Eka Mustikasari retweeted
Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.
Eka Mustikasari retweeted
Halo ibu bapak recruiters, saya izin yaaa apabila di company tempat bapak dan ibu bekerja open position for General Affair dan Asset Management perusahaan. Saya akan sangat exicted untuk apply dan bergabung dengan company bapak ibu semua 🙏
Saya punya pengalaman selama 4 tahun untuk menghandle asset management Proyek Konstruksi bersama Pemerintah dan juga pembuatan Kendali mutu operasional GA beserta pembuatan SOP, dan pengalaman marketing social media KOL di sektor FnB selama 2 tahun.
Eka Mustikasari retweeted
Replying to @ekakunjeri
Mbak. Dg history karir yang bagus. Dan gak berhenti untuk belajar, you deserve to be happy, you need to encourage your junior cause mbak Eka ini g pelit untuk mentoring dan berbagi ilmu, semangat ya Mbak. Maaf kemarin project ku gagal total. But someday i hope we have another -
Eka Mustikasari retweeted
Tanggal-tanggal liat rekening bikin mikir ‘pekerjaan illegal apa yang masih dalam batas moral dan kapasitas saya’
Eka Mustikasari retweeted
Dulu sebelum menikah, saya mengira menamai kontak istri dengan ‘Sayangku’ atau ‘Belahan jiwaku’ adalah sebuah tindakan heroik yang keren untuk membuktikan cinta yang valid. Tetapi setelah menikah, realitas profesional ternyata membalikannya.
😂😂😂
Eka Mustikasari retweeted
Jgn terlalu loyal sm perusahaan, pindah 1-2 thn sekali, increase yo salary 20%-30%, ambil sertifikasi, S2.
Sering2 cuti dah, travelling, build relationship with friends, yo parents.
Olahraga.
Sayangin ortu, lebih pemaaf lebih penyayang.
TIDUR PENTING.
Eka Mustikasari retweeted
ga semua yang kelilit pinjol itu karna dia hedon atau judol. bisa jadi karna kepepet & ga ada yang bisa dimintai tolong lagi.
setiap orang punya latar belakang & alasannya sendiri kenapa berujung pake pinjol.
Eka Mustikasari retweeted
Gue kepikiran bikin perjalanan umrah yang didesain untuk mereka yang lagi galau, yang merasa ditinggalkan dan merasa ragu.
Umrah ini terbuka dan inklusif buat yang baru bercerai, yang sedang bertikai dengan orangtua, yang sedang mempertanyakan seksualitasnya. Tanpa judgement. – at Depok, Indonesia
Eka Mustikasari retweeted
Salah satu syarat wajib solat kan tidak gila. Pekerja di jakarta banyak yg gila
Eka Mustikasari retweeted
Ngelunjak? Masih mending itu minta mobil, kalo gw udah minta bubar polisinya
Eka Mustikasari retweeted
Orang2 thread ini supportif. Ada pasutri Boyolali jualan rengginang. Banyak yg reply kirim editan jualannya biar lebih menarik. Banyak yg bantu checkout juga.
Bek menowo kalian mau checkout juga bisa s.shopee.co.id/7KqdsRfj8w
Monggu bu bupati boyolali dilarisi @ekakunjeri
Eka Mustikasari retweeted
Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama have confirmed that the alliances behind yesterday’s protest are not part of their organizations.
Eka Mustikasari retweeted
Oiya, reminder. Tgl 1 Januari masuk tahun baru dan 2 Januari KUHAP baru efektif berlaku.
💀💀💀
Eka Mustikasari retweeted
Bismillah, ini Ririe istrinya Ibam, baru recover akun ini 🙏🏼
Terimakasih doa & support untuk Ibam sekeluarga yang sedang berjuang melewati masalah hukum saat ini..
Berikut cuplikan video cerita Ibam, perkenankan juga aku sebagai istri cerita soal yang keluarga kami alami..
📝
Aku mengenal Ibam sejak 2010 ketika dia sedang kuliah beasiswa di Eropa. Setahun kemudian kami menikah dan nekat memulai hidup baru dari nol di Belanda.
Di awal pernikahan kami, Ibam bekerja sebagai software engineer di perusahaan AI logistik di Rotterdam, sementara aku lanjut kuliah S2 di Tilburg pada tahun 2013.
Jujur, kami memulai pernikahan dengan penuh keterbatasan. Akad nikah dan resepsi kami juga sederhana di rumah supaya bisa berhemat.
Sesampainya di Belanda, we had to build everything on our own karena keluarga kami bukan yang bisa "menyuntik" dana kapanpun kalau kami ada kekurangan.
Ketika aku mulai kuliah, kami pindah ke kota kecil, Dordrecht. Di sana kami berbagi satu rumah kecil mungil dengan keluarga lain. Semua demi berhemat uang untuk bayar kuliahku.
Tapi alhamdulillah, atas izin Allah, di tengah keterbatasan itu, aku lulus S2 dan kami dikaruniai kehamilan anak pertama.
Dari masa-masa sulit itu, aku mengenal satu hal pasti tentang suamiku: Ibam adalah pekerja keras dengan integritas tinggi. Dia sangat detail, perfeksionis, dan selalu berjalan lurus sesuai aturan. Ngga pernah neko-neko.
Tahun 2016, kami berada di persimpangan jalan. Sahabatnya mengajak Ibam pulang ke Indonesia untuk membantu Bukalapak. Berat sekali rasanya meninggalkan Belanda yang sudah nyaman. Tapi setelah diskusi panjang dengan keluarga, kami memutuskan untuk pulang.
Di Indonesia, Ibam mencurahkan seluruh tenaganya untuk membangun tim engineering di sana. Dia selalu semangat kalau cerita soal ketemu pelapak dan gimana mereka terbantu pakai aplikasi yang timnya bangun.
But, as his wife, aku juga melihat ada harga yang harus dibayar: kesehatannya.
Ibam memang punya riwayat jantung bawaan dari Ibu dan Kakeknya. Jantungnya selalu berkerja ekstra keras, detaknya selalu di atas 105 bpm walau sedang istirahat. Yang tadinya di Belanda ngga pernah sakit-sakitan, sejak balik ke Indonesia setiap tahun selalu saja ada penyakit berat yang datang dan perlu macam-macam operasi dan rawat inap.
Puncaknya di tahun 2023, tubuhnya seakan kasih sinyal mau kolaps. Siang hari ketika sedang kerja, Ibam tiba-tiba muntah-muntah dan oleng tidak bisa jalan. Kami segera bawa Ibam ke UGD. Alhamdulillah, kondisinya bisa distabilkan.
Beberapa bulan kemudian setelah di MRI, ternyata Ibam kena stroke ringan yang merusak saraf vestibularnya. Sejak itu aktivitasnya mulai terhambat. Belum lagi, setahun sebelumnya dia juga didiagnosa diabetes, yang juga turunan dari keluarganya.
Jujur, aku tidak paham apakah semua penyakit ini saling berkaitan atau tidak, karena aku bukan dokter. Yang jelas, as someone closest to him, I can see that Ibam has not been physically well for the past few years.
Mundur sedikit ke Desember 2019. Waktu itu Ibam dapat tawaran dari Facebook di Inggris. Setelah bolak-balik wawancara ke London, he got the offer. I still remember how happy he was when he told me about it.
Sebagai istri yang waktu itu sedang hamil anak kedua, aku sudah membayangkan akan melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di sana.
Tapi di saat bersamaan, Ibam dihubungi tim yang sedang bantu-bantu Kemendikbud. Mereka punya visi besar soal aplikasi untuk pendidikan Indonesia. Ibam galau. Tapi setelah ngobrol dengan mereka, dia cerita ke aku:
"Kalau Facebook, 5-10 tahun lagi insya Allah masih ada. Tapi kesempatan bantu pemerintah dan pendidikan lewat teknologi kayak gini, langka banget rasanya. Ilmuku bangun aplikasi insya Allah bisa lebih bermanfaat buat banyak orang dengan kita tetap di Indo dan bikin aplikasi buat pendidikan Indonesia."
Dan yang bikin kami lebih yakin, tim itu bilang semua biaya konsultan ditanggung sebuah yayasan dan ngga akan membebani negara sama sekali.
Dengan bismillah dan istikharah, kami menolak London. Meski penghasilan jadi turun, kami yakin rezeki sudah diatur Allah. We said goodbye to London.
Tahun berganti. Ibam bekerja sebagai konsultan eksternal kementerian sejak Januari 2020. Setelah kondisi kesehatannya makin nurun pasca stroke ringan, Ibam curhat ke aku kalau dia ingin resign. Dia ingin bangun startup sendiri sama temannya supaya bisa kerja sambil bedrest dari rumah.
Di Juli 2024, setelah nabung dan kumpulin modal, mimpi sederhana itu akhirnya dimulai. Dia resign dan bikin startup AI yang support kesehatan mental.
Tapi mimpi itu ngga bertahan lama. Tanggal 23 Mei 2025, hidup kami berubah drastis.
Hari itu, ngga ada angin ngga ada hujan, rumah kami digeledah oleh APH (Aparat Penegak Hukum). Seumur hidup, belum pernah aku gemetar ketakutan seperti itu. Melihat petugas berseragam loreng hijau dan tim penyidik ada didalam rumah kami dengan jumlah yang ngga sedikit. Dengkul rasanya mau copot.
Apa yang mereka tuduhkan terhadap Ibam? Tindak Pidana Korupsi yang merugikan negara.
Rasanya seperti disambar petir. Ini kaya mimpi! Mustahil Ibam korupsi. Aku istri yang selalu bisa akses semua rekeningnya. Tidak pernah ada "uang kaget" atau dana ghaib masuk. Semua murni dari gajinya.
Rasanya saat itu juga aku ingin langsung menyodorkan mutasi rekening kami ke para penyidik dan bilang, "Silakan cek, Pak!" Tidak ada yang kami tutupi.
Lagipula, kalaupun Ibam dituduh merugikan negara, di bagian mana dia punya wewenang untuk ambil keputusan? Ibam selalu serahkan keputusan ke kementerian, he never had any authority to decide.
Juli 2025, mimpi buruk itu menjadi nyata. Ibam ditetapkan sebagai tersangka. Aku menangis sejadi-jadinya, membayangkan nasib anak-anak kami.
Coba bayangkan. Ibam itu posisinya cuma konsultan eksternal. Bukan pejabat, bukan PNS, apalagi pengambil keputusan. Tapi anehnya, dia malah dituduh "mengarahkan pengadaan" oleh para pejabat.
Padahal dari awal Ibam kasih masukan tertulis untuk Windows juga, bukan cuma Chromebook. Dan sudah wanti-wanti kalau mereka mau pakai Chromebook ada risiko yang mereka perlu pastiin dulu.
Tapi wanti-wantinya ngga didengar. Pejabat tetap jalan dengan keputusan mereka sendiri. Dan ketika jadi perkara, malah Ibam yang disalahin.
Logikanya, kalau ada niat jahat untuk mengarahkan, kenapa mesti wanti-wanti soal risikonya? Ibam sudah berbuat layaknya seorang konsultan, kasih masukan objektif lalu serahkan keputusan ke pejabat.
Yang lebih bikin nyesek, namanya dicatut di dalam SK dan kajian yang Ibam sendiri nggak pernah lihat wujudnya sampai kasus ini meledak. Di kajian itu ada kolom tanda tangan banyak orang dan kolom Ibam jelas-jelas kosong, tapi dia tetap dituduh yang nyusun kajiannya.
Sekarang, Ibam jadi tahanan kota karena kondisi jantungnya yang rentan. Kami kehilangan segalanya. Ibam kehilangan pekerjaan, startup-nya berhenti dan harus layoff semua karyawan, dan keluarga kami kehilangan sumber nafkah. Tabungan kami sekarang hampir habis.
Aku yang hanya ibu rumah tangga sekarang harus berdiri tegak mencari keadilan, termasuk mencari kuasa hukum yang sebisa mungkin pro bono karena kami ngga sanggup bayar pengacara Tipikor yang biayanya selangit.
However, I truly believe there will always be a silver lining in everything, and Allah’s plan is always the best. Mungkin ini cara Allah mau menaikkan derajat Ibam di sisi-Nya. Di balik status tersangka ini, aku tahu integritas suamiku tak pernah berubah sejak kami susah payah di Belanda dulu.
Aku memohon doa dan dukungan dari teman-teman semua untuk membagikan dan menyuarakan ketidakadilan ini.
Semoga Ibam diberikan kebebasan dan keadilan. Semoga kami dan anak-anak bisa kembali hidup normal, dan badai ini segera berlalu. Allahumma aamiin.
Eka Mustikasari retweeted
Minta tolong siapa tau ada yg berminat. Langsung email aja CV sesuai dgn loker ini @lokerdotid mba @ekakunjeri , tolong bantu di RT ya. Thanks








































