Joined September 2016
Include

Only show posts containing:

Exclude

Hide posts containing:

Time range
-
Minimum likes
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh. soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh. ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya. sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih. tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini? dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan. dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius. aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan. sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang. aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh. aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya. judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.” kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
1
2
2
32
meu humor ultimamente, do qual ninguém faz ideia.
6
1,260
46
4,039
86,556
Kadang aku mikir, kenapa ya kita bisa bertahan lama sama seseorang yang sebenarnya belum tentu cocok sama kita? Mungkin karena kita nggak cuma melihat dia yang sekarang, tapi juga membayangkan dia bisa jadi seperti apa nanti. Kita mikir, “Dia sebenarnya baik kok, mungkin cuma belum dewasa,” atau “Nanti kalau udah lebih serius, mungkin dia bakal berubah.” Tanpa sadar, kita malah jatuh cinta sama potential-nya, bukan sama kenyataan yang kita hadapi sekarang. Aku rasa ini yang kadang bikin kita susah pergi dari seseorang. Karena setiap kali ada hal yang bikin kecewa, kita selalu punya alasan buat memaklumi. Kita ingat sisi baiknya, ingat momen-momen menyenangkan, terus mikir kalau mungkin semuanya bakal berbeda suatu hari nanti. Padahal, kita juga nggak tahu kapan hari itu bakal datang, atau apakah dia memang punya keinginan buat berubah. Of course, setiap orang bisa berkembang. Kita juga pasti punya kekurangan dan masih belajar jadi pribadi yang lebih baik. Tapi menurutku, ada bedanya antara menemani seseorang yang memang sedang berusaha memperbaiki diri dan terus menunggu seseorang yang cuma kita harapkan bakal berubah. Yang satu kelihatan dari usahanya, yang satu lagi kadang cuma hidup dari harapan kita sendiri. Makanya, sekarang aku ngerasa kalau mengenal seseorang itu penting banget. Jangan cuma lihat dia punya potensi jadi pasangan yang baik, tapi lihat juga gimana dia memperlakukan kita sekarang. Gimana dia menyelesaikan masalah, gimana dia menepati janji, dan apakah dia benar-benar menunjukkan kalau hubungan ini penting buat dia. Because potential is not the same as reality. Kita boleh banget percaya kalau seseorang bisa jadi lebih baik, tapi jangan sampai kepercayaan itu bikin kita terus mengabaikan apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita juga punya kehidupan yang harus dijalani, bukan cuma waktu yang harus dihabiskan buat menunggu seseorang menjadi versi dirinya yang kita harapkan. Menurutku, mencintai seseorang itu boleh, melihat sisi baiknya juga boleh, tapi tetap harus bisa melihat dia apa adanya, bukan cuma siapa yang kita harap dia akan jadi nanti.
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu. Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We don’t know the whole story, right? Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu. Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we don’t always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain. Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
214
87
2
260
2,635
Sekarang kalau ada masalah sama pasangan, kadang kita bisa langsung tahu dari story atau postingan seseorang. Ada yang menyindir, mengunggah potongan chat, atau bikin video tentang apa yang dilakukan pasangannya. Mungkin saat itu dia lagi kecewa banget dan pengen orang lain tahu apa yang dia rasakan. Dan sebenarnya, aku bisa memahami kenapa seseorang ingin didengar ketika sedang sakit hati. Tapi menurutku, ada baiknya kita membedakan antara cerita ke orang yang kita percaya dan menceritakan semuanya ke publik. Kalau kita curhat ke teman dekat, kita bisa mendapatkan masukan dari orang yang memang mengenal kita. Tapi kalau sudah diunggah ke media sosial, ceritanya bisa menyebar ke mana-mana, bahkan sampai ke orang yang nggak tahu apa-apa tentang hubungan kita. Once it’s online, things can get out of control. Apalagi kalau kita mengunggah sesuatu saat masih marah. Kadang kita cuma ingin meluapkan perasaan saat itu, tanpa benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Besoknya mungkin kita sudah lebih tenang, masalahnya sudah dibicarakan, atau bahkan sudah selesai. Tapi postingan yang telanjur tersebar belum tentu bisa ditarik kembali sepenuhnya. Walaupun begitu, bukan berarti semua masalah hubungan harus disimpan sendiri. Kalau kita butuh bantuan, butuh sudut pandang lain, atau sedang mengalami perlakuan yang membahayakan, penting banget buat mencari dukungan dari orang yang bisa dipercaya. Menjaga privasi bukan berarti harus menutupi masalah serius atau menghadapi semuanya sendirian. Menurutku, sebelum mengunggah sesuatu tentang pasangan, coba kasih waktu buat diri sendiri supaya lebih tenang. Tanyakan ke diri sendiri, aku benar-benar ingin mencari solusi, butuh bantuan, atau cuma lagi pengen meluapkan emosi? Nggak ada salahnya mengambil jeda sebelum memutuskan sesuatu. Kita tetap boleh punya tempat buat bercerita tanpa harus menjadikan semua masalah sebagai konsumsi publik. Because not everything needs an audience. Kadang, menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat jauh lebih penting daripada membuat banyak orang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu. Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We don’t know the whole story, right? Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu. Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we don’t always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain. Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
248
92
1
230
1,075
Aku kadang mikir, kenapa ya kalau ngomongin pernikahan, yang langsung kebayang sama banyak orang itu acara besar, dekorasi cantik, baju pengantin yang bagus, dan pesta yang meriah? Padahal, cara orang merayakan pernikahan kan beda-beda. Ada yang memang dari dulu pengen punya pesta besar, ada yang lebih nyaman mengadakan acara sederhana, dan ada juga yang pengennya cukup bersama keluarga terdekat. Menurutku, nggak ada yang salah dari semua pilihan itu. Kalau memang punya budget dan pengen merayakan pernikahan dengan meriah, ya silakan. Tapi kalau ada pasangan yang lebih memilih acara sederhana supaya uangnya bisa dipakai buat kebutuhan setelah menikah, itu juga bukan berarti mereka kurang bahagia atau kurang menghargai momen pernikahannya. Everyone has different priorities. Kadang tanpa sadar kita terlalu memikirkan bagaimana pernikahan kita nanti akan terlihat di mata orang lain. Takut dibilang kurang meriah, takut dibandingkan sama pernikahan teman, atau merasa acaranya harus bagus karena semua orang bakal melihat. Padahal, setelah acaranya selesai, kita sendiri yang akan menjalani kehidupan rumah tangga itu setiap hari. Buatku, justru penting banget buat pasangan ngobrolin soal ini dari awal. Bukan cuma mau menikah kapan atau acaranya seperti apa, tapi juga gimana cara mengatur uang, tempat tinggal setelah menikah, pekerjaan, dan kebutuhan sehari-hari. Hal-hal kayak gini mungkin nggak terlihat romantis, tapi they’ll matter a lot in the long run. Karena pesta pernikahan yang bagus memang bisa jadi kenangan yang indah, tapi kehidupan setelahnya juga perlu dipersiapkan. Jangan sampai kita terlalu sibuk membuat satu hari terlihat sempurna, sampai lupa memikirkan kebutuhan untuk bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Mau acaranya besar atau sederhana, yang penting keputusan itu memang sesuai keinginan bersama, bukan cuma karena tekanan dari orang lain.
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu. Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We don’t know the whole story, right? Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu. Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we don’t always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain. Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
136
55
128
1,079
Sekarang kalau buka media sosial, kayaknya gampang banget nemu cerita tentang perselingkuhan, perceraian, atau pasangan yang ternyata punya masalah besar dalam hubungan mereka. Baru lihat satu cerita, eh, muncul lagi cerita yang mirip. Lama-lama jadi kepikiran sendiri, sebenarnya masih ada nggak sih hubungan yang bener-bener sehat dan bisa dipercaya? Aku rasa wajar kalau akhirnya kita jadi lebih hati-hati soal hubungan. Apalagi kalau yang kita lihat setiap hari kebanyakan cerita yang berakhir menyakitkan. Tapi kalau dipikir-pikir, kita juga perlu ingat kalau cerita yang rame di media sosial biasanya memang punya sesuatu yang bikin orang tertarik buat ikut membahasnya. Sementara pasangan yang hubungannya baik-baik aja, saling menghargai, dan bisa menyelesaikan masalah bareng-bareng mungkin nggak punya alasan buat menceritakan kehidupan mereka ke publik. Not every good relationship gets posted online. Bukan berarti kita harus menutup mata sama kenyataan kalau memang ada hubungan yang nggak sehat. Justru kita bisa belajar dari cerita orang lain supaya lebih paham soal batasan, kepercayaan, dan hal-hal yang nggak boleh kita anggap sepele dalam hubungan. Tapi jangan sampai karena terlalu sering melihat kisah buruk orang lain, kita jadi menganggap semua orang bakal melakukan hal yang sama. Menurutku, ada bedanya antara belajar dari pengalaman orang lain dan membiarkan pengalaman mereka menentukan cara kita melihat semua hubungan. Kita boleh jadi lebih waspada tanpa harus terus-menerus curiga. Kita juga boleh punya keinginan buat menikah suatu hari nanti tanpa harus merasa semuanya pasti akan berakhir buruk. At the end of the day, kita memang nggak bisa menjamin hubungan kita bakal selalu berjalan sesuai harapan. Tapi setidaknya, kita bisa belajar mengenali karakter seseorang, memperhatikan cara dia memperlakukan kita, dan nggak mengabaikan hal-hal penting cuma karena sudah terlanjur sayang. Nggak perlu terlalu takut sampai menutup diri, tapi juga nggak perlu terlalu percaya sampai lupa menjaga diri sendiri.
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu. Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We don’t know the whole story, right? Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu. Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we don’t always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain. Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
252
96
229
1,099
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu. Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We don’t know the whole story, right? Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu. Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we don’t always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain. Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
221
83
1
208
6,325
baru bangun
1
117
𝓥 retweeted
when your trauma and anxiety hits you everytime you are alone
3
325
12
978
17,437
2
1,500
45
4,839
96,863
iy lg
Meu humor recente que ninguém sabe.
2
196
susah tidur bgt ak
1
3
229
percaya ada hadiah nantinyaaa tapi kapan nyakkkk
1
120
beneran udah selesai☺️🫰🏻
1
145
ak akan bertirakat😭😭😭
117
mati listrik bejirzzz
137
jbjb ak nanti ak jbjb balik
159
20 rb langkah ak jabanin🙂‍↔️
1
158
Replying to @haehb_
okh
18