MBDW retweeted
Ada yang ANEH di Pasar Baru.
Gapura merah gede di depannya bukan bangunan peninggalan. Ia dibangun tahun 2000 untuk pencitraan pariwisata.
Ironinya, bangunan berusia lebih dari seabad kayak Toko Kompak justru terabaikan. Padahal bekas rumah Mayor Tio Tek Ho abad ke-19 ini adalah salah satu contoh tipologi ruko Tionghoa-Eropa paling langka di Jakarta.
Kok bisa kota kita terjebak fetish visual dan malah sibuk nempel ornamen daripada rawat cagar budaya asli?
MBDW retweeted
Kawasan Kesawan yang kita lihat hari ini ternyata hadir dari luka dan sejarah kelam.
Tahun 1889, bencana kebakaran besar memusnahkan kampung kayu Melayu hanya dalam semalam.
Aturan sekat pemukiman etnis (Wijkertelsel) era kolonial menjadikannya rumah toko bata bagi para warga Tionghoa saat dibangun ulang.
Gimana bisa tatanan ruang yang dirancang untuk memisahkan, justru jadi koridor multikultural paling padat di Sumatra hari ini?
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Kebayang gak sih kalau di tengah Blok M didirikan recycle hub buat nampung sampah?
Apa gak bau, jorok, dan bikin pengunjung kabur?
Tapi ini bukan sekedar ngide, melainkan wacana nyata yang dipaparkan oleh Pak Jacob Gatot Sura, arsitek sekaligus co-founder M Bloc.
Tiap harinya sebagai sentra kuliner, kawasan Blok M memproduksi sampah dalam jumlah masif.
Ketimbang menambah beban TPA kota yang udah over, Blok M berencana buat ngolah sampahnya secara mandiri.
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Pada 1733, separuh orang Eropa di Batavia TEWAS gak sampai setahun setelah mendarat.
Batavia sampai dijuluki Kuburan Orang Belanda.
Kanal yang dangkal jadi sarang nyamuk. Daendels mundur ke Weltevreden di Selatan.
Dari situ, lahir pusat perbelanjaan baru yang masih digunakan sampai sekarang.
Namun ada yang ANEH.
Gapura merah gede di Pasar Baru itu bukan bangunan peninggalan. Dibangun tahun 2000 demi pencitraan wisata.
Ironinya, bangunan berusia lebih dari seabad kayak Toko Kompak justru terabaikan.
MBDW retweeted
Bagi Gen-Z, menggunakan perangkat analog, koleksi barang vintage, sampai nongkrong di gedung tua itu bukan sekadar gaya, melainkan terapi.
Anemoia adalah perasaan rindu emosional pada era yang bahkan belum pernah dialami secara langsung.
Saat jenuh dengan media sosial dan layar, jarum piringan hitam, tuas kamera film, sampai plester dinding tua yang terkelupas jadi sensory grounding yang menenangkan kecemasan sensorik.
Tenang, bukan kamu aja yang merasa gitu.
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Tahun 1956 di Kerten Solo, berdiri studio rekaman dan pabrik piringan hitam pertama milik pemerintah Indonesia.
Pita master pidato Proklamasi Bung Karno dan piringan hitam Indonesia Raya masih disimpan di sana sampai hari ini.
Bukannya jadi museum tertutup yang dibiayai APBN, bangunan ini malah dirawat oleh gerai F&B kekinian yang jadi tempat nongkrong favorit Gen-Z. Renovasinya dirancang langsung oleh Andra Matin.
Seperti apa kisahnya?
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Gedung Filateli di seberang gerbang Pasar Baru itu sebenarnya baru dibangun tahun 1912. Nyaris seabad setelah pasar di depannya.
Gayanya ala Art Deco dengan kanopi setengah lingkaran, kaca patri, pilar Tuscan, serta lantai marmer megah.
Bangunannya sempat terbengkalai saat masyarakat gak lagi menggunakan layanan surat dan perangko
Tapi bukannya mati suri, ia kini jadi ruang warga yang menggelar ratusan pertunjukan seni tiap tahun.
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Sadar gak? Di Pasar Baru, kuliner legendaris yang ramai bertahan justru yang ngumpet di gang sempit. Sementara koridor utamanya sepi.
Dari Cakue Ko Atek, Bakmi Aboen, sampai es krim kopyor.
Ada pembalikan fungsi spasial yang menarik:
Gang yang dulu cuma jalur servis belakang, kini jadi pusat ekonomi. Tanpa etalase mewah, papan nama raksasa, atau lahan parkir.
Apalagi di era di mana generasi digital bisa berburu kuliner hidden gems cukup lewat Maps dan medsos.
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
100% agree.
Buat menghidupkan kembali kawasan itu gak melulu harus bangun baru.
Selain hemat biaya dan sustainable/ramah lingkungan, bangunan lama itu punya memori kolektif yang justru banyak dicari di era serba digital sekarang.
Banyak Gen-Z yang muak bersosialisasi lewat layar. Ruang publik dengan pengalaman taktil dan sensori yang otentik benar-benar dibutuhkan secara urgent.
Jangan biarkan bangunan tua di kota kita nganggur.













