Saka (@SakaBytes) header
Saka (@SakaBytes) profile picture

Building cool stuff, fixing problems, amping growth, and letting AI take the blame when things break 🤖

Joined July 2009
Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)Photo by Saka (@SakaBytes)
Building an agent harness reminds me of working in a large company, where context, handoffs, and decisions matter as much as getting the task done. It’s exciting to see how my experience with documentation and teamwork can help me build workflows with agents in the loop.
1
2
80
Hi @jadijago I recently transferred money from my blu account to my Jago account. The transfer shows as completed on blu's end, but the funds have not appeared in my Jago account. I've already sends email but no response. Could you please assist me in tracing this transaction?
61
Has anyone already built a Jev + computer use agent to hunt for leads/prospects? Thinking of something that can browse LinkedIn, company sites, directories, etc., qualify based on ICP, and surface warm leads super cheap/fast. Does this exist yet?
3
54
First time attending the OpenAI Codex Community Gathering in Jakarta. Huge thanks to @naufaldi for organizing and to both Aldi and @display___flex for sharing insights on token efficiency and effectiveness. Thanks to @ialexs for the thoughtful discussions. Time to test and build!
1
134
Pernyataan Nadiem Makarim seusai mendengarkan tuntutan JPU pada kelanjutan sidang hari ini Rabu 13 Mei 2026 " Saya dan ibam, Kami orang orang muda yang berniat merubah sistem lama ke sistem baru dimana transparansi diterapkan untuk kemajuan bangsa ini, tapi justru seperti ini balasannya, bagaimana saudara Ibam divonis bersalah dan dihukum 4 tahun. Hari ini saya juga di tuntut 28 tahun penjara. Bahkan tuntutan saya jauh lebih berat daripada seorang pembunuh, untuk tidak ada kesalahan apapun baik itu pelanggaran administratif maupun unsur korupsi di kasus ini Seperti yang kita lihat dan saksikan bersama di setiap persidangan bagaimana fakta fakta yang terungkap justru mematahkan dakwaan JPU
198
858
44
3,759
70,880
Trump’s “Project Freedom” in the Strait of Hormuz.
318
5,841
306
29,554
950,939
We, the Lebanese and Palestinian, are the only people in history watching our genocide live, and we could get arrested or suspended for saying stop kill us, because it might hurt the feelings of the killers.
994
17,974
336
46,633
564,126
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
UPDATE: Ibrahim Arief (Ibam) — the tech consultant facing 15 years — just told a press conference he was coerced to turn on Nadiem but refused to do so. In 30 years, the playbook hasn’t changed. A deeply corrupt legal system used to intimidate and coerce ordinary Indonesians.
367
8,286
446
11,924
790,092
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼 Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam. Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang. Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar. Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali. Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan. Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana. Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan. Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan. Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam. Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami. Tolong, suarakan ketidakadilan ini. Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi. Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka. Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
117
4,381
155
6,695
428,810
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara? Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu. Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun. Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai. Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain. Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi. Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook. Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa: 1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN. 2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal. 3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu. 4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan. 5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian. Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam. Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka. Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam. Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan. Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja. Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam. Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek. Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan. JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun. Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara. Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan. Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga. Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum. Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi. Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun... Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit. Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus. Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini? Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara? Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian. Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi. Jakarta, 16 April 2026 Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
821
13,871
1,249
20,142
2,976,063
Devs are acting like they didn’t write slop code before AI.
582
917
195
11,994
773,260
My Apple Developer account was hacked today. Email changed. Phone numbers changed. Apps being transferred without my consent. 8 apps. My entire business at risk. Has anyone dealt with this? How did you recover? @Apple @AppleSupport #BuildInPublic Please RT 🙏
61
59
14
410
94,648
Pocket (@Heypocket) sold 30,000 units in 5 months recording doctor visits, legal calls, and board meetings. So I did my due diligence like I always do. Their Google Play listing says "No data collected." Their own privacy policy lists audio recordings, transcripts, device IDs, ad identifiers, cookies, IP location, and behavioral inferences. One of those is wrong. They brand themselves "open source". Their GitHub org (github.com/heypocketai) contains exactly 4 repositories: - Raspberry Pi Zero prototype called icecream-project [from the CEO's prior Omi work], - FFmpeg Flutter fork, - docs repo, - org profile page. The actual Pocket device firmware, mobile app, backend infrastructure, and audio processing pipeline are NOT here. There is NO Pocket source code to audit. Recordings go to unnamed "cloud/AI vendors" with no disclosure of which LLMs process your audio, what jurisdiction they operate in, or how long they retain it. Users can't choose their provider or bring their own keys. If you cancel your $19.99/month subscription, your recordings get processed by whichever default model Pocket selects. The contact mic is marketed for recording phone calls without speakerphone. In 11+ US states including California (where Pocket is based) -- that requires all party consent. The device has NO consent mechanism. Their terms cap liability at the amount you've paid or $100 (whichever is greater) - for data breaches involving your medical appointments, legal consultations, and proprietary meetings. A third‑party LobeHub skill has already reverse‑engineered Pocket’s web API and can pull recordings, transcripts, summaries, and action items using short‑lived Firebase bearer tokens extracted from the user’s browser session. Their privacy policy confirms that if Pocket is acquired -- every recording, transcript, and summary transfers to the buyer.
Pocket (@heypocket) is your notetaker for real world meetings. In the last 5 months, the team has delivered over 30k units with a $27M annualized run rate, growing 50% month over month. Congrats on the launch, @AkshayNarisetti and @gabrieldymowski! ycombinator.com/launches/PaX…
119
804
75
8,222
695,123
Open Source ArtCraft has Seedance 2.0 *right now* Repost this please. We're open source. We'll never enshit. You own us. We have a long mission ahead, but if you hear me out, our roadmap: open apps, infra, models, H200 finetunes If we get just 500 users, we can grow. RePoStT🙏
56
103
10
396
25,292
Crazy ask: if we get 5000 users, we can raise $30 million to build Open Source Higgs. We're on our way but we can go fast We'll let you log in with every provider, we'll work with other tools, we'll be the best. We serve you Plz retweet. Please subscribe. We can do it in a week
16
41
3
139
7,860
It's so crazy it felt unreal
This is the most jaw-dropping 4 minutes and 21 seconds you will watch this year. Nicole Shanahan — ex-wife of Google co-founder Sergey Brin, former running mate of RFK Jr., and someone who personally signed nine-figure philanthropy checks — just went full whistleblower on the entire Silicon Valley “tech wife mafia” and how they were used. Her exact words (full clip attached): “I don’t think many of the tech mafia wives realize… they were used to set the groundwork for what Klaus Schwab calls The Great Reset. Their money especially was being conscripted through a network of NGO advisors, Hollywood, Davos, and their own companies. A really small group of people… completely blind to how their groundwork is being used to enable these Great Reset policies.” Then she turns the knife inward: “These women find their meaning through philanthropic work. I really believed I was helping Black communities and indigenous communities rise up. But now the problems have gotten worse. Crime worse. Mental health worse. The whole model is broken. At the end of the day they always go: ‘But climate change.’ Social justice + climate change — it gets progressive women 100% of the time.” She even says many now believe the biggest “climate change issues” are actually geoengineering issues. This isn’t some random podcast bro. This is a woman who lived in the mansions, sat on the boards, flew private to Davos parties… and is now saying: “We were the useful idiots.” Watch the full unedited 4:21 below. Sound on.
28
13) This is fairly common in Indo. Every business is terrifically uncompetitive and inefficient, low cash flow, high loan. 14) without corruption everyone goes to prison. with corruption, the people who know how to make money can stay outside
6
101
17
538
41,895
Clever move
We're testing a new link experience, starting on iOS -- to make it easier for your followers to engage with your post while browsing links. For creators, a common complaint is that posts with links tend to get lower reach. This is because the web browser covers the post and people forget to Like or Reply. So X doesn't get a clear signal whether the content is any good. To help get better signal, posts will now collapse to the bottom of the page so people can react while you're reading. As always, remember: the post should stand alone as great content so write a solid caption.
28
We're testing a new link experience, starting on iOS -- to make it easier for your followers to engage with your post while browsing links. For creators, a common complaint is that posts with links tend to get lower reach. This is because the web browser covers the post and people forget to Like or Reply. So X doesn't get a clear signal whether the content is any good. To help get better signal, posts will now collapse to the bottom of the page so people can react while you're reading. As always, remember: the post should stand alone as great content so write a solid caption.
1,315
618
849
13,821
7,332,891
the trick is to always ensure your main project feels like a side project
15