🐇 retweeted
AKU TAKUT AKAN ESOK: sebuah zine tentang futurisme disabilitas, antisipasi kedukaan, dan di atas segalanya, harapan. (1/2)

ALT Setelah pulih dari percobaan bunuh diri, aku menulis cerita pendek tentang futurisme disabilitas. Itu adalah usahaku untuk melawan ketakutan sendiri akan masa depan. Dari kasur, aku ingin membayangkan masa depan di mana kesehatan, kesejahteraan, kebebasan, dan kebahagiaanku terjamin. Aku tidak perlu khawatir...

ALT Sejujurnya, aku sangat takut. Aku beruntung memiliki banyak teman sesama disabilitas; namun ketika membayangkan masa depan, aku juga membayangkan KEMATIANKU dan juga KEMATIAN MEREKA. Lebih dari ketakutan akan kematianku sendiri, aku takut akan ditelantarkan oleh sistem. Aku membayangkan diriku terbaring di kasur lapuk yang penuh dengan kotoran.
🐇 retweeted
Kawan-kawan kwir, kita gapernah kekurangan tokoh dalam & luar negeri yg betulan perjuangin kita, alih-alih bela politisi sentris liberal yg dempet sm ormas opresif, mending kita kenalan sm banyak aktivis kwir lokal, liat yg suka orasi di WMJ misal, most of them inklusif sekali
🐇 retweeted
while we're at it, sometimes it feels like some of you see queerness as merely an aesthetic. what the hell is a "hello kitty femme" and a "snoopy spiderman masc" what if we develop our personalities outside the internet mama let's see lesbians as actual people and not as concepts
Gaes, tahu nggak? Banyak relawan pemadam api karhutla itu hidup dari belas kasih warga lokal dan bantuan donasi. Klo kalian punya rezeki, bantu mereka yuk. Lewat jalur swasta lebih baik. Pastikan yang dananya nyampe ya.
🐇 retweeted
UPDATE: Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Mimika, Papua Tengah tembus 81.355
KAWANKU!!!! AYO BERISIKKKK 😭😭
🐇 retweeted
Interseksionalitas adalah kerangka analisis yang melihat bahwa struktur penindasan saling kerkelindan satu sama lain.
Kerangka analisis ini sering ditolak oleh Marxist Orthodox karena dianggap mereduksi sentralitas analisis kelas.
Ashley J. Bohrer dalam buku "Marxism and Intersectionality" berusaha untuk menawarkan untuk melihat interseksionalitas dalam posisinya di bawah kapitalisme dan imperialisme. Di sisi lain juga melihat bahwa Marxisme memerlukan analisis dari perspektif penindasan minoritas lain selain perspektif kelas.
Interseksionalitas akan tumpul jika hanya melihat kelas sebagai satu dari sekian identitas tanpa analisis material dan struktural. Marxisme pun akan jadi abai atas penindasan lain jika mengabaikan interseksionalitas.
Yang paling penting adalah memastikan kalau analisis kita tetap struktural, material, dan historis.
#interseksionalitas
#feminisme
#marxisme
#sosialisme
#patriarki
🐇 retweeted
peristiwa ini disebabkan karena sebagian peserta acara mengibarkan bendera yg dianggap simbol gerakan separatisme. padahal bendera tersebut sudah dikukuhkan sebagai bendera Provinsi Aceh melalui Qanun Aceh no. 3 tahun 2013.
turut berduka bagi para korban. semoga pelaku diadili.
🐇 retweeted
watching fleabag is funny until you realise that we weren’t just watching her life. we were the presence she kept retreating to whenever she couldn’t bear to live it. and that’s what makes the ending so powerful: we lose our place in her life precisely bc she is beginning to find her place in it.
🐇 retweeted
“All that we truly think or feel, all that we truly are—as soon as we try to express it, even if only to ourselves—suffers the fatal interruption of that visitor who we also are…”
— Fernando Pessoa
from “The Man from Porlock” (on Coleridge’s “Kubla Khan”)
🐇 retweeted
Kapan ya orang bisa sadar kalau obsesi terhadap moralitas cerita itu sebagian besar warisan cara Orba dan kurikulum PMP memperlakukan sastra?
Sastra direduksi sebagai alat didaktik buat ngebentuk warga yang patuh, bukan sebagai praktik artistik yang otonom. Sastra yang bermoral juga di situ sering kali disederhanakan jadi amanat yang bisa dihafal, bukan kompleksitas yang harus dianalisis.
Dalam literary criticism, posisi yang cukup mapan (autonomism/aestheticism) justru menolak menjadikan moralitas sebagai kriteria utama kualitas karya. Oscar Wilde pernah bilang bahwa tidak ada buku yang moral atau amoral, yang ada hanya buku yang ditulis dengan baik atau buruk.
Richard Posner juga mengembangkan nilai estetis (bentuk, bahasa, struktur, kompleksitas naratif, keutuhan internal) tidak otomatis naik atau turun hanya karena karya itu bermoral atau amoral. Karya yang memuat perspektif etis yang cacat bisa tetap hebat secara artistik, dan karya yang moralis bisa tetap mediocre juga.
Yang sering disalahpahami orang sampai sekarang:
Mendepiksi sesuatu yang amoral/tidak lazim ≠ meromantisasi atau mengendorsenya.
Padahal, justru fungsi sastra sering kali adalah menampilkan yang tidak nyaman, yang di luar nalar, yang tabu, agar bisa dibaca secara kritis. Banyak karya yang dianalisis memang di luar moralitas konvensional. Menyukai sebuah karya tidak berarti pembaca mengadopsi moralitasnya sebagai identitas pribadi.
Jadi, sebuah karya sastra memang tidak wajib bermoral. Tuntutan itu lebih sering datang dari residu pendidikan moral yang instrumental, bukan dari logika kritik sastra itu sendiri. Kalau kita terus memaksa setiap karya harus berpesan baik dulu baru boleh disebut bagus, kita justru hanya akan membunuh hakikat sastra itu sendiri.
🐇 retweeted
unduh Utopia Estetis Mia Bustam [Fakutas Psikologi USD, 2025]).
Buku ini merupakan kumpulan respons mahasiswa Fakultas Psikologi terhadap kisah hidup dan karya Mia Bustam – seorang seniman, penulis, dan penyintas politik 65
19651966perpustakaanonline.w…
🐇 retweeted
hi everyone minta tolong kalo lewat berita tentang kejadian sh00ting oleh tni kpd sipil di pulo keunari, pidie aceh tolong bantu diblow up ya like qrt komen, anything interact with those post krn infonya minim bgt entah udah di tkdwn wallahi ..
rakyat tolong lihat NTT. sekolah yang lagi dibangun selain buat belajar juga buat tempat ibadah & evakuasi warga kalau gempa lagi dalam skala besar or longsor. di beberapa titik jalan sebelum hujan tadi, disamperin baru gelundung dari atas












































