan para muassis.
Jadi menurut saya, Qanun Asasi abad kedua bukan berarti mengulang bentuk organisasi tahun 1926. Justru yang harus dipertahankan adalah ruhnya, lalu bentuknya kita sesuaikan dengan zaman.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
nasional.kompas.com/read/202…
Mohon ijin…menyampaikan
wawancara Kompas dg saya menyambut terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketum PBNU
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen retweeted
Akademisi sekaligus tokoh Nahdliyin, Nadirsyah Hosen, menyebut perhelatan kali ini seharusnya tidak direduksi menjadi arena menentukan Rais Aam dan Ketum PBNU. #Polhuk #AdadiKompas
kompas.id/artikel/muktamar-n…
Nadirsyah Hosen retweeted
Akademisi sekaligus tokoh Nahdliyin, Nadirsyah Hosen, menyebut perhelatan kali ini seharusnya tidak direduksi menjadi arena menentukan Rais Aam dan Ketum PBNU. #Politik #AdadiKompas
kompas.id/artikel/muktamar-n…







































