Fera Ernawati (@ferascorp) header
Fera Ernawati (@ferascorp) profile picture

Just an ordinary people who need really much to learn, share, travel, make friends, almost time Galau, but so like to be human..^_^

Indonesia
Joined June 2009
Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)Photo by Fera Ernawati (@ferascorp)
Fera Ernawati retweeted
Katanya tahun Islam cuma sampai 1500 Hijriah, jadi tinggal 52 tahun lagi. Ternyata hitungan seperti ini pernah dibuat ulama, dan meleset. Imam Ibn Hajar mencatat: Imam al-Thabari pernah menyimpulkan sisa dunia sejak hijrah Nabi adalah setengah hari, yaitu lima ratus tahun. Al-Dawudi mengingkarinya, karena waktu kiamat hanya Allah yang tahu. Lalu Imam Ibn Hajar, yang hidup di abad kesembilan Hijriah, menulis: وَيَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ أَنَّ الْأَمْرَ وَقَعَ بِخِلَافِ مَا قَالَ؛ فَقَدْ مَضَتْ خَمْسُمِائَةٍ ثُمَّ ثَلَاثُمِائَةٍ وَزِيَادَةٌ "Cukuplah sebagai bantahan bahwa kenyataan terjadi berbeda dari yang dikatakan: lima ratus tahun telah lewat, lalu tiga ratus lebih." Imam al-Thabari berpegang pada hadis Abu Tsa'labah: umat ini tidak akan lemah untuk ditangguhkan Allah setengah hari. Tapi kata Imam Ibn Hajar, hadis itu tidak tegas bahwa umat ini tidak ditangguhkan lebih dari itu. Ada juga hadis bahwa umur dunia tujuh ribu tahun. Imam Ibn Hajar menilainya sangat lemah. Imam Ibn al-Jauzi bahkan memasukkannya ke kitab al-Maudhu'at, kumpulan hadis palsu. Al-Suhaili membawakan riwayat lain, dengan hitungan seribu tahun bila umat berbuat baik, dan setengah hari bila berbuat buruk. Kalau seribu tahun, itu pun sudah lewat empat abad lebih. Jadi, kiamat memang hanya Allah yang tahu, seperti kata al-Dawudi. teapaw.org/dhyuckie66/status/2113…
Tahun islam cuman ada sampe di 1500 sedangkan kita versi masehi 2026 itu di 1448 Hijriah, batas waktu sekitar 52 tahun lagi. sebenernya kiamat hanya Allah yang tau, tapi bisa diliat dari zaman sekarang, tanda-tanda juga bisa kita liat, apalagi banyak kerusakan dibumi juga.
4
3
1,466
Fera Ernawati retweeted
Anak-anak perempuan, beberapa di bawah umur, dalam keadaan tidak menutup aurat, digerebek Brimob pada pukul 3 pagi? Dan kemudian terbukti tidak terlibat? Lagi-lagi, kekerasan keparat, eh aparat. Anyway, playbook-nya agak mirip Banyuwangi puluhan tahun silam.
⚠️TRAGEDI PENGGEREBEKAN PONPES HAMALATUL QURAN SUKOHARJO Sebuah insiden traumatis menimpa para santriwati di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sukoharjo pada Rabu (29/10/2026) dini hari. 🕒 Kronologi Kejadian (Versi Ponpes): Pukul 03.20 WIB: Belasan polisi & Brimob bersenjata lengkap mendobrak pintu asrama saat santriwati tertidur karena tidak sempat membukakan pintu. Tanpa Hijab & Ditodong: Santriwati yang kaget dan belum sempat mengenakan hijab/cadar ditarik keluar, ditodong laras panjang, hingga mengalami intimidasi fisik & verbal (wajah dicengkram & dibentak). Bahkan, balita 3 tahun ikut terbawa dan mengalami trauma, serta anak 5 tahun sempat terpisah. Pukul 03.51 - 17.00 WIB: Santriwati digiring ke Polsek Mojolaban lalu dipindah ke Polres Sukoharjo untuk diinterogasi tanpa didampingi wali/kuasa hukum dan tanpa surat panggilan. Mereka juga sempat kelaparan karena baru diberi makan sore hari. Penyitaan Barang (~Rp50 Juta): Polisi menyita peralatan ekstrakurikuler (busur panah & drone), HP santri/ustadzah, uang tunai, emas, dirham, hingga 3 unit motor tanpa surat penyitaan. Aktivitas ponpes lumpuh akibat garis polisi. 🛡️Klarifikasi & Versi Pihak Kepolisian: Penggeledahan ini merupakan tindak lanjut penyidikan kasus pembakaran warung di Grogol, Sukoharjo. Polisi mengamankan dan memeriksa 27 orang saksi (termasuk anak di bawah umur) dari dua lokasi di Karanganyar & Sukoharjo dengan melibatkan pendampingan P2TP2A/UPTD PPA. Setelah pemeriksaan, seluruh santri dan pihak ponpes yang diperiksa telah dipulangkan karena tidak terbukti terlibat, meskipun pihak ponpes menyayangkan prosedur penggerebekan yang dinilai tidak humanis dan mendesak pengembalian barang-barang yang disita. (Sumber: Yayasan Dakwah & Sosial Al-Mukmin / Rilis Resmi Pesantren)
5
52
124
1,407
Fera Ernawati retweeted
Keliru Pak Menteri. Shalat Magrib itu kewajiban semua orang Islam. Saat anak muda Muslim dan Katolik bisa barengan bekerja untuk rakyatnya, mestinya diapresiasi. Bukan dibenturkan seperti ini, Pak Menteri.
17
19
1
91
4,986
Fera Ernawati retweeted
Lah haji nya mah gratis ler, yang lu bayar kan biaya penggunaan pesawat dan amenities lainnya Lu kata triple seven ama 330 bisa di maintanence bermodal terimakasih doang gitu ? Kan kaga
Kalo dipikir2 ada benernya sih soalnya harusnya gratis haji tuh Di islam jg gaada dalil kalo mau haji harus bayar sekian2 Emg dasarnya duitnya saudi dipake buat nembak2in org yaman sm palestine aja
34
219
5
2,595
83,506
Fera Ernawati retweeted
MUI meminta umat tidak lagi mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf karena ceramahnya dinilai merendahkan perempuan. Bolehkah memboikot penceramah? Dalam tradisi ilmu, memperingatkan umat dari penyampai agama yang bermasalah punya dasar. Imam al-Nawawi menyebut enam sebab ghibah dibolehkan. Sebab keempat: تَحْذِيرُ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الشَّرِّ وَذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ مِنْهَا جَرْحُ الْمَجْرُوحِينَ مِنَ الرُّوَاةِ وَالشُّهُودِ وَالْمُصَنِّفِينَ وَذَلِكَ جَائِزٌ بِالْإِجْمَاعِ بَلْ وَاجِبٌ صَوْنًا لِلشَّرِيعَةِ "Memperingatkan kaum Muslimin dari keburukan, di antaranya dengan menjarh para perawi, saksi, dan penulis yang tercela. Itu boleh menurut ijmak, bahkan wajib demi menjaga syariat." Masih di sebab yang sama: kalau seseorang memegang posisi yang tidak ia jalankan semestinya, ia disebutkan kepada pihak yang membawahinya, supaya orang tidak tertipu olehnya dan ia kembali lurus. Hanyasaja, ada dua batas. Pertama, niatnya harus menasihati. Kedua, untuk orang yang terang-terangan, Imam al-Nawawi menulis: فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا يُجَاهِرُ بِهِ وَلَا يَجُوزُ بِغَيْرِهِ إِلَّا بِسَبَبٍ آخَرَ "Boleh menyebutnya dengan apa yang ia tampakkan, dan tidak boleh dengan selainnya kecuali karena sebab lain." Jadi, boikot karena isi ceramah yang ditayangkan di depan umum punya dasar. Yang boleh disebut hanya apa yang ia tampakkan. teapaw.org/LambeSahamjja/status/2…
mui meminta umat islam memboikot dan tidak lagi mengundang habib alwi bin abdurrahman assegaf sebagai penceramah sebabnya: potongan video ceramahnya viral dan dinilai merendahkan perempuan kata mui wakil ketua umum mui, kh m cholil nafis, lewat akun x pribadinya (dikutip dari laman mui)isi ceramah dinilai tidak mencerminkan etika dan keteladanan seorang dai bisa merusak citra dakwah islam dan moral masyarakat “jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini” apa pun statusnya, penceramah yang melanggar kesantunan tidak layak, dan dia bilang malah merusak islam
1
6
1
19
1,508
Fera Ernawati retweeted
Aku baru baca kronologi penggerebekan ini. Sumpah ini tuh contoh nyata bagaimana arogansi dan ketimpangan relasi kuasa dipertontonkan secara telanjang oleh aparat. Belasan polisi dan Brimob bersenjata laras panjang mendobrak asrama pada saat santriwati sedang tidur. Mereka juga menodongkan senjata ke anak di bawah umur tanpa surat panggilan, tanpa surat penangkapan, dan tanpa surat penggeledahan bukanlah penegakan hukum? Mereka nih memang hobi menyalahgunakan wewenang kah? Masalahnya ini dalih penyidikan kasus pembakaran warung dipakai untuk menormalisasi tindakan dehumanisasi yang menjijikkan. Kok bisa bis dengan pedenya melakukan pelanggaran privasi, ruang aman, dan batas-batas kemanusiaan dengan sangat barbar??? Yang lebih gila lagi ya matinya nalar prosedural mereka. Para santriwati digiring dan diinterogasi tanpa didampingi oleh wali atau kuasa hukum, terus dibiarkan kelaparan hingga baru diberi makan saat kondisi tubuh mereka sudah lemas. Kita harus mengutuk dan menuntut pertanggungjawaban atas kesewenang-wenangan yang bertindak jauh di luar prosedur hukum yang berlaku.
⚠️TRAGEDI PENGGEREBEKAN PONPES HAMALATUL QURAN SUKOHARJO Sebuah insiden traumatis menimpa para santriwati di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sukoharjo pada Rabu (29/10/2026) dini hari. 🕒 Kronologi Kejadian (Versi Ponpes): Pukul 03.20 WIB: Belasan polisi & Brimob bersenjata lengkap mendobrak pintu asrama saat santriwati tertidur karena tidak sempat membukakan pintu. Tanpa Hijab & Ditodong: Santriwati yang kaget dan belum sempat mengenakan hijab/cadar ditarik keluar, ditodong laras panjang, hingga mengalami intimidasi fisik & verbal (wajah dicengkram & dibentak). Bahkan, balita 3 tahun ikut terbawa dan mengalami trauma, serta anak 5 tahun sempat terpisah. Pukul 03.51 - 17.00 WIB: Santriwati digiring ke Polsek Mojolaban lalu dipindah ke Polres Sukoharjo untuk diinterogasi tanpa didampingi wali/kuasa hukum dan tanpa surat panggilan. Mereka juga sempat kelaparan karena baru diberi makan sore hari. Penyitaan Barang (~Rp50 Juta): Polisi menyita peralatan ekstrakurikuler (busur panah & drone), HP santri/ustadzah, uang tunai, emas, dirham, hingga 3 unit motor tanpa surat penyitaan. Aktivitas ponpes lumpuh akibat garis polisi. 🛡️Klarifikasi & Versi Pihak Kepolisian: Penggeledahan ini merupakan tindak lanjut penyidikan kasus pembakaran warung di Grogol, Sukoharjo. Polisi mengamankan dan memeriksa 27 orang saksi (termasuk anak di bawah umur) dari dua lokasi di Karanganyar & Sukoharjo dengan melibatkan pendampingan P2TP2A/UPTD PPA. Setelah pemeriksaan, seluruh santri dan pihak ponpes yang diperiksa telah dipulangkan karena tidak terbukti terlibat, meskipun pihak ponpes menyayangkan prosedur penggerebekan yang dinilai tidak humanis dan mendesak pengembalian barang-barang yang disita. (Sumber: Yayasan Dakwah & Sosial Al-Mukmin / Rilis Resmi Pesantren)
5
78
1
167
2,115
Fera Ernawati retweeted
Kata temen saya yang pasukan elit khusus yang pernah bertugas di aceh. "Bedanya kami dengan polisi, kita gamungkin nembak mereka pas lagi solat atau ibadah, kelar ibadah ya tembak-tembakan lagi" "Makanya densus kebanyakan isinya orang ___ , kaga kenal gitu-gituan merekamah."
jadi gini guys, lagi rame soal penggerebekan polisi di pesantren putri hamalatul quran, sukoharjo. isinya menyebut penggerebekan itu kejam dan tanpa surat resmi. versi pesantren pukul 03.20 wib, brimob bersenjata lengkap dan puluhan polisi yang mengaku dari polda jateng dan polres sukoharjo mengetuk pintu pondok saat santriwati tidur. karena tidak dibuka, pintu didobrak. santriwati yang belum berjilbab bersembunyi di kamar ustadzah, tapi pintu kamar itu juga didobrak. mereka disebut ditarik keluar dan ditodong laras panjang tanpa sempat berhijab satu santriwati disebut disuruh tiarap, wajahnya dicengkram, dan dibentak "kamu laki-laki atau perempuan?" sambil diminta memperlihatkan rambutnya pukul 03.51 mereka dibawa ke polsek mojolaban, lalu pukul 10.00 dipindah ke polres sukoharjo untuk interogasi tanpa wali dan kuasa hukum, serta tanpa surat panggilan. mereka baru diberi makan pukul 17.00 setelah lemas wali santri mengaku tidak ditelepon polisi, kecuali satu wali. balita 3 tahun anak ustadzah ikut dibawa, dan anak 5 tahun sempat hilang, diamankan warga lalu diantar ke rumah kakeknya barang yang disita disebut senilai sekitar rp50 juta: busur dan anak panah untuk ekskul memanah, drone ekskul, hp santri dan ustadzah, tabungan lebih dari rp16 juta, emas antam 1 gram, dirham, dan 3 motor ustadzah, tanpa surat penyitaan. kegiatan belajar berhenti karena dipasang garis polisi versi polisi polisi menggeledah dua pesantren di karanganyar dan sukoharjo pada selasa 27 oktober 2026, terkait penyidikan pembakaran warung mi dan babi tepi sawah di desa parangjoro, grogol, sukoharjo. disita senjata tajam, busur, dan anak panah, dan 27 orang dibawa sebagai saksi: 12 di jenawi, karanganyar dan 15 di mojolaban, sukoharjo, termasuk anak di bawah umur. polisi bilang pemeriksaan melibatkan p2tp2a dan uptd ppa, dan semuanya sudah dipulangkan pesantren bilang setelah pemeriksaan tidak ditemukan bukti keterlibatan, tapi barang belum dikembalikan. mereka mengutuk tindakan itu dan berharap jadi bahan evaluasi nah menurut kalian guys, penggeledahan malam hari ke pesantren ini wajar demi penyidikan, atau prosedurnya perlu diaudit karena melibatkan anak dan perempuan?
6
25
2
152
10,652
Fera Ernawati retweeted
Ada perempuan dibawah umur digeledah polisi bersenjata lengkap, diintimidasi dini hari and the first thing across your mind is being police's hoe and speak for them. Tololnya nolol banget.
Replying to @LambeSahamjja
-Teroris dibalik baju agama -Banyak kasus yg seperti ini -Anak bangsa yg seharusnya berpendidikan malah nafsu agama -Untuk memajukan negara yg dikejar Pendidikan bukan Agama -Pemahaman pesantren sudah berubah sama oknum
3
551
4
1,721
11,789
Gokil! Sekarang pondok pesantren pun disikat juga sama parcok. Gak pake babibu, santriwati pun disekap sama mereka. Inikah wujud nyata dari slogan parcok terbaru yaitu "Polisi Bersama Masyarakat"? Ini sih sama saja. Gak akan pernah berubah
Sebuah tragedi horror dan traumatis bagi anak-anak santri perempuan di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sukoharjo pada 27 Oktober 2026. Polisi dengan senjata lengkap tiba-tiba mendobrak tempat santriwati sekitar pukul 3 pagi, diduga melakukan kekerasan pada santri perempuan.
5
92
1
242
3,722
Fera Ernawati retweeted
Inilah kenapa tikus-tikus jadi gemuk dan beranak pinak, karena kucing pun tak lagi melihatnya sbg hama. Hanya jadi mainan.
Kalian bingung kenapa masih banyak orang yang nipu lewat donasi kaya band SistersInDanger? Karena respon dari si coklat itu: "sedikit doang kok. di ingatkan saja, kalau dia mau bisa aja di gondol semua" NEGARA RUSAKKKKKK 😭
6
15
42
2,562
Fera Ernawati retweeted
Warung babi dibakar eh yg digrebek jam 3 pagi pesantren pondok yg isinya perempuan lagi tidur yg sehari2 mereka berjilbab&ada yg pake cadar,maksudnya apa ini @DivHumas_Polri?Kalian lagi pelecehan ke perempuan? Knapa ga kalian cari warung babi sekitar?Bisa jadi persaingan usaha
BREAKING 🚨🚨 PEREMPUAN DINI HARI DI GREBEK LAKI-LAKI DEWASA!! BANTU UP GUYS 🙏 @DIVISIPROPAMPOLRI KENAPA YANG DI GREBEK PONDOK PUTERI YANG ISINYA PEREMPUAN SEMUA, ANGGOTANYA NGGAK PUNYA AKAL KAH PAK SAMPE SEGITUNYA?! AURAT MEREKA KEMANA², BELUM MENGENAKAN HIJAB DAN PAKAIAN YANG SEMESTINYA. LOGIKA AJA INI PEREMPUAN, SANTRI LAGI YANG NOTABENE KEGIATAN NYA DI DALEM PESANTREN DOANG. YA ALLAH 💔 LAKNATULLAH YA POLISI YG TUKANG MALING DAN INTIMIDASI 😡
43
397
5
1,189
15,331
Fera Ernawati retweeted
Innalilahi Wainnailaihi Raji'un 30 Oktober 2026, malam ini terjadi luapan air besar Sungai Cikalintu hingga masuk rumah warga di wilayah Jl. Siliwangi Dalam Kelurahan Cipaganti, Kec.Coblong, Kota Bandung. STAY SAFE YA TEMEN TEMEN Sc : @.zumaahmd
60
3,272
126
8,035
439,489
Fera Ernawati retweeted
Jumlahnya sama, tapi kalau tempatnya di Mina berbeda, maka beda perkara. Kalau 20.000 kuota tambahan diambil untuk reguler semuanya, otomatis semua kuota itu di mina reguler. Gak ada kuota tambahan saja sudah berdesak-desakan, apalagi ditambah sebanyak itu.
Replying to @Stakof
Memang kalau dari haji reguler ke haji khusus, sementara jumlah orangnya sama, apa gak sama saja masalahnya, berdesak desakan? Jangan cari pembenaran atasnama fikih
2
1
1
1,245
SURAT TERBUKA UNTUK KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, JENDERAL POLISI SUYUDI ARIO SETO @SuyudiArioSeto Tentang Penggeledahan di Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh Bapak Kapolri yg saya hormati, Saya menulis surat ini sebagai warga negara yg masih menaruh harapan besar pada institusi yg Bapak pimpin. Baru sebulan Bapak memegang amanah ini. Justru karena itu, saya berharap surat ini sampai kepada Bapak sebagai pengingat sejak awal: bahwa wibawa polisi tidak lahir dari laras senjata, melainkan dari rasa aman yg dirasakan rakyat paling lemah, termasuk anak-anak perempuan yg sedang tidur di asramanya. Pada Selasa dini hari, 27 Oktober 2026, aparat gabungan Polda Jawa Tengah dan Polres Sukoharjo melakukan penggeledahan di Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an, Desa Laban, Mojolaban. Menurut kronologi resmi yg disampaikan pengurus pondok melalui surat edaran tertanggal 29 Oktober 2026, inilah yg dialami para santriwati dan ustadzah: 1. Sekitar pukul 03.20 WIB, pintu pondok didobrak saat para santriwati masih tertidur. Mereka ditarik keluar dan ditodong laras panjang dalam keadaan belum mengenakan jilbab dan pakaian yg semestinya. 2. Seorang santriwati yg sendirian di ruang belakang disuruh tiarap, tubuhnya dibolak-balik, wajahnya dicengkeram, lalu dibentak berulang kali dengan pertanyaan apakah ia laki-laki atau perempuan, sambil diminta memperlihatkan rambutnya di bawah todongan senjata. 3. Para santriwati, termasuk anak di bawah umur, diinterogasi di Polsek Mojolaban lalu Polres Sukoharjo tanpa didampingi wali maupun kuasa hukum. Mereka sempat menahan lapar berjam-jam sebelum diberi makan. 4. Dua balita anak ustadzah ikut terdampak. Seorang anak usia 5 tahun sempat terpisah dan baru ditemukan serta diantar warga ke rumah kakeknya. 5. Menurut pengurus, uang, emas, sepeda motor, telepon genggam, komputer, serta perlengkapan panahan dan drone untuk ekstrakurikuler disita dengan nilai sekitar Rp50 juta, tanpa surat penyitaan yg diterima pemilik barang hingga surat edaran itu ditulis. Saya juga telah membaca keterangan Kapolres Sukoharjo kepada media, bahwa penggeledahan ini bagian dari penyidikan kasus pembakaran sebuah warung, bahwa mereka yg diamankan berstatus saksi, dan bahwa semuanya telah dipulangkan. Keterangan itu justru menambah pertanyaan saya: jika mereka hanya saksi, mengapa anak-anak perempuan diperlakukan seperti tersangka teroris yg paling berbahaya? Saya tidak berada di lokasi malam itu, dan saya tidak meminta Bapak menerima begitu saja satu versi cerita. Yg saya minta adalah agar setiap pengakuan di atas diperiksa secara jujur, terbuka, dan oleh pihak yg independen. Bapak Kapolri, Bayangkan mereka adalah putri Bapak sendiri. Terbangun oleh suara pintu didobrak, belum sempat menutup aurat, lalu melihat moncong senjata di depan wajahnya. Bagi seorang muslimah, auratnya adalah kehormatannya. Bagi seorang anak, malam itu bisa menjadi luka yg ia bawa seumur hidup. Trauma seperti ini tidak ikut pulang bersama surat pemulangan. Saya tidak membela siapa pun yg bersalah. Jika ada pelaku pembakaran, silakan diusut tuntas dan dihukum seadil-adilnya. Penegakan hukum adalah tugas mulia. Namun hukum yg ditegakkan dengan melanggar hukum hanya akan melahirkan ketidakpercayaan baru. Undang-undang kita sendiri mewajibkan penggeledahan disertai surat perintah, penyitaan disertai berita acara, dan anak yg berhadapan dengan hukum didampingi orang tua atau pendamping. Perempuan semestinya diperiksa oleh polisi wanita, dengan menjaga martabatnya. [BERSAMBUNG]
117
1,682
49
2,720
49,570
Fera Ernawati retweeted
Kita itu sudah biasa kok: berpikir SUBSTANSIAL. Kenapa dulu dibuat aturan syaray calon capres-cawapres "hanya" minimal SMA, bukan S1? Karena saat itu ada Gus Dur dan Megawati yang tidak tamat sarjana. Dan karena kita tahu kualitas Gus Dur dan Megawati itu layak menjadi Presiden, maka dibuatlah aturan bahwa pendidikan minimal capres hanyalah SMA. Dari sudut pandang akademis, syarat itu sebenarnya terlalu rendah untuk jabatan setinggi Presiden. Tapi, kita berpikir SUBSTANSIAL bahwa faktanya ada orang tertentu yang punya kemampuan lebih meski hajya lulus SMA. Contoh figur publik yang cuma lulus SMA tapi bisa jadi pemimpin hebat misalnya: Dahlan Iskan. Dia pernah jadi CEO Jawa Pos dan menjadi Jawa Pos dari koran kecil menjadi media raksasa. Saat ini kita menghadapi masalah SUBSTANSIAL yang lain. Ada orang nggak punya ijazah SMA tapi lulus S1 secara sah. Jalur kuliah di luar negeri memungkinkan itu. Maka, secara SUBSTANSI, orang itu sudah memenuhi syarat sebagai capres-cawapres. Tentu tinggal ditanyakan ke lembaga pendidikan tinggi yang mengeluarkan ijazah S1 itu, apakah ada prosedur yang melanggar saat dia masuk dan kuliah di tempat itu. Contoh figur publik yang tidak punya iuazah SMA tapi lulus S1 adalah: Azrul Ananda, putra dari Dahlan Iskan. Azrul hanya sekolah sampai kelas 10 di Amerika lalu langsung ambil Junior College 2 tahun, disambung kuliah di universitas normal selama 2 tahun, dia sudah dapat gelar S1. Semua di Amerika Serikat. Apakah kita akan menolak orang seperti Azrul Ananda sebagai pemimpin bangsa ini hanya karena dia tak punya ijazah SMA? Tentu tidak. Meski dia tidak punya ijazah SMA (sederajat), dia bukan lukusan SMP. Karena kita tahu, dia sudah lulus S1. Dan itu gelar yang sah. Sekali lagi, secara SUBSTANSI, dia sudah memenuhi syarat dari aturan yang kita buat. Jika Anda bersikukuh bahwa ijazah SMA adalah keharusan dan menafikan ijazah di atasnya, bagi saya jelas: Anda tidak paham SUBSTANSI. Janganlah kebencian Anda ke seseorang membuat Anda berpikir tidak logis. Saya tidak sedang membela Gibran. Saya sedang memperjuangkan logika sederhana tentang babyaknya anak bangsa yang tak punya lembar ijazah SMA tapi punya ijazah S1. Coba tanya ke perusahaan yang sangat profesional, jika mereka mensyaratkan calon karyawannya minimal SMA tapi dia malah menyodorkan ijazah S1, apakah itu akan jadi masalah? Tentu logika sederhana itulah yang akan dipakai.
"Ujung dari Kasus Ijazah Gibran" Banyak yang mengira hasil MK kemarin berujung ke pelengseran Gibran. Mereka tertawa seakan Gibran sudah berhasil mereka turunkan. Sejak 2014 tawa itu sudah sering kita dengar untuk Jokowi, seakan-akan bisa menurunkan Jokowi. Padahal, itulah mimpi basah terpanjang dalam sejarah. Dan seperti biasa, pada akhirnya mereka akan menelan kekecewaan lagi. Putusan MK memang akan berlanjut ke "forum pembuktian" berikutnya. Tapi di ujung sana, SUBSTANSI yang akan memenangkan perdebatan ini. Bahwa Gibran sudah lulus S1 secara sah, itu tak terbantahkan. Lembaga yang mengeluarkan ijazah Gibran masih ada. Dan bisa dibuktikan. Kenapa pihak Gibran mendaftar pakai Suket saat itu? Ya karena surat keterangan sudah cukup untuk saat itu. Bukan cuma Gibran yang mendaftar memakai Suket untuk daftar calon kepala daerah. Kenapa Dikdasmen, dan KPU saat itu mengeluarkan Suket dan meloloskan Gibran? Ya karena secara SUBSTANSI mereka tahu bahwa Gibran sudah S1 dan sudah memenuhi syarat. Tidak ada manipulasi dari penerbitan Suket ini. Secara logika sederhana sudah cukup jelas karena mereka tahu bahwa: Gibran sudah lulus S1. Gibran yang tidak ingin mencantumkan gelar akademik di kertas suara (seperti halnya Prabowo), memang hanya perlu surat keterangan sederhana untuk menjelaskan bahwa dia SUDAH melebihi syarat yang ditentukan, yaitu pendidikan paling rendah lulus SMA. Orang PDIP pun, saat mendaftarkan Gibran sebagai calon wali kota Solo, juga sudah tahu. PDIP tahu bahwa semua proses itu tak ada yang melanggar hukum. Makanya dari dulu, Suket itu tidak pernah jadi masalah. Lha wong hanya memberi surat keterangan sesuatu yang sudah mereka yakini itu benar. Apa masalahnya? Kalau sekarang MK menyatakan bahwa tidak ada sertifikat yang setara SMA saat pendaftaran itu, ya memang tidak ada. Kan yang dimiliki Gibran cuma Sertifikat O Level yang lebih rendah dari SMA, dan Sertifikat Advanced Diploma yang di atas SMA. Tidak ada yang sama persis setingkat SMA. Namun semua yang memproses saat itu sudah tahu hal itu. Dan itu seharusnya tidak ada masalah. Sekali lagi, secara substansi dan secara niat, tak ada masalah dengan fakta: "tidak ada ijazah SMA". Hanya saja putusan MK kemarin memang belum membahas tahapan pendidikan Diploma atau S1. Tahapan kemarin, MK hanya "mencari ijazah yang setara SMA", bukan mncari ijazah yag di atas SMA. Makanya di "forum" tahap berikutnya, entah itu hak angket di DPR atau nanti kembali ke MK, pada akhirnya ijazah S1 yang akan dibahas. Substansi dari syarat pendidikan itu yang akan jadi poin "persidangan Gibran" di tahap berikutnya. Untuk memastikan keaslian dan kelayakan ijazah S1 Gibran, tentu negara harus memanggil lembaga pendidikan yang mengeluarkan ijazah itu. Namun, sepanjang ijazah S1 itu dinyatakan sah, "forum berikutnya" tersebut akan menghasilkan kesimpulan: Gibran memenuhi syarat pendidikan minimal sebagai wapres dan tidak ada alasan untuk melengserkan. Pada akhirnya, impian mereka bisa melengserkan Gibran tentu tidak akan terwujud. Dan mereka yang tertawa-tawa saat ini akan terbangun dari mimpi dan sadar mereka cuma mimpi basah, yang itu sudah mereka alami sejak 2014.
104
39
8
161
20,209
Fera Ernawati retweeted
Asal LU tau, siwon pro Zionist tbh wkwkwk
Choi Siwon telah mengunfollow Raffi Ahmad di Instagram pribadi nya
65
2,717
69
23,037
243,461
Indon: gaji kami 2jt per bulan mana cukup buat beli ayam Also indon ketika ada pabrik yang meningkatkan nilai ekonomi negara:
Baru saja diresmikan tanggal 3 September 2026, Pabrik PT Build Your Dream (BYD) sudah direcokin Ormas, dengan Aksi Demo pada Rabu (28/10/2026) yang sangat berpotensi mengganggu psikologis investor dan jalannya investasi, karena Investor butuh stabilitas sosial dan keamanan.
43
860
25
4,648
74,551
Fera Ernawati retweeted
haji reguler: negara yang beli/bayar maktab dan mengurus semuanya kapasitas udah mentok haji khusus: negara cuma kasih jatah kuota aja, PIHK (agen travel) yang membeli/membayar maktab, pilih-pilih sendiri bahkan bisa last minute on the spot nego sendiri di Makkah-Mina-Madinah
wow kasus sudah sejauh ini dan lebih dari setahun tapi poin inti ini baru sekarang difahami ya? 😲 kuat banget ya isu tuduhan negatifnya sampai intisari alasan 50:50 sesederhana ini tidak banyak difahami kuota reguler tanpa bonus = ~200 ribu jamaah maktab/tenda di Mina tidak VIP, kapasitas sudah berdesakan kuota haji khusus (“ONH Plus”) = ~20 ribu jamaah cuma 1:10 dibanding reguler, opsi maktab/tenda di Mina bisa ambil yang longgar dan mahal, toh bayar sendiri dan mampu bahkan jamaah UKB sendiri menurutnya di podcast bayar maktab lain sendiri, maktab khusus yang dipilihkan oleh Ibnu Mas’ud tidak dipake meski sudah dibayar karena masih kurang elite VIP (kurang dekat dari lokasi jumrah)
6
25
3,056
Fera Ernawati retweeted
Haloo warga Jadi, ada emak-emak yang posting kegiatan recycle-nya. Emak-emak tersebut merupakan pengrajin daur ulang. Nah, sampai lah konten keseharian emak ini ke perusahaan Unilever, dan konten emak ini di-takedown serta diperingatkan untuk tidak merecycle produk Unilever. Apapun alasannya, dari pihak Unilever nggak masuk akal. Kalau perusahaan beralasan mereka punya program pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, tapi faktanya sampah dari Unilever masih banyak di luar sana yang mencemari lingkungan dan bahkan sampai ke TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terakhir). Artinya, masih banyak sampah Unilever yang tidak terjangkau dan tidak terolah kembali. Harusnya langkah Unilever yang tepat adalah melihat konten bunda tersebut sebagai kesempatan untuk mendukung dan mengedukasi yang lainnya. Wong pemerintah aja mendukung gerakan recycle, ini malah nahan-nahan recycle. 😂😂🔥 Gimana menurut kalian, warga? Apakah perusahaan seharusnya mendukung gerakan daur ulang seperti ini?
5
8
2
36
8,767
Fera Ernawati retweeted
wow kasus sudah sejauh ini dan lebih dari setahun tapi poin inti ini baru sekarang difahami ya? 😲 kuat banget ya isu tuduhan negatifnya sampai intisari alasan 50:50 sesederhana ini tidak banyak difahami kuota reguler tanpa bonus = ~200 ribu jamaah maktab/tenda di Mina tidak VIP, kapasitas sudah berdesakan kuota haji khusus (“ONH Plus”) = ~20 ribu jamaah cuma 1:10 dibanding reguler, opsi maktab/tenda di Mina bisa ambil yang longgar dan mahal, toh bayar sendiri dan mampu bahkan jamaah UKB sendiri menurutnya di podcast bayar maktab lain sendiri, maktab khusus yang dipilihkan oleh Ibnu Mas’ud tidak dipake meski sudah dibayar karena masih kurang elite VIP (kurang dekat dari lokasi jumrah)
Di penutup sidang, tadi Buya Anwar ditanya hakim anggota soal Gus Yaqut. Ternyata hakim masih penasaran dengan kaidah fikih yang tadi beliau bawakan: درء المفاسد مقدم على جلب المصالح “Menghindari kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan” Kata hakim anggota (saya tidak tahu nama beliau): “Saudara Saksi tolong jangan berpendapat, tapi jawab sesuai apa yang Saksi ketahui saja. Apakah Saudara Terdakwa (baca: Gus Yaqut) menerapkan kaidah ini?” Menurut Buya, mendapatkan kuota tambahan sebanyak 20.000 punya banyak maslahat. Antrean haji bisa berkurang, penyerapan haji menjadi lebih banyak, dan ada 20.000 orang yang akan beribadah. Tapi di satu sisi, kuota tambahan punya mudarat. Orang bisa berkelahi, bertengkar, berdesak-desakan. Buya sempat mengisahkan anekdot, bahwa bagi orang Padang (beliau orang Padang ternyata), ada tiga orang yang tidak boleh diganggu: orang lapar, orang ngantuk, dan orang kebelet. Tiga jenis orang itu bakal ada di Mina, dengan atau tanpa kuota tambahan. Tapi kuota tambahan bakal menambah kerusakan itu, karena Mina tidak bertambah luas, yang datang ke sana bertambah. “Jika saya adalah menteri Agama waktu itu, saya lebih baik tidak menerimanya,” demikian kata Buya. Tapi jika kuota sebanyak ini sudah diterima, lanjut Buya, maka memindahkan reguler 10.000 dan haji khusus 10.000 adalah sikap menghindari bahaya itu sendiri, sesuai prinsip tadi. “Saudara saksikan sendiri?” Tanya hakim anggota kepada Buya. “Iya, saya saksikan sendiri.” Pungkas Buya. Bagus banget Buya menjelaskan. Sayangnya, alasan baik ini dimanfaatkan ASN Kemenag untuk menjual kuota haji. Mereka bahkan datang ke persidangan bukan sebagai tersangka, tapi saksi. Padahal, mereka menikmati miliaran uang, beli rumah, kos-kosan, mobil, perhiasan, dan lain sebagainya. Sementara orang yang dipuji Buya Anwar dengan “jika saya yang jadi menteri, dengan tantangan Gus Yaqut semacam itu, saya pasti gak kuat”, malah mendekam di penjara. Buya juga sempat ditanya Hakim Ketua, apa perbedaan haji 2023 dengan 2024. Tahun 2023, menurut Buya, kuota tambahannya 8.000, namun (mohon maaf) yang meninggal 700-an. Tahun 2024 kuota tambahannya 20.000, lebih banyak lansia, namun yang meninggal turun drastis. “Ini penilaian saya tentang Gus Yaqut. Padahal kami tidak begitu akrab. Ketemu pun tiga kali. Yang kedua adalah ketika saya menjadi na’ib amir al-hajj tahun 2024.” Pungkas Buya. Tahun 2024 inilah pusat dakwaan KPK itu. ☺️
4
10
1
24
7,379