Matt (on call) retweeted
Dan mulai lagi, orang indon suka lupa sama kejahatan pejabat korup, gaada cancel culture bgt. Awokwokwokwok
Matt (on call) retweeted
The moment the audience booed fadli zonk at opening jwc🤣🤣🤣
(Please ignore my laugh)
Matt (on call) retweeted
i hate gay halloween, what do you mean you’re pinkpantheress randomly voguing at her victory lap cypher performance?
Matt (on call) retweeted
Bangun, gaji kalian dipotong cuman buat sponsorin event Next Gala🤣
Rate card paling mahal buat cover majalah aja 100.000 Dolar, berarti kalo jadi sponsor event gede kaya gitu ya minimal 250.000-500.000 USD.
Cuman 7 miliar paling, ga kerasa. Kan duit rakyat.
#INDONESIASADAR
Matt (on call) retweeted
a tale of two $160M budget flops, not only from the same publication but also by the same reporter 🥲
Sacha Baron Cohen personally invested $3 million of his own money into the new Ali G film.
The film is rumored to have cost over $160 million to make, with 54 credited producers, including 13 executive producers.
It has since been pulled from theatres and total box office gross to date is around $3 million.
It is on track to be the biggest box-office flop in history.
Matt (on call) retweeted
“Ketika Anda angkat Salib maka lawan politikmu termasuk Saya Natalius Pigai seolah2 musuh Allah. Anda orang benar dan pemerintah orang berdosa. Ketika anda angkat Salib ( anda anggap diri sudah sekutu Allah). Sementara pemerintah termasuk belasan Menteri dan Wakil Menteri di Kabinet ini (termasuk Natalius Pigai) yang beragama Kristiani dianggap pendosa dan seolah2 kami ini bersekutu dengan setan. FATAL!.”.
Saat salib dibawa masuk ke panggung politik, saat itu juga salib berhenti sebagai simbol keselamatan dan berubah menjadi simbol kekuasaan serta unjuk kekuatan. Begitu salib berubah menjadi simbol kekuasaan, orang akan langsung teringat pada luka lama sejarah: Perang Salib.
Mengapa hal itu sangat berbahaya?
Salib telah kehilangan maknanya. Di hadapan salib, kita sesungguhnya harus menyampaikan credo:
“Aku anak yang berdosa, ampunilah aku.”
Namun, di panggung politik, salib bisa dipelintir menjadi:
“Kami benar. Anda, pemerintah, salah. Kami yang berkuasa.”
Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai salib yang mengajarkan kerendahan hati, pengampunan, kasih sayang, belas kasih, dan cinta kasih.
Salib juga bisa membuat lawan politik seolah-olah menjadi musuh Allah. Inilah yang paling fatal.
Dalam politik, lawan kita adalah sesama warga negara yang memiliki perbedaan pendapat dan pilihan politik. Itu merupakan hal yang wajar. Hari ini seseorang menjadi lawan, tetapi esok hari bisa menjadi kawan dalam koalisi.
Selengkapnya:
posnews.co.id/salib-merah-po…




























































