Aa unpad kebanggaannya @ibnufaisalm
Grady Nagara retweeted
Hebat bener sih mbak ini. Gw presentasi aja masih baca teks, ada yang ngobrol dikit langsung tercekat. Mbak ini presentasi dalam keadaan: 1) dalam angkot, 2) menuju demo, 3) diblokir polisi, 4) pake kuanti. Juara sih kata gw lo mbak 👏👏👏👏👏
Grady Nagara retweeted
Semua diskusi tentang “penyalahgunaan” ruang cafe ini akar masalahnya cuma satu: kita kurang perpustakaan umum/community center yang bisa dipakai secara gratis! Fungsi tersebut akhirnya “diambil alih” cafe, kemudian memunculkan polemik tentang etika.
Adik-adik, jangan ditiru ya 😭 Ini namanya udah ngelunjak. Pakai kabel extension, meja penuh makanan dan minuman dari luar. Sebelum difoto, ada 5 orang di situ sampai listriknya konslet dan lampu mati. Pas mati lampu, mereka juga yang paling heboh.
Di foto kedua, dia lagi ngambil keripik atau semacamnya yang disembunyiin di belakang kursi.
Menurutku, sah-sah aja kalau kalian pengen makan makanan yang nggak dijual di Kopi Kenangan. Tapi sebaiknya keluar dulu, habisin makanannya, baru balik lagi ke dalam. Itu sih pendapatku.
Baru aja gw ada publikasi hasil riset lapangan kami 2 tahun lalu, dan gw jadi penulis keempat. Berarti gw dianggap belum riset, begitu ya?
Grady Nagara retweeted
Saya 2 tahun kerja di BRGM kedeputian Litbang. Selama periode kerja BRG mungkin ada > 200 riset didanai, termasuk juga kerjasama riset dengan WRI, DHI, dll.
Risetnya multidisiplin, bahkan interdisiplin.
Kita ga kekurangan riset, tapi risetnya yg gak pernah diimplementasikan.
Analisa yang menarik dari Bagus Muljadi mengenai fenomena kebakaran hutan saat ini.
>Menurutnya, karhutla bukan lagi bencana nasional, melainkan internasional.
>Di Indonesia, bukan paham kanan atau kiri yang menjadi perdebatan, melainkan daerah dan pusat.
>Budaya mengenai pemahaman gambut masih minim di daerah
>budaya riset di daerah masih lemah, akibatnya untuk menghadapi bencana spt ini menjadi tumpang tindih antara pusat dan daerah
>untuk memadamkan gambut di Indonesia, 1 hektar perlu 200rb liter air, helikopter untuk terbang perlu 10 rb usd untuk 1 jam, itupun masih hit n miss, belum tentu bisa memadamkan gambut
>saat terjadi bencana masyarakat cenderung terpolarisasi. Misalnya di Tamiang, selalu menjurus ke tobat ekologis. Padahal jika pemhaman akan gambut dan pengawasan yang ketat tentu lebih efektif dibandingkan demikian
Di Indonesia sudah ada mengenai UU pembakaran lahan, yang masih jadi PR adalah bagaimana regulasi tsb diawasi dan diemplementasikan dengan baik
Jua masyarakat paham, mengapa harus bakar apa yang ia dapat, dan kapan waktu yang tepat untuk membakar. Itu semua bisa diwujudkan jika budaya riset mulai diberdayakan.
Grady Nagara retweeted
Hanya kolonialis yang mengatakan masyarakat gak tau tentang gambut. Sedangkan masyarakat sudah ribuan tahun tinggal di wilayah itu.
Analisa yang menarik dari Bagus Muljadi mengenai fenomena kebakaran hutan saat ini.
>Menurutnya, karhutla bukan lagi bencana nasional, melainkan internasional.
>Di Indonesia, bukan paham kanan atau kiri yang menjadi perdebatan, melainkan daerah dan pusat.
>Budaya mengenai pemahaman gambut masih minim di daerah
>budaya riset di daerah masih lemah, akibatnya untuk menghadapi bencana spt ini menjadi tumpang tindih antara pusat dan daerah
>untuk memadamkan gambut di Indonesia, 1 hektar perlu 200rb liter air, helikopter untuk terbang perlu 10 rb usd untuk 1 jam, itupun masih hit n miss, belum tentu bisa memadamkan gambut
>saat terjadi bencana masyarakat cenderung terpolarisasi. Misalnya di Tamiang, selalu menjurus ke tobat ekologis. Padahal jika pemhaman akan gambut dan pengawasan yang ketat tentu lebih efektif dibandingkan demikian
Di Indonesia sudah ada mengenai UU pembakaran lahan, yang masih jadi PR adalah bagaimana regulasi tsb diawasi dan diemplementasikan dengan baik
Jua masyarakat paham, mengapa harus bakar apa yang ia dapat, dan kapan waktu yang tepat untuk membakar. Itu semua bisa diwujudkan jika budaya riset mulai diberdayakan.
Grady Nagara retweeted
Sebagai ilmuwan iklim, saya telah mengingatkan mengenai Super (Godzilla) El Niño 2026 ini sejak 19 Maret 2026. Beberapa policy brief ke beberapa kementerian teknis telah disebarkan, dan diseminasi juga telah diadakan pada bulan tersebut. Saat itu ilmuwan dengan pemodelan dan tools yang dikembangkan telah mampu memprediksinya. Dampak yang paling saya khawatirkan adalah Karhutla parah sebagaimana 1997 dan 2015. Dan kita harus akui, kita telah gagal dalam memitigasinya. instagram.com/p/DWDOflBGNIX/…
Yg masih nyebut Sipenmaru, UMPTN, maupun SPMB tolong pastikan BPJS-nya aktif.
You’re unable to view this Post because this account owner limits who can view their Posts. Learn more
Grady Nagara retweeted
Jangan lupa berterima kasih kepada diri Anda sendiri, yang dengan tekun terus belajar dan mau berubah menjadi lebih baik.
Grady Nagara retweeted
Teman2 yang lagi cari rumah di Jabodetabek, bisa cek web buatan tim jurnalisme data @hariankompas ini. Di web ini ada data 37 ribu rumah, lengkap dengan lokasi, luas, harga, dan jarak ke pusat kota. Bisa filter berdasar penghasilan juga 😃
Cek di sini: jurnalismedata.kompas.id/eks…
Grady Nagara retweeted
kalau boleh saya menyimpulkan dalam satu kalimat, paper dari Prof. @BurhanMuhtadi:
Gen Z Indonesia bukan anti-demokrasi, tetapi cenderung menganggap demokrasi sebagai sesuatu yang sudah "given", sehingga kurang sensitif terhadap tanda-tanda kemundurannya.
***
Referensi:
cambridge.org/core/journals/…
Tolong kasih tahu cara nyebut nama makanan ini pas di kasir.
Soal keracunan ini, BGN menyebutnya sebagai "Kejadian Menonjol".. Silakan cek juknis tata kelola penyelenggaraan MBG TA 2026. Dan yg patut dikritisi bersama, penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) itu mlah dilakukan oleh Pemda, dan Pemda disuruh ikut nanggung anggaran






























